kumparan
14 Apr 2019 9:26 WIB

Merayakan Pesta Demokrasi saat Suhu Minus 1 Derajat Celsius di Berlin

Suasana proses pemilu di Berlin. Foto: Dok: Tania Natalin
Pemilihan Umum untuk Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia berlangsung di Lehrterstraße 68, Berlin, Jerman. Gerombolan manusia sudah terlihat dari luar. Terdengar banyak dari mereka yang bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. Sebuah hal yang cukup asing di Jerman ini.
ADVERTISEMENT
Tapi hari ini Berlin lebih dingin dari biasanya. Sebenarnya, April ini sudah memasuki musim semi. Tapi hari ini, cuaca di Berlin menunjukkan minus 1 derajat celsius! Padahal beberapa hari sebelumnya matahari sempat menampakkan wujudnya dan Berlin terasa lebih hangat.
Namun hari ini, 13 April 2019, semua orang terlihat memakai jaket dan beberapa di antaranya banyak yang menahan dingin serta terpaan angin. Begitu pula kami yang sengaja datang ke Berlin.
Kami sempat mencari-cari alamat ini lewat Google Maps karena sebenarnya terpisah dari kedutaan Indonesia, walaupun di jalan yang sama. Bagi WNI yang sudah mendaftar, mereka akan memasuki pintu pertama dan langsung menaruh tas dan barang bawaan lain. Mereka hanya diperbolehkan membawa paspor dan masuk ke pintu kedua.
ADVERTISEMENT
Di depan pintu, sudah ada dua pria bertubuh tegap yang memeriksa siapa pun yang masuk ke dalam. "Passport?" tanyanya. Dua pria ini jelas bukan orang Indonesia.
Saat datang dan ditanya data diri calon pemilih. Foto: Dok: Tania Natalin
Setelah pintu kedua, masuk lagi ke pintu ketiga. Di sini, kita diarahkan pada meja di sebelah kanan dan terlihat dua orang Indonesia yang duduk dan akan menanyakan data diri calon pemilih. Saya pun ditanya nama dan harus memperlihatkan paspor pribadi.
Di bagian ini, terlihat prosedur yang memerlukan waktu yang agak panjang. Saya misalnya, harus menunggu dan berdiri hingga petugas selesai melayani orang lain. Orang-orang ini datang dengan masalah yang berbeda-beda. Contohnya saja tidak punya surat A5 atau A6, atau juga belum mendaftar.
ADVERTISEMENT
Alhasil, banyak orang bergerombol di bagian ini hingga kadang menutup akses mereka yang ingin masuk ruangan. Setelah saya mendapat kertas berisi nama dan surat A5 yang sudah dicetak, saya menuju ke meja lain. Di meja kedua ini, nama saya ditandai dengan stabilo dan diberi kertas kecil untuk menunggu giliran.
Saya dipersilakan duduk dan menunggu dipanggil. Sekitar 10 menit kemudian, seorang pria memanggil nama saya dan diminta untuk mengeluarkan semua barang yang ada di kantong celana hingga baju.
Saat diberi kertas dan untuk menunggu giliran mencoblos. Foto: Dok: Tania Natalin
Saya diminta hanya membawa surat suara ke bilik suara, membuka kertas suara, lalu mencoblos sejurus kemudian. Kertas suara dimasukkan ke dalam kotak, lalu, seperti biasa, kelingking tangan harus dicelup tinta. "Tintanya harus kena kuku ya, Mbak," ucap si petugas.
ADVERTISEMENT
Total ada tiga Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Berlin ini. Yang datang pun beragam. Dari anak muda hingga separuh baya. Mereka semua terlihat antusias dan selepas memilih, ada juga tersaji beberapa makanan kecil untuk dinikmati.
Hingga pukul 17.00 waktu setempat, sepenglihatan saya masih saja terlihat banyak WNI berdatangan. Ternyata gerombolan WNI ini berharap akan surat suara sisa.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan