Opini & Cerita14 September 2020 10:18

Benang Merah Ada Tiada

Konten kiriman user
Benang Merah Ada Tiada (784335)
Esai. Photography by Tasch 2020 kumparan
Membaca hati tak semudah melihat cinta di mata kekasih. Langkah, menuju pada waktu hidup sehari-hari, makna-makna dalam niskala langit cita-cita, ada dalam misteri, ada di antaranya, ada pula pada kehendak meraih hal terbaik, benar, meski kadang-kadang saja menjadi kisah-kasih tak sampai-alami.
ADVERTISEMENT
Sekalipun pada tujuan maupun atas kehendak ranah cita-cita. Moralitas normal kecewa pada harapan, kadang-kadang pula pada keniscayaan sebuah kisah, lantas bagai takdir, seolah-olah telah terlanjur tertulis di waktu berlari, mungkin pula di antaranya, takdir, akan hadir oleh sebab-akibat.
Fatamorgana, perasaan kasih pada harapan tercinta, ketika, buah hati menjadi tak sama seperti harapan, perasaan serupa, ada di banyak kehidupan. Salahkah, ketika cinta, harapan, keinginan dinyatakan atau dipendam dalam pernyataan jiwa di tubuh? Meski, ada rasa ingin menyapa atau segera memberi kenangan pada cinta-terkasih?
Surealisme, menjadi abstraksi, bisa pula menjadi berkat di kancah realisme, bisa juga tidak. Hal itu bisa terjadi pada siapa saja di mana pun, di awal mula kehidupan, di sana, mungkin, bersembunyi pada awal persemaian ruh surgawi menjadi hidup, tak bernama menjadi bernama, batang tubuh tak bernyawa menjadi bernyawa, menjadi pergerakan-esensial, tercipta tekno, sains selengkapnya bersama sosio humanis-bergulir bagai bola salju, mungkin pula bagai bola api, tak satupun tahu, rencana alami.
ADVERTISEMENT
Apakah esok akan hujan, badai atau akan ada berkat dari langit? Bahagia, semua jiwa secerah bunga berembun kerlap-kerlip diterpa mentari, cinta, kasih sayang-indah nian.
Mungkin, tak ada hal ihwal merugikan kehidupan, samar terawang, kadang terang, kadang temaram, melihat simbol salah atau benar, membandingkan samudera dengan langit, membandingkan batu dengan kayu, membandingkan karang dengan batu geranit, membandingkan bayang-bayang dengan siluet berbagai bentuk tercahaya dari tangan mungil, di kelambu peraduan sebelum tidur, dolanan masa kecil dalam imaji hening, bening.
Detik waktu menulis lompatan angan dalam prosa indah kisah-kisah, mungkin, analogi, opini-opini, maka simbol menjadi ada, berkesinambungan saling memberi sejarah, meski kadang-kadang seperti merugikan di satu sisi, menguntungkan di sisi sebaliknya, bolak balik, bagai mengurai diksi estetika susastra.
ADVERTISEMENT
Skala waktu, tertera, di langit cuaca. Tak ada sejarah berdiri sendiri di rentang zaman. Tak ada sejarah bergulir meninggalkan takdir pengikatnya. Bersyukur, hingga hari ini. Kehidupan masih melihat benda-benda angkasa, sama-sebangun, sejak berabad tercipta, bulan, bintang-bintang, matahari, komet, langit siang atau pun langit malam. Salam bahagia Indonesia Keren-Negeri, para sahabat.
Jakarta Indonesia, September 14, 2020.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white