Opini & Cerita
·
29 Agustus 2020 11:57

Cerpen: Bunda Jangan ke Surga

Konten ini diproduksi oleh Taufan S. Chandranegara
Cerpen: Bunda Jangan ke Surga (65051)
Ilustrasi Surga Foto: Pixabay
Rom, mengganti baju seragam sekolahnya dengan baju rumah sehari-hari, segera menjemur seragamnya untuk dipakai lagi esoknya.
ADVERTISEMENT
Dua hari sekali Rom, mengganti seragam sekolah, menghemat ongkos membeli sabun cuci, keperluan sehari-hari keluarga termasuk juga ongkos ke sekolah.
Rom, menghemat ongkos atas kehendaknya sendiri, membantu tambahan uang sekolahnya. Rom, selalu berangkat lebih awal, jalan kaki sejauh lima kilometer menuju sekolah.
Ayah Rom, pekerja harian lepas, langganan kantor kontraktor perumahan rakyat milik pemerintah. Bunda Rom, mengidap penyakit asma akut, sangat mengganggu kesehatannya senantiasa berobat ke Puskemas terdekat.
Keluarga Rom, mendapat bantuan asuransi kesehatan dari pemerintah bagi warga kurang mampu. Rom, bertekad berhemat ingin sekolah tinggi mendapat beasiswa pelajar tingkat daerah saja, jika memungkinkan ia pasti bersyukur.
Sepulang sekolah dua kakak Rom bekerja, Ram si sulung kerja di agen toko kelontong Pak Tan, membantu barang antaran pesanan ke warung-warung. Rim, kakak nomor dua bekerja serabutan di toko obat, Pak Jul. Keduanya bekerja hingga pukul 21.30 WIB.
ADVERTISEMENT
“Kalian ananda bunda, bekal terpenting dihidup ini kejujuran. Jangan mengambil hak orang lain.” Bunda, selalu mengingatkan hal itu pada ketiga anak lelakinya.
***
Rom, duduk di kelas lima sekolah dasar, berlari keluar kelas dari sekolah menuju ke rumahnya secepat-cepatnya, lupa pamit pada guru di sekolahnya, panik bukan kepalang mendapat berita itu, ia menahan seluruh perasaannya, ia terus berlari secepat-cepatnya.
Pak guru Sutan, segera menyusul Rom dengan sepeda kesayangannya, dikayuh secepatnya menuju Rom. Dari kejauhan terlihat Rom berlari secepat kilat seperti orang kesetanan.
“Rom! Tunggu! Sabar nak!” Teriak pak Sutan sekeras suaranya. Pak Sutan hampir berhasil menyusul Rom. Dikayuh sepedanya lebih kuat, lebih cepat. Menyusul rom.
“Stop Rom. Stop! Ayo! Bapak antar naik sepeda.” Rom terus berlari. Pak Sutan menaruh begitu saja sepedanya di jalan desa, mengejar Rom.
ADVERTISEMENT
“Stop! Anakku! Stop!” Pak Sutan berhasil menangkap Rom, keduanya terengah-engah nyaris kehabisan napas. Pak Sutan memeluk Rom erat-erat.
Sabarkan hatimu.” Suara pak Sutan tersengal-sengal.
***
Dua kakak Rom, Berlari cepat keluar sekolah masing-masing melesat secepat badai menempuh hari, sekuat-kuatnya, menuju rumah mereka, Ram bersekolah di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas sedangakan Rim di Sekolah Menengah Kejuruan.
Ram juara lari seratus meter tingkat SLTA, Rim ketua pendaki gunung sekolahnya. Keduanya berlari secepat kilat. Juga lupa pamit pada guru sekolah, setelah menerima kabar dari kepala sekolah masing-masing.
Pak Tarno kepala sekolah SMK, berinisiatif menyusul Rim, dengan sepeda motor tuanya. Pak Tarno. berhasil menyusul Rim.
“Naik motor biar lebih cepat. Ayo! Lompat!” Rim melompat ke motor pak Tarno dengan napas terengah-engah, jantungnya balapan dengan pikirannya.
ADVERTISEMENT
Begitu pula dengan Ram, berhasil disusul oleh motor bebek tua pak Siswo, guru olah raga Ram “Ayo lompat pemuda! Agar cepat sampai ke tujuan.”
Ayah Rom tiba di rumah, bunda telah dibawa ambulans bersama beberapa warga dikawal bapak Rukun Tetangga. Bapak Rukun Warga bersama beberapa warga, sengaja menunggu ayah Rom pulang, pak RW, bersedia mengantar ayah Rom menyusul ke Rumah Sakit Umum.
“Maaf Pak Bujang. Kami cepat mendatangkan ambulans, tanpa izin bapak. Kondisi ibu wajib segera ditolong.” Suara pak RW tersekat singkat.
Rom tiba di rumah setelah ayah, napasnya masih tersengal-sengal, perasaannya mengharu biru, ia tidak boleh menangis, itupun pesan ibundanya, jika bunda suatu ketika pergi ke surga. Ayah, memeluk Rom.
ADVERTISEMENT
“Ayo, kita menyusul bunda ke rumah sakit.” Bisik ayah pada Rom.
“Bunda tidak boleh pergi ke surga ayah. Rom sudah bilang pada Bunda mau jadi tentara.” Suara Rom di antara lirih kesedihan di sunyi hatinya terasa kini.
Tak lama dua kakak Rom datang. Meski amat gelisah, juga panik, kesedihan di benak, mereka, wajib terlihat lebih tenang di depan adiknya. Rom berlari pada kedua kakaknya, memeluk keduanya. Semuanya berangkat menuju RSU.
***
Waktu berjalan sebagaimana mestinya, siang atau malam berlabuh di persinggahan waktu di ketentuan-Nya. Tak ada hasil dari kerja ringan. Semua hasil dari kerja keras ataupun berat dibanding kejujuran nurani di keyakinan teguh.
Kebahagiaan, cinta, kasih sayang, keberhasilan hidup tidak pada tolok ukur seberapa besar materi bisa didapat dengan cara kurang pantas.
ADVERTISEMENT
Tapi seberapa besar pengabdian ayah bersama bunda, telah membesarkan, menjaga, mendidik ananda mereka, bersama guru-guru dengan kitab keikhlasan di lingkup pelukan langit alam raya.
Segala suka maupun duka tak sekadar menjadi kenangan kaleidoskop ranah waktu, justru menjadi kebulatan keimanan pada kesadaran hak atas kewajiban menyehatkan jasmani, rohani diri untuk sesama.
***
Rom, setelah menerima medali penghargaan pengabdian tertinggi dari ketentaraan langsung ke makam ibunda. Ayah terlihat berdampingan dengan Rom. Di sana telah menunggu keluarga Pilot Ram, juga pendaki gunung profesional Rim. Rom menduda setelah istrinya tertembak di medan tugas.
Jakarta Indonesia, August 29, 2020.