kumparan
13 November 2019 19:07

Puritanisme Harvard

Harvard University
Harvard University Foto: Commons Wikimedia
Sebagaimana Oxford, Harvard juga bermula dari pendidikan keagamaan sebagaimana Pondok Pesantren di Indonesia yang berasrama yang isinya sekolah laki-laki.
ADVERTISEMENT
Corak keagamaan yang dibawa migran Inggris di daerah Boston ini, Puritan alias pemurnian. Jika kini di tanah air, semangat Puritanisme dianggap setali dengan radikalisme.
Hal ini tentu perlu diluruskan agar puritan progresif sehingga tak semata berkutat di aspirasi namun menjadi inspirasi.
Corak puritanisme Harvard mengingatkan saya pada disertasi Nurcholish Madjid tentang pemikiran Ibnu Taimiyah, salah satu tokoh sentral Puritanisme Islam.
Pandangan Ibnu Taimiyah yang bercorak positivisme, disitir Cak Nur yang kurang lebih, "Kebenaran ada dalam kenyataan, bukan dalam pikiran", Al-haqieqah fi al-'ayan la fi al-adhan. Pesannya jelas, positivisme Saintek dan tak berkutat di filsafat spekulatif.
Semangat puritan Ibnu Taimiyah yang positivistik awalnya banyak mengilhami gerakan Muhammadiyah, di samping modernisme Muhammad Abduh.
ADVERTISEMENT
Sebagaimana Puritanisme awal di Harvard yang menekankan pentingnya 2 hal, yaitu Agama dan Pendidikan. Gerakan keagamaan puritan dari Harvard melahirkan pribadi yang religius sekaligus progresif.
Ada sedikit kemiripan dengan Muhammadiyah yang puritan dalam beragama (fiqih dan teologi) dan progresif dalam gerakan lewat modernisasi pendidikan Islam dengan mengadopsi pendidikan Belanda (Barat) sehingga melahirkan ribuan sekolah dan universitas.
Sekalipun masih belum seperti standar Harvard University namun semangat dan perkembangannya sudah semakin baik dan menginspirasi.
Puritan dalam teologi dan fiqih dengan tetap progresif merespon tantangan mutakhir sehingga terus relevan dengan semangat zaman sebagaimana Harvard yang awalnya hanya laki-laki secara bertahap menerima mahasiswa perempuan.
Yang awalnya orientasi akhirat secara letterlijk menjadi ikhtiar berkinerja terbaik untuk kemanusiaan (amal shalih) sebagai investasi di dunia untuk hasil akhirat.
ADVERTISEMENT
Itulah interpretasi puritan dan progresif yang percaya dengan meritokrasi, di mana setiap individu bergantung ikhtiar dan kinerjanya (amal shalih), bukan keturunan dan identitasnya
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan