Pencarian populer
USER STORY
13 Juni 2019 22:04 WIB
0
0

Kisah Pegiat Literasi di Kaki Gunung Salak, Kembangkan Budaya Baca

Berangkat dari terancamnya anak-anak di Desa Sukaluyu putus sekolah. Akibat tingkat partisipasi pendidikan 81% selevel SD, harus ada upaya serius yang dilakukan. Apalagi susahnya anak-anak usia sekolah di daerah itu mendapatkan akses buku bacaan. Berangkat dari realitas itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka berdiri di Kp.Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kaki Gn. Salak Bogor.

Adalah Syarifudin Yunus, lebih akrab dipanggil Syarif sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Masyarakat(TBM) Lentera Pustaka. Pria yang berprofesi sebagai Konsultan di DSS Consulting dan Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FBS Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) ini terjun sebagai pegiat literasi untuk meningkatkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah khususnya bagi masyarakat yang tidak mampu. Tujuannya untuk menekan angka putus sekokah, di samping membangun kebiasaan membaca anak-anak di tengah gempuran era digital.

Alumni UNJ Peraih UNJ Award 2017 bidang Pengabdian Masyatakat dan peraih Dosen Berprestasi Unindra Tahun 2009 ini bertekad menjadikan TBM Lentera Pustaka sebagai taman bacaan kreatif dan menyenangkan melalui konsep "TBM Edutainment", kegiatan membaca yang memadukan unsur edukatif dan entertainment. Ke depan, taman bacaannya berharap mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, selain sebagai "warisan" kepada umat yang akan ditinggalkan.

Sejak didirikan 2 tahun lalu, Syarif melalui TBM Lentera Pustaka fokus mengkampanyekan pentingnya membaca buku bagi anak-anak di tengah gempuran era digital. Karena membaca dianggapnya dapat menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Dengan bantuan donasi buku dari teman-temannya, kini TBM Lentera Pustaka telah memiliki koleksi lebih dari 3.000 buku bacaan yang siap dibaca sekitar 62 anak-anak pembaca aktif seminggu 3 kali (Rabu-Jumat-Minggu). Bahkan, sebagai realitasi teakd dan komitmenynya, saat ini setiap week end, dia selalu berada di Kaki Gunung Salak Bogor untuk mengajar anak-anak membaca dengan baik dan benar sekaligus memotivasi masyarakat demi tegaknya budaya literasi.

Alhasil, kini anak-anak di TBM Lentera Pustaka bisa membaca 5-10 buku per minggu. Bahkan tata kelola taman bacaan yang disajikan tergolong unik dan menyenangkan. Karenqa setiap bulan selalu ada event bulanan dan jajanan kampung gratis, senam literasi, salam literasi, doa literasi, dan membaca wajb bersuara. Itu semua dipilih Syarif untuk menjadikan membaca sebagai kegiatan yang tidak membosankan. Harus ada kreasi dalam membaca. Literasi yang menyenangkan, atas sebab itu acara Halo Indonesai DAAI TV menjadikan Syarif sebagai narasumber pada 8 Mei 2019 lalu.

Sebagai realisasi kecintaannya terhadap budaya literasi di Indonesia, Syarif menjadikan menulis sebagai gaya hidup. Setiap hari menulis, apapun yang ada dibenaknya selalu dituliskan. Dari awalnya tidak bisa menulis, namun ketekunannya menjadikan prinsip hidupnya bertumpa pada “scripta manent verba volant – yang tertulis akan abadi yang terucap akan hilang”. Maka ia menekankan pada budaya tulisan kemudia budaya lisan, bukan sebaliknya. Karena menurutnya, budaya literasi hanya bisa dimulai dari budaya membaca dan menulis, bukan budaya berbicara dan menyimak.

Dengan tekad budaya literasi yang melekat pada dirinya, kini Syarif telah melahirkan 25 buku seperti; 1) Jurnalistik Terapan(2010), 2) Bunga Rampai Problematika Bahasa Indonesia(Ed.-2010), 3)Kumpulan Puisi & Cerpen “Kata Anak Muda” (Ed.-2011), 4) Antologi Puisi “Perempuan Dimana Mereka?” (Ed.-2012), 5) Antologi Puisi “Potret Orang-Orang Metropolitan” (Ed.-2013), 6) Antologi 44 Cerpen “Surti Bukan Perempuan Metropolis”(Maret 2014), 7) Antologi 85 Cerpen “Kecupan Di Pintu Langit” (Mei 2014), 8) Antologi 70 Cerpen “Di Balik Jendela Kampus” (Juli 2014), 9) Kumpulan 30 Cukstaw Cerpen “Surti Tak Mau Gelap Mata”(November 2014), dan 10) Antologi Puisi Kritik Sosial “Tiada Kata Dusta Untuk Presiden” (November 2014), 11) Kompetensi Menulis Kreatif (April 2015), 12) Kumpulan Cerpen “Hati Yang Mencari Ibu” (Mei, 2015), 13) Kumpulan Cerpen “Bukan Senyuman Terakhiir” (April 2016), 14) Kumpulan Cerpen “Resonansi Cinta Yang Terbelah” (Mei 2016), 15) Kumpulan Artikel Ilmiah “Bahasa Di Panggung Politik; Antara Kasta dan Nista” (Desember 2016), Kenapa Kau Membenciku (2017), Cerita Bibir Di Atas Tangan (2017) Oasis Dari kampus (2017), Jangan Mencintai perempuan Biasa (2018), Noda Di Ruang Kelas (2018), Sentimen Bahasa Politik (2018), Politik Orang Susah (2018), Jakarta Di Atas Kertas (2019). Bahkan di tahun 2019 ini pula, akan ada tambahan 3 buku baru.

Tidak sekadar itu, Syarif pun masih sangat aktif menulis artikel opini di media cetak harian dan online, seperti: Bisnis Indonesia, Koran Jakarta, Media Indonesia, dan detik.com termasuk media warga yang ada di Indonesia.

Bekerja lebih dari 25 tahun sebagai Dosen dan aktif mengajar di beberapa kampus dengan spesialiasi bidang menulis, jurnalistik, penyuntingan, kehumasan, penelitian, dan bahasa dan sastra Indonesia ini pernah berkiprah sebagai Wartawan Majalah Forum Keadilan (1996) dan Mobil Indonesia (1998). Kebiasaan yang paling menonjol darinya adalah selalu menulis setiap hari. Karena baginya, hidup tanpa menulis berarti hampa.

Pegiat literasi di Kaki Gunung Salak, Syarifudin Yunus

Lahir di Jakarta, 15 Maret 1970. Syarif lahir sebagai anak seorang pensiunan tentara namun dibesarkan dalam nuansa toleransi dan kepedulian sosial yang tinggi. Dari seorang ayah keturunan Makassar dan Ibu berasal dari Sunda, anak sulung berbintang Pieces ini sangat getol terhadap gerakan sosial dalam membantu anak-anak yatim, para janda dan jompo, serta anak-anak yang terancam putus sekolah. Prinsip hidupnya sederhana saja, "apa adanya dan bukan ada apanya" sehingga hidup harus dijalani dengan penuh kewaspadaan dan tidak perlu terbuai oleh gaya hidup yang berlebihan.

Ayah dari Fahmi, Farid, dan Farah ini menghabiskan masa kecilnya di Jakarta, bersekolah di SDN Kenari 12 Salemba, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 216 Jakarta, dan SMA Negeri 30 Jakarta. Pendidikan tingginya dimulai dari S1- Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (1994) dari Universitas Negeri Jakarta (d/h IKIP Jakarta) dan S2 - Magister Pendidikan PascaSarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta (2006). Saat ini, beliau tengah melanjutkan studi S3 Program Doktor Manajemen Pendidikan di Pascasarjana Universitas Pakuan Bogor atas beasiswa dari Universitas Indraprasta PGRI tempatnya mengajar. Setelah mendapat persetujuan dari pembimbing akademik, sebagai pegiat literasi, ia bertekad meraih Doktor Manajemen Pendidikan bidang Tata Kelola Taman Bacaan dengan judul “PENINGKATAN MINAT BACA MASYARAKAT DAN BUDAYA LITERASI MELALUI MODEL TBM EDUTAINMENT PADA TAMAN BACAAN MASYARAKAT DI KABUPATEN BOGOR”.

Untuk karier professional, Syarif sesuai kuliah memulainya dari Staf Pengajar Program Keterampilan Komunikasi Sekretariat Negara RI (1994-1996), di samping sebagai dosen tetap di Unindra (d/h STKIP PGRI Jakarta). Setelah itu terjun ke dunia jurnalistik sebagai wartawan di Majalah Forum Keadilan (1996) dan Majalah Mobil Indonesia (1998). Sejak 1999, ia memulai sebagai praktisi asuransi jiwa sebagai Corporate Commnucation Supervisor di AJ Principal Indonesia dan berlanjut sebagai Corporate Communications Manajer di AJ Manulife Indonesia (2001-2006) dan Corporate Communication Manajer AIA Financial (2006-2011) yang bertanggung jawab dalam hal komunikasi internal dan eksternal perusahaan, media relations, marketing communications, di samping kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility). Karier profesional terakhirnya adalah AVP Sales Support & Training Employee Benefits AJ Manulife Indonesia (2012-2016). Dan kini, ia menekuni sebagai konsultan DSS Consulting, Dosen Unindra, dan Edukator Dana Pensiun.

Catatan prestasi dan pengalaman yang pernah diraih, antara lain: Dosen Berprestasi Universitas Indraprasta PGRI Jakarta (2009), Asia Communicator’s Conference di Hongkong (2002 & 2004), Pemenang ‘Relawan Sejati’ Manulife Indonesia (2002), Winner Citizenship Award-Star of Excellence Manulife Financial Asia di Hongkong (2003), meraih Gold Quill of Excellence Award – Crisis Communication Team dari International Association Business Communicator (2002), Inisiator & Presenter Corporate Social Responsibilty (CSR) Award 2005 – 3rd The Best Practise in Social Program, Inisiator & Pemenang Rekor Bisnis Award bidang CSR dari Harian SINDO & Tera Foundation (2010), Pemenang Marketing Dream Team Champion 2010 dari Majalah SWA & MarkPlus, dan Peraih Rekor Bisnis Award 2014 bidang Employee Benefits dari Koran Sindo & Tera Foundation (Mei 2014), Nara Sumber ASEAN Literary Festival – ALF 2016. Periah UNJ Award 2017 bidang Pengabdian Masyarakat Alumni. Berbagai aktivitas yang digelutinya, telah mengantarkan dirinya meneguk inspirasi dari 9 negara, seperti: Hongkong, Singapore, Malaysia, Thailand, Shanghai Cina, Perth Australia, Seoul Korea Selatan, Tokyo Jepang, Madinah-Mekah Saudi Arabia.

Aktif di organisasi seolah menjadi “nafas harian” seorang Syarifudin Yunus. Dia telah banyak “makan asam garam” di berbagai organisasi. Saat masih mahasiswa, ia aktif di organisasi sebagai Ketua HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (1990), Ketua Senat Mahasiswa FPBS IKIP Jakarta/UNJ (1991), dan Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Senat Mahasiswa IKIP Jakarta (1992). Kepedulian sosialnya dimulai pada saat menjadi Pengelola Komunitas Peduli Anak Yatim CARAKA MUDA YAJFA di Kreo, Cileungsi, dan Gn. Salak Bogor yang memiliki 34 anak yatim binaan, 5 janda, dan 4 jompo (1994-sekarang), Penggagas Komunitas Ranggon Sastra Unindra (2006-sekarang), Penggagas Klub Jurnalistik KJPost Unindra (2009-sekarang), Owner & Education Specialis Gema Didaktika (2006-sekarang), dan menjadi Juri Bilik Sastra Award VoI RRI dari 2013 hingga sekarang.

Saat ini pun masih aktif di berbagai organisasi, antara lain: Ketua IKA BINDO UNJ (sejak 2009- sekarang), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-2021), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020), dan Ketua Bidang Humas dan Pelayanan Konsumen Asosiasi DPLK Indonesia (2003-sekarang).

Bahkan sejak November 2018 lalu, Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka ini pun membuka program baru yang diberi nama GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) untuk mengajarkan baca-tulisa bagi kaum buta huruf di Desa Sukaluyu Kaki Gn. Salak Bogor.

Dengan mengusung motto #BacaBukanMaen, Syarif melalui TBM Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kaki Gunung Salak Kab. Bogor ingin mengingatkan pentingnya orang-orang dewasa dan para korporasi ikut peduli dan berkontribusi dalam menegakkan tradisi baca anak-anak sebagai antisipasi terhadap gempuran era digital yang kian masif.

“Karena taman bacaan, bukan hanya membangun tradisi baca anak-anak. Tapi kita sebagai orang dewasa harus berpikir untuk meninggalkan legacy atau warisan kepada sesama umat. Saya bertekad untuk menjadi Doktor bidang taman bacaan di Indonesia” ujar Syarifudin Yunus.

Harapan Syarif ke depan sederhana, ingin tetap konsisten sebagai pegiat literasi di Indonesia dan selalu sehat untuk ibadah dan menulis, menulis, menulis … #TGS #BudayaLiterasi #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60