kumparan
20 Maret 2019 12:55

Tragedi Christchurch: Doa dan Sikap Selandia Baru

Mongrel Mob, Hagley College, penembakan Christchurch
Pelukan sebagai dukungan dan penghormatan dari anggota geng motor di Selandia Baru, Mongrel Mob (bertopi merah), untuk umat Islam dan para keluarga korban tragedi Christchurch. Foto: AFP/MICHAEL BRADLEY
Penembakan di Christchurch masih menimbulkan kesedihan mendalam dan kemarahan seluruh warga Selandia Baru. Perasaan itu mereka tumpahkan bukan dalam bentuk ajakan kebencian, tapi seruan untuk saling menyayangi.
ADVERTISEMENT
Hari Minggu lalu, hampir 12.000 warga Wellington dari berbagai agama dan ras memenuhi sebuah lapangan untuk bersama-sama berdoa untuk kedamaian mereka yang telah menjadi korban, dan ketabahan mereka yang ditinggalkan.
Jumat besok, warga Wellington kembali akan berkumpul untuk memperingati seminggu aksi teror tersebut di mana yang perempuan diharapkan untuk mengenakan tutup kepala seperti hijab sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam.
PM Jacinda Ardern yang merupakan pemimpin dunia termuda (38 tahun), awalnya dianggap tidak berpengalaman menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang berani dan berempati. Dalam waktu yang cepat ia mengumumkan ke dunia penembakan brutal di Christchursch tersebut sebagai Aksi Terorisme. Hal yang tidak dilakukan oleh pemimpin dunia manapun ketika di negerinya terjadi aksi brutal yang memakan korban umat Islam.
ADVERTISEMENT
Sehari setelah penembakan, ia langsung terbang ke Christchurch menemui para korban dan keluarganya untuk menunjukkan simpati dan perhatiannya sebagai kepala pemerintahan. Dia peluk keluarga korban dan bisikkan agar tenang dan tabah, pemerintahannya akan bergerak cepat untuk memastikan semuanya akan kembali normal. Dia pun memberikan jaminan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Ketika Presiden Trump menelponnya dan bertanya apa yang Amerika bisa lakukan, dia jawab "Ramahlah kepada umat Islam". Tak berapa lama Trump bikin tweet "I love New Zealand".
Penembakan Masjid di Christchurch, Selandia Baru, Duka
Warga meletakkan bunga di depan Masjid Wellington, Kilbirnie, Wellington, Selandia Baru. Foto: Antara/Ramadian Bachtiar
Pasca-kejadian, suasana di Selandia Baru berangsur normal meski tetap ada rasa khawatir dan sedih. Tidak ada hoaks, tidak ada orang serta kelompok yang mempolitisir keadaan untuk kepentingan tertentu. Tidak ada pula yang memaki-maki dan demo untuk melampiaskan kemarahan. Semuanya mendengarkan dan turut ke pemerintah karena mereka tahu Pemerintah akan membuat perhitungan ke teroris dengan caranya sendiri.
ADVERTISEMENT
Tantowi Yahya, Dubes RI untuk Selandia Baru
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan