Cerpen: Karnivor

Konten dari Pengguna
14 Juni 2020 9:51
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Taufan S. Chandranegara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cerpen: Karnivor (194632)
searchPerbesar
Cerpen. Image by Tasch 2020 kumparan
Ada keharuan ketika lelaki bernama Dormar itu akan meninggalkan makam ibunya. Setelah berjalan beberapa langkah, dia kembali, menyirami pusara ibunya dengan air mineral dari botol, di genggamannya. Sekilas lelaki itu seperti menyimpan rasa bersalah di sukma terdalam.
ADVERTISEMENT
“Untuk Ibu. Juga untukku.” Ada kasih sayang bernapas di jiwanya. Dormar, memandangi pusara, mengambil segenggam tanah, di taburkan kembali ke pusara itu.
“Aku berjanji Ibu. Ini terakhir kali, aku melakukan pekerjaan tak kau restui. Aku berjanji sungguh-sungguh.” Dia mundur beberapa depa, dari pusara itu. Matahari sore tenggelam bersama suara dari rumah-rumah ibadah.
“Aku pun lelah, Ibu,” gumam Dormar, segera berangkat menuju tugas terakhir, entah demi apa untuk siapa.
***
Senjata serta kelengkapannya melekat di tubuh Dormar, tegap, berjaket biru tua, bercelana hitam, berhelm hitam, motor sport biru tua berkecepatan tinggi. Lintasan malam, Super Megalopolis City, dengan cepat dia melesat menuju sasaran.
Esoknya, media khalayak memberitakan penembakan misterius untuk sosok pelaku kejahatan tingkat tinggi, sekaligus, pelaku santet manipulasi profesional, tas jinjing berisi laptop teknologi terkini, di dekat sosok mayat korban, di depan sebuah kantor super kontemporer tercanggih.
ADVERTISEMENT
Setelah berita tersebar luas. Pihak keamanan, melakukan penyelidikan dengan seksama. Tetap, hanya bertemu jalan buntu. Siapa sesungguhnya penembak super misterius itu.
Para kolega terkait sosok korban itu, terguncang, gelisah, ketakutan. Mereka saling berkomunikasi dengan cara apa saja, untuk mengetahui, apakah nyawa mereka juga terancam. Kegelisahan di antara kolega terus memuncak. Peristiwa penembakan macam itu, telah kesekian kalinya terjadi, secara tetap.
Seluruh media, sibuk menyiarkan wawancara, berbagai narasumber, dari ahli forensik hingga pakar multimetafisika, bahkan seorang pakar metafisika lulusan benua lain, dihadirkan media setempat, wawancara berlangsung, berbahasa asing. Kira-kira begini isi dari wawancara di teve kontemporer tersebut.
“Kematian itu. Karena orang tua korban, salah memberi nama”, lanjut pakar multimetafisika itu.
ADVERTISEMENT
“Ini, analisis mendekati pasti, dilihat dari tanggal lahir sosok korban”, pakar itu diam sejenak, seperti tengah berpikir serius-imajinatif. Terlihat di layar kaca, pakar itu, mengetukan telunjuknya ke meja tiga kali, lalu mengarahkan pandangan pada pewawancara di depannya.
“Begini ya. Pengaruh bumi serta seluruh planet-planet terkait, ketika peristiwa penembakan itu terjadi, sedang tidak pada kumparan waktu ter-tepat. Secara zodiak, sangat mempengaruhi keseimbangan aura pada diri si korban saat itu”, pewawancara, tersenyum menawan.
“Oh! Begitu. Anda pakar di bidang itu. Dapatkah menjelaskan lebih rinci?” Sedikit mendesak, menekan.
“Begini ya. Saya harus melakukan tinjauan penelitian sains lebih lanjut secara spiritual-supranatural. Tentu off the record, karena, ada hal-hal supranatural, tak seluruhnya boleh diketahui khalayak”, lantas pewawancara memotong cepat.
ADVERTISEMENT
“Loh. Kok begitu ya…” Pakar cekatan memotong lebih cepat, memberi isyarat agar kamera mendekat. Mendadak layar kaca itu gelap gulita.
Tak lama lampu seisi Super Megalopolis City, padam. Pihak keamanan memberi pengumuman lewat pengeras suara, mengelilingi Super Megalopolis City, menggunakan beberapa helikopter dilengkapi sistem pantau tercanggih.
“Pengumuman. Harap tenang. Tidak panik. Perusahaan listrik mendadak, mengalami, kerusakan total dari gardu induk Utara, Selatan, Barat juga Timur. Khalayak, dimohon tidak keluar rumah sementara sedang gelap gulita.” Peristiwa berlalu di waktu dengan cepat.
***
Penyidikan, penelitian, rasio, astimasi, fakta kontra data indikasi bersilang atau sebaliknya terus bergulir, namun tak ada sedikitpun info kepada khalayak tentang perkembangan kasus penembakan itu. Seisi Super Megalopolis City, baik-baik saja. Tenang-tenang saja, meski hampir sering dikejutkan peristiwa listrik padam mendadak.
ADVERTISEMENT
Lagi, peristiwa penembakan misterius terjadi. Masing-masing dengan tiga peluru. Satu di kepala. Satu tepat di bagian khusus korban. Satu tepat di jantung. Peristiwa rutin menjadi berita utama berbagai media. Lagi, para pakar berpendapat, mengeluarkan pernyataan hampir mirip saat lalu, dengan istilah-istilah tak jauh berbeda, serupa tapi agak sedikit tak sama, namun, tak sedikitpun mengundang perhatian ranah khalayak.
***
Kasus penembakan misterius itu mengundang perhatian para pembela penegakkan keadilan. Namun, pihak keluarga korban menolak. Jenazah masing-masing korban segera dikebumikan setelah otopsi lengkap pihak berwenang, bahkan keluarga meminta pihak keamanan, tidak, melakukan penyidikan lanjutan dalam bentuk apa pun, akan tetapi pihak keamanan Super Megalopolis City, berkewajiban menegakkan fakta keadilan. Informasi, lengkap, kepada khalayak dengan benar sejujur-jujurnya.
ADVERTISEMENT
Pihak keamanan tetap menggelar fakta pada khalayak, terbuka luas tanpa ada rekayasa apa pun. Meski, tetap hanya menemukan jalan buntu, siapa, penembak super misterius itu. Khalayak tetap konsisten, tak terpengaruh sedikitpun oleh kejadian itu. Bekerja seperti biasa. Libur seperti biasa. Rekreasi seperti biasa. Sekolah-kuliah seperti biasa.
***
Dormar, telah sejak lama mengubur semua peralatan pemburunya, senjata, belati, tombak, panah, lengkap, serta lain-lain peralatan berkaitan dengan perburuan. Dia menepati janji pada ibunya.
“Masa lalu, telah terkubur. Maafkan aku Ibu”, suara Dormar berat, bagai tertekan beban entah apa, seusai Dormar, senantiasa ber-ziarah ke pusara Ibundanya. Dia menangis terisak-isak. Meraung sejadi-jadinya, berteriak sekeras-kerasnya, di tengah ladang tebu milik pabrik gula, tak jauh dari rumahnya.
ADVERTISEMENT
Dormar anak tunggal. Ayahnya mati gantung diri di penjara, malu berprofesi palsu bermoral palsu, telah merugikan hak-hak khalayak, bahkan pacar gelapnya ikut mati bunuh diri.
Dormar, membiayai pengobatan ibunya selama menderita penyakit kronis. Ibu, amat dihormati sepenuh kasih sayangnya, meski akhirnya wafat jua.
***
Telah sekian lama, sejak Dormar, mengubur semua senjata, alat-alat berburu. Kematian misterius-konsisten, terus berlangsung, korban mati satu persatu.
Lagi, empat mayat, mengapung di sungai, diduga berperilaku sama, lagi, ditemukan bersama barang bukti, empat laptop berikut perangkat santet manipulasi profesional, berceceran di sekitar sungai di batas Super Megalopolis City. Penyidik tetap bertemu jalan buntu. Sulit menguak, siapa penembak misterius itu.
Pihak keamanan, terus menerus mendapat info, ditemukan mayat-mayat di duga para korban berperilaku sama, plus barang bukti, perangkat teknologi langsung ke satelit, mutakhir. Dormar, bagai menghilang di telan bumi.
ADVERTISEMENT
Jakarta Indonesia, June 13 2020
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020