Kolaborasi Dosen UNJ dan TBM, Siapkan Riset Pengembangan Kampung Wisata Literasi

Dosen Unindra - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) - Konsultan - Mhs S3 MP Unpak - Pendiri TBM Lentera Pustaka
Konten dari Pengguna
28 Januari 2022 19:47
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengembangan kampung wisata literasi berbasis riset dan pemberdayaan masyarakat tergolong belum banyak dilakukan. Sementara kebutuhan wisatawan akan produk wisata berbasis kearifan lokal pun terus meningkat. Untuk menjawab tantangan tersebut, tim dosen UNJ dan TBM Lentera Pustaka menjajaki kerjasama riset dan pengembangan kampung wisata literasi di Bogor (28/1/2022). Melalui konsep ini, nantinya masyarakat diharapkan mendapatkan alternatif liburan berbasis literasi yang berkualitas, menyenangkan dan tidak meninggalkan jejak pendidikan serta kearifan lokal.
ADVERTISEMENT
Penjajakan kampung wisata literasi dilakukan oleh tim dosen UNJ terdiri dari Hery Budiawan (Prodi Pendidikan Musik), Rahmat Darmawan dan Lala Siti Sahara (Prodi Perjalanan Wisata) sebagai wujud kontribusi kampus dalam penguatan gerakan literasi, di samping upaya pemberdayaan masyarakat di daerah prasejahtera. Diterima langsung Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka yang sekaligus alumni Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNJ, komitmen bersama akan diwujudkan dengan melakukan riset demografi dan potensi daerah Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Bogor. Agar menjadi landasan dalam penyusunan grand desain kampung wisata literasi.
Selain untuk meningkatkan kegemaran membaca anak-anak di tengah gempuran era digital, Kampung Wisata Literasi di Bogor ini pun akan melibatkan partisipasi masyarakat lokal dalam mengelola kampung wisata sehingga tercipta “ekonomi berbagi” (sharing economy) sehingga dapat menyejahterakan masyarakat secara nyata. Berbagai gagasan kampung wisata literasi yang didiskusikan tim dosen UNJ dan TBM Lentera Pustaka, antara lain: wisata zona baca, wisata tracking alam, wisata belajar berkebun, wisata belajar angklung, wisata adab, wisata kearifan lokal Sunda, dan wisata pendidikan yang memerdekakan dengan dilengkapi workshop dan home stay. Karena itu, studi penjajakan untuk pengembangan potensi wisata dan partisipasi masyarakat akan dilakukan terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
“TBM Lentera Pustaka sangat menyambut baik penjajakan tim dosen UNJ untuk mengembangan kampung wisata literasi di Desa Sukaluyu. Inilah kolaborasi yang diperlukan oleh taman bacaan dari kalangan kampus seperti UNJ. Agar ada solusi nyata atas "kebuntuan" masyarakat tentang cara untuk berdaya, secara ekonomi dan sosial. Minimal, jangan ada lagi anak putus sekolah” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lenytera Pustaka.
Kolaborasi Dosen UNJ dan TBM, Siapkan Riset Pengembangan Kampung Wisata Literasi (69529)
zoom-in-whitePerbesar
Dosen UNJ bersama Pendiri Taman Bacaan Lentera Pustaka Bogor
Harapannya, UNJ pun dapat menjadikan gagasan Kampung Wisata Literasi ini sebagai laboratorium pendidikan yang memerdekakan berbasis partisipasi masyarakat dan nilai-nilai kearifan lokal. Karena partisipasi masyarakat akan menjadi kunci sukses pemberdayaan masyarakat. Selain meningkatkan rasa memiliki (sense of ownership), kampung wisata literasi pun dapat memacu ekonomi kreatif dan pendidikan karakter anak-anak.
Sementara di luar sana, banyak kawasan wisata yang dilihat secara komersial. Sehingga masyarakat setempat ditinggalkan dan berakibat esensi partisipasi menjadi hilang. Maka pemberdayaan masyarakat pun gagal. Penjajakan melalui riset kampung wisata literasi itulah yang dikedepankan. Agar bisa dihasilkan desain wisata literasi yang berdaya dan kolaboratif. Karena itu basis pengembangan kampung wisata literasi akan bertumpu pada 4 landasan, yaitu: 1) apa yang dilihat (something to see), 2) apa yang dilakukan (something to do), 3) apa yang dibeli (something to buy), dan 4) apa yang dipelajari (something tio learn).
ADVERTISEMENT
Kampung wisata literasi ini, nantinya diharapkan dapat menjadi “jalan baru” menggerakkan budaya literasi masyarakat Indonesia sebagai penyeimbang anak-anak Indonesia yang hari ini rata-rata menghabisakan waktu minimal 4,5 jam sehari untuk bermain gawai. Agar gawai tidak dijadikan orang tua dalam hidupnya. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020