Konversi Kompor Gas LPG yang Tertunda

Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan UNINUS, Chemistry Teacher, Tinggal di Kota Moci
Konten dari Pengguna
2 Oktober 2022 17:21
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Tantan Hadian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto: Gas "Melon"(dok pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Gas "Melon"(dok pribadi)
ADVERTISEMENT
Saya masih ingat pada tahun 2007, munculnya kebijakan program pemerintah mengonversi kompor minyak tanah menjadi kompor gas LPG. Progam itu lebih dikhususkan untuk masyarakat menengah ke bawah.
ADVERTISEMENT
Berbagai polemik muncul, pro dan kontra diberlakukannya kebijakan ini terjadi di masyarakat. Sehingga akhirnya kebijakan ini bergulir, dan masyarakat lama-kelamaan mengikuti kebijakan itu, baik dengan sukarela maupun terpaksa.
Minyak tanah mulai menghilang dipasaran. Kalau pun ada, minyak tanah menjadi mahal dan sulit untuk mendapatkannya. Ya, strategi pasar memang begitu. Ketika penguasa dan pemilik modal berkehendak memainkan pasar, semua akan terjadi. Masyarakat sebagai objek, hanya bisa tepuk jidat dan geleng-geleng kepala.
Semenjak program itu digulirkan, maka “gas melon” mulai bermunculan. Kompor subsidi sebagai paketan gas melon mulai terdistribusikan kepelosok-pelosok negeri. Memasak menggunakan kompor berbahan bakar "gas melon" memang murah, lebih murah dari pada menggunakan kompor minyak tanah. Sekali lagi ya sangat wajar, karena para penguasa tengah bersekongkol untuk menggulirkan proyek mereka. Semua itu kan sangat bisa diatur.
ADVERTISEMENT
Bagi saya, itu sah-sah saja. Sepanjang masyarakat Indonesia menikmati dan menambah kemakmuran masyarakat kecil. Tidak peduli dengan seberapa besar keuntungan para penguasa dan pengusaha dari proyek ini, toh bagi saya mereka untung atau rugi tidak berarti apa-apa.
Peruntukan “gas melon” adalah untuk masyarakat menengah ke bawah. Para pedagang gorengan, martabak, cakue, dan pedagang-pedagang kecil lainnya yang menggunakan “gas melon” untuk memasak, untuk menyambung hidup dari berjualan memang cukup dirasakan manfaatnya. Keluarga kecil pemakai “gas melon” cukup terbantu kebutuhan memasak sehari-hari mereka. Terlepas dari keamanan penggunaan yang masih mengakibatkan seringnya terjadi kebakaran.
Nasib “gas melon” riwayatnya sudah mau berakhir. Pemerintahan Jokowi mulai tahun 2021 sudah mewacanakan untuk mengonversi kompor LPG menjadi kompor listrik(kompor induksi). Dalam dialog Indonesia Business Forum di TVOne pada Desember 2021, pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait sudah mengargumentasikan rencana pentingnya konversi kompor LPG ke kompor listrik atau kompor induksi.
ADVERTISEMENT
Argumentasi berlimpahnya cadangan energi listrik PLN yang tidak bisa dioptimalkan penyalurannya, menjadi salah satu argumentasi pemerintah untuk mencanangkan program konversi tersebut. Selain itu, pemerintah juga berargumen bahwa impor gas LPG dari luar yang mencapai 75 % sangat menyedot subsidi APBN pemerintah. Sehingga diharapkan dengan konversi ini bisa mengurangi ketergantungan impor LPG dan termanfaatkannya kelimpahan energi listrik yang ada.
Sekali lagi, saya tidak mempermasalahkan berbagai argumen tadi, biarkan nanti publik yang menakarnya, betul atau tidaknya. Toh, pada akhirnya tetap penguasa dan pengusaha nanti yang akan mendorong semua bisa dilaksanakan.
Yang menjadi sorotan saya adalah bagaimana nasib para pengguna, dan para pebisnis kecil-kecilan yang biasa menggunakan “gas melon”?, mungkin saya tidak akan mendengar lagi teriakan di pagi hari, “gaaas….gaaas…gaaas…!", atau saya tidak lagi melihat tentengan “gas melon” pedagang-pedagang gorengan di pinggir jalan. Tapi, ya sudah lah!
ADVERTISEMENT
Sebetulnya untuk siapakah kebijakan konversi ini? itu yang perlu masyarakat pertanyakan. Biarkanlah kenangan-kenangan manis bersama “si melon” terlupakan sendirinya dengan datangnya mesin masak nan cantik dan praktis. Biarkanlah para saudagar kaya berpesta pora menikmati hasil bisnis mereka, namun biarkan juga rakyat jelata diberikan secuil kesejahteraan dari hasil mereka. Bukan hanya sekedar nestapa, ratapan dan harapan, bak seekor kucing kelaparan menunggu diberi makanan oleh majikannya.
Jika program konversi ini sudah bergulir, maka yang harus pertama merasakan adalah masyarakat terdampak. Masyarakat diberikan kenyamanan dalam memakai, ketersediaan sumber energi PLN, dan ketersediaan perangkat-perangkat pendukung. Hal itu semua tidak boleh lagi dibebankan pada masyarakat kecil.
Keberpihakan PLN pada masyarakat kecil seharusnya betul-betul diperlihatkan, dengan konversi kompor LPG ke kompor listrik memerlukan daya listrik yang besar. PLN harus menggratiskan upgrade daya listrik sesuai dengan kebutuhan pelanggan, dan tentunya biaya bulanan pemakaian harus disubsidi, sehingga tidak menambah beban kepada masyarakat kecil.
ADVERTISEMENT
Bagaimana nasib para penjual gorengan dan kawan-kawannya di sudut dan pinggiran jalan? Regulasinya harus dipikirkan dengan matang. Apakah pemerintah akan mengubah "budaya renyah" keberadaan mereka yang menghiasi hiruk pikuk kota ini? atau pemerintah sudah punya rencana besar untuk menaikan level jualan mereka?
Tentunya bukan tugas saya yang harus jawab, biarkan para penguasa dan pengusaha untuk memikirkan mereka. Buat saya sudah bisa ngopi sambil menghitung pundi-pundi aja sudah cukup, wkwkwk.
Biarkan mereka beradaptasi dulu. Jangan sampai karena kebijakan ini mereka berhenti berjualan atau tidak dapat penghasilan untuk makan. Jangan pula penyuka gorengan seperti saya menjadi susah untuk mendapatkannya.
Kebijakan pemerintah untuk menunda dahulu program konversi ini adalah cukup tepat. Kedaan masyarakat yang masih terluka akibat pandemic covid19 harus disembuhkan dulu. Perlu waktu juga pemerintah untuk merumuskan dengan matang dalam mengantisipasi segala konsekwensi yang akan terjadi bagi masyarakat secara keseluruhan.
ADVERTISEMENT
Sekali lagi, jika nanti konversi ini diberlakukan, yang harus sama-sama dikawal adalah jangan sampai terjadi kongkalingkong pengusaha, penguasa dan segolongan masyarakat tertentu. Jangan sampai masyarakat yang bukan prioritas pengguna konversi ini malahan menjadi prioritas.
Sehatnya APBN adalah penting, ketidakbergantungan pemerintah terhadap impor juga penting, kenyangnya pengusaha dan penguasa juga penting, namun yang lebih penting adalah berikan secuil kesejahteraan bagi para kucing yang sedang kelaparan yang menunggu majikannya ngasih makan.
Saya sepakat dengan rencana konversi ini, apalagi dihubungkan dengan isu lingkungan global. Mengurangi bahan bakar yang bisa menaikan emisi gas rumah kaca adalah langkah yang sangat bijak. Betul ga ya…? Katanya sumber energi listrik masih didominasi oleh energi batubara. Kalau betul begitu ga jadi deh saya sepakatnya, wkwkwk.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020