Cerpen: Menembak Sang Iblis

Konten dari Pengguna
15 Juli 2020 9:47
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Taufan S. Chandranegara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cerpen: Menembak Sang Iblis (51334)
searchPerbesar
Cerpen. Image by Tasch 2020 kumparan
Akhirnya, ia berani menembak kepalanya, pecah berkeping-keping, remuk redam hancur lebur jadi bubur, ia melihat jasadnya bersimbah darah, mendidih seperti magma, mengejar jasadnya sendiri berlarian kian kemari dikejar oleh darah mendidih bak magma itu, ia berteriak-teriak minta tolong, namun seperti berteriak di ruang hampa, hanya gema entah suara siapa, seperti mengaum, menghardik, akan meledakan ruhnya tengah menyaksikan kejadian kejar-kejaran itu.
ADVERTISEMENT
Ruhnya, menangis, bersimpuh memohon ampunan kepada siapa saja, tak terkecuali, kepada ubur-ubur, kepada hiu di lautan, kepada mastodon pemakan bangkai beterbangan di udara, mengancam ruhnya, ia memohon dengan berbagai mantra carangan tak terpahami sekalipun oleh dirinya sendiri. Suara-suara mengaum semakin membahana, keseluruh pelosok manapun hingga ke lubang semut seluas lingkar rambut.
Bahkan ketika ia akan mengucapkan nama tuhannya, ia lupa, sebab begitu banyak berhala menjadi susuk di tubuhnya, ia menyembah kuburan apa saja hingga kuburan anjing sekalipun, ia sungguh tak paham mengapa ruhnya tak bercahaya seperti kisah dalam film pernah di tontonnya, padahal ketika menonton tokoh-tokoh di film itu, mati dengan ruh menyala bercahaya suci, seperti keinginan cita-cita utamanya.
ADVERTISEMENT
Namun, kini, diluar sangkanya, kalau akhir dari ruhnya akan berakhir seburuk nian seperti ini. ‘Sumpah mati deh’, ia tak memahami hal menjadi seperti itu, bahkan ruhnya kesal melihat jasadnya terus dikejar oleh darah tengah menggelegak didih bak bara magma menyala, membakar apapun, menjadikan api apapun telah dilalui jasadnya berikut kepalanya telah hancur bersama otaknya tetap ikut berlarian kian kemari pula.
Ruhnya lelah melihat kejadian itu, namun ia tak memiliki kuasa usaha untuk menyelamatkan jasadnya, ia ingin menangis, ia ingin melolong-lolong bagai serigala di bawah rembulan penuh, namun hal itu tak jua mampu ia lakukan, ruhnya bagai pula ikut mati, bersama cita-citanya untuk menjadi tokoh bermanfaat bagi sesama, dengan cara apapun, tak peduli, terpenting sukses, meski terlihat bak koboi jalanan mengancam dengan pistol plastik dari mulut sang pengecut di hatinya, hanya berani menindas sesama lebih lemah lebih kecil, seakan-akan hidup hanya miliknya, seolah-olah tuhan tak ada bagi dirinya. Hanya berhala material lah baginya adalah tuhannya, hanya itu, ia ingat, kesombongan sebagai pemilik senjata, oral sekalipun, semasa hidup.
ADVERTISEMENT
“Bodoh nian aku ini”, kalimat itu meluncur begitu saja dari ruhnya.
Kinipun ia tak percaya, agak ragu-ragu. Apakah benar ia telah menembak kepalanya sendiri dengan berani, meski dirinya terkencing-kencing sebelum mati, atau hanya ‘lifestyle’ saja, selayaknya kaum penggertak pengguna teror kata-kata, meski sesungguhnya melemahkan diri sendiri, hanya, jadi pejantan sesaat di tengah kelompok bertaring palsu, pengecut kelas satu di era rovolusi beradab, sedih ia kini, melihat sang ruh sendiri tetap gelap gulita tak bercahaya, tanpa pelita hati secercahpun, sepanjang hayat ketika ia hidup tempo lalu, akh…
Menyesal kini ia tak guna lagi, nasi telah jadi pangsit goreng, hambar tanpa bumbu penyedap alami, disadari ataupun tidak ia telah menjadi pengikut sang iblis. Sesal itu, tak menjadi bekal untuk membuat ruhnya bercahaya, hanya suara sang iblis sepanjang hayatnya telah menjadi tuhannya.
ADVERTISEMENT
“Aku menyesal…” Suara ruhnya.
Bodok amat…” Suara si iblis.
Jakarta Indonesia, July 14, 2020.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020