kumparan
15 Agu 2019 13:41 WIB

Cerpen: Paradoksal Anonim

Cerpen: Paradoksal Anonim. Taufan S. Chandranegara. Dok Foto: Tasch 2019-Kumparan.
Risalah berbagai jenis makhluk hidup menggema di angkasa dalam kronik zaman berlari. Para makhluk, konon, akan saling memberi manfaat. Ketika benih tumbuh menjadi kewajiban.
ADVERTISEMENT
Ada perasaan merasa kehilangan atau pun perasaan demi kemaslahatan. Kedua perasaan itu, semacam niskala notasi orkes simfoni.
Mungkin pula, semacam setara perasaan, sesuatu telah dicuri di waktu berpanjang hari. Berkelit jungkir balik profil parodi huruf kapital dalam angka-angka, kurung buka-huruf kecil-kurung tutup, tak sebanding titik koma.
Di antara para makhluk, ada, kehilangan teramat sangat, enggan berkata-kata tentang hal kehilangan itu. Mungkin saja, beranggapan tak guna mengungkapkan, tak kenal maka tak sayang. Saat mencari hal entah apa, kehilangan itu. Hanya akan menuai titik-titik bagai frasa pena menulis tanpa tinta, di tengah frekuensi alibi filosofis.
Sekadar terlihat ketika benih tumbuh lagi, seperti ketika segala hal-benih pernah ada, lantas hilang, lantas tumbuh. Lalu, seakan-akan telah kembali seperti sedia kala.
ADVERTISEMENT
Serupa tapi tak sama hal ihwal, membuat sedikit, meletupkan kegembiraan. Di antara bunyi alat musik menuju oase berkala, di antara hipokrisi-hipnotisme fatamorgana. Pemanis madu, imitasi.
Kerinduan orkestrasi alunan simfoni estetis, lama tak bersua. Meski hal estetis, kadang samar-samar terlihat, kadang-kadang tak diperlukan. Dibuang sayang, tak dibuang membuat gangguan mabuk kepayang bagi suatu langkah pembuat kesalahan, di antara hakikat kebenaran, dalam gelombang supremasi senandika gerhana.
Kadang-kadang pula terdengar sang estetis itu, di arus sentra hiruk-pikuk, namun, mungkin hanya sekadar serupa desah, desir angin semata. Hal sederhana itu bagai sebuah kabar-berita silih berganti, ada tiada, penting tidak penting. Meskipun sesungguhnya sang estetis itu, merupakan salah satu inti dasar hidup akulturasi.
ADVERTISEMENT
Sebab jiwa kontekstual akulturasi ada pada pola-pola tradisi, alias, ‘The mother of modernism’ sulit diterjang oleh sistem-isme apa pun, tak akan mampu meruntuhkan kehebatan tradisi, mandiri, kokoh, tanpa subsidi sistem berkala proposal langit.
Tradisi, akar dari metode-metode membentuk sistem kebudayaan kini, ketika kini, hanya melanjutkan peniruan frekuensi, materi maupun non-materi, dari sistem teknologi ilahiah milik jagat raya.
Itu sebabnya pula hanya diperlukan pemantik sederhana. Belajar tanpa henti. Belajar membuka rahasia rumus-rumus sains ilahiah, telah ada di sel-sel otak para makhluk hidup sejak awal penciptaan. Hanya dengan syarat sederhana. Dilarang sombong, alpa pada sumber hakikat makrifat.
Tidak ada makhluk hidup tidak mempan wafat, sekalipun sebuah sistem jika disalah gunakan, demikian pula dengan Bimasakti, hadir, akal budi, eksak, eksis-dipuncak ketentuan hukum ekosistem. Bimasakti, akan sirna pada ketepatan akhir waktu tempuh, merupakan salah satu kepastian hukum ilahiah. Bukan sekadar mimpi siang bolong.
ADVERTISEMENT
Menyoal baik atau benar di antara rimba kealpaan makhluk hidup, bagai-verbalisme tak sebanding herba, sekalipun, mungkin mampu menjadi obat penyuluh rindu pada terang. Ketimbang niskala hitam pekat, terselubung hukum berat jenis air berbanding materi, dalam bejana berhubungan.
Bak sebuah kisah kegembiraan atau pun kesedihan, tak sebanding, kadang malahan berbanding sejajar tampak kalkulus, mampu membuat, menumbuhkan benih menuju peristiwa matematis lain, seakan tak berujung atau pun mendadak abstrak.
Siklus hidup, berkembang tak melulu keindahan tak terperi, seolah-olah tak ada hal lain sekalipun di ranah alibi takdir berselimut semarak warna bunga-bunga. Meski, barangkali, hidup, sesungguhnya akan tampak hanya ada hal baik saja, ketika kesalahan menjelma makhluk tak kasatmata abrakadabra, kepinding menjadi kelinci atau sebaliknya.
ADVERTISEMENT
***
"Tidak ada hal melelahkan, dia amat sayang pada ekosistem, itu barangkali inti skala episentrum tak tampak kasatmata sebagaimana gravitasi, tak menyesatkan sains-merupakan kegaiban struktur dapat dihitung. Memberi titik berat atau titik lemah pada materi ataupun non-materi seperti pada ruang hampa. Maka hidup berlari, bersama kuantum melesat berkecepatan tak terhingga. Siklus membentuk fisik, lagi, berpola menuju non-fisik.”
“Wafat atau pun hidup, perbandingan sejajar atas materi terpahami di sel-sel otak para makhluk. Mungkin seperti mata memotret peristiwa, atau, kamera. Salah satu unsur dalam cara, mencintai sesama makhluk lain di jagat raya, dalam hitungan matematis fisika analog intelegensi. Akibat dari himpunan tak terhingga, rumus-rumus telah bermukim di sel-sel otak sejak materi fisika menjadi materi metafisika. Seperti kau sebut kurang lebih. Hal tersebut. Kalau mungkin loh."
ADVERTISEMENT
"Apakah sistem itu juga menyayangi sesama?"
"Entahlah. Sulit menjawab hal itu. Sebaiknya anda bertemu."
“Sekali pun, analogi intelegensi non-imajiner pada interlud moral intelektualitas seperti itu telah terjadi berulang-ulang, berabad-abad, turun temurun peradaban. Pada waktu tertentu di zaman tertentu, terus menerus saling memberi benih agar segala hal ihwal senantiasa bertumbuh bermanfaat, dibutuhkan keseimbangan berbanding terbalik. Hingga kembali memicu ledakan multiteknologi ilahiah, di ranah kosmologi - The Big Bang. Gelegar semesta kebaruan?”
"Hehehe. Selama siklus tendensi negatif berfungsi dalam ion molekul positif selingkar kedua unsur itu."
"Oh! Ya. Sudah barang tentu. Itu sebabnya dilarang mengkhianati makrifat komitmen." Keduanya saling bersalaman. Saling berpelukan-persahabatan membumi. Ekosistem menyala kehidupan.
***
Hidup berjalan terus menuju ke berbagai arah mata angin. Kaleidoskop, bagai film abstraksi faktual diputar ulang. Di masa waktu, dalam kronik sejarah makhluk hidup, berkesinambungan oleh visi sejarah terbarukan.
ADVERTISEMENT
Memberi benih atau saling bertukar benih agar hal apapun menjadi manfaat terus berlangsung, itu pun kalau mungkin, meski dalam mimpi sekalipun. Agar bercuriga tidak menyesatkan neo-teknologi, dalam kecepatan pertumbuhan sains.
Ketentuan hidup saling silang menuju kehendak tujuan, mungkin, demi benih, agar tumbuh di semua benua. Saling menyapa, jabat tangan erat, berpelukan memberi semangat.
Benih tetap tumbuh tercipta di ladang kesuburan hakikat bening nurani. Meski benih-benih itu, tak dibawa oleh paruh burung-burung, dijatuhkan sekehendak nurani beningnya. Salah satu upaya makhluk hidup memicu pertumbuhan satuan unit ekologi, mencipta kesuburan ekosistem. Siklus.
Konfigurasi kehidupan senantiasa berevolusi ke berbagai bentuk komposisi, kadang tampak seakan-akan saling silang melawan arus alamiah.
Tidak perlu was-was akibat kekhawatiran berlebihan. Benar atau tidak, bergantung pada komposisi dari tujuan konfigurasi. Gerakan rampak menyebar benih terus tumbuh seiring alunan merdu orkes simfoni.
ADVERTISEMENT
Kelangsungan hidup, mungkin saja, sepanjang sejarah hidup. Tumbuh membentuk koloni besar ataupun koloni kecil, keluarga, sanak famili, beranak pinak, tak satupun hal itu pernah terlupakan, dalam keseimbangan hukum sebab akibat.
Meski kadang-kadang terlupakan oleh kealpaan logis, di antara belantara pertumbuhan benih terus berlangsung di waktu setara.
Tetap tersenyum berpapasan saling memberi hidup, demi pertumbuhan benih akan ditanam. Saling bertanya, saling memberi jawaban dengan ramah.
"Di mana sesuatu, disebut benih itu."
"Oh! Ada di antara ruang-ruang waktu tempuh."
"Apakah semua hal itu tetap tumbuh sehat. Setara baik-baik saja?"
"Tentu seperti sedia kala berawal."
"Terima kasih. Sampai jumpa di lain waktu."
Suara-suara saling menyapa semacam itu, toleran, membuat benih semakin tumbuh amat subur. Tak peduli apapun di waktu, di tempat, di manapun.
ADVERTISEMENT
***
"Apakah sesuatu itu masih ada?" Bersalaman lalu bertukar senyum. Saling melambaikan tangan, jika jarak antara saling berjauhan.
Dari waktu ke waktu, dari percakapan ke percakapan. Dari keadaban terus berlangsung. Keadaan menjadi semakin bertumbuh benih manfaat. Di layar monitor multidimensi, meski pun, pengawasan tetap mengemban kekhawatiran berlebihan. Tak perlu benar seperti itu, sekalipun, sekadar selayang pandang.
"Jadi, ke mana setelah ini?"
"Mengungkap mata air." Keduanya kembali saling berjabat tangan erat.
"Mari kita saling menuju ke lain waktu."
"Ada banyak hal menunggu."
"Tentu."
"Terimalah. Semoga benih itu bermanfaat." Keduanya saling memberi benih. Kembali saling jabat tangan erat. Saling berpelukan.
"Semoga benih-benih akan tumbuh." Kembali saling berjabat tangan.
"Terima kasih. Salam sejahtera."
ADVERTISEMENT
"Demikian pula dengan anda."
Keadaan seperti itu, mungkin, akan membuat oksigen semakin sehat rohani untuk jasmani. Semoga bertambah baik. Kecepatan pertumbuhan benih-benih bermanfaat. Telah menjadi wiracarita momen-momen pertumbuhan, benih, bermanfaat kemaslahatan, meski entah kemaslahatan macam apa kelak.
Tanpa terasa dari abad ke abad. Semasa lewat. Semasa kembali. Semasa pergi. Semasa saling memberi, semoga, senantiasa datang namun selalu pergi. Meski akan datang lagi. Musim terus berganti. Waktu berjalan sebagaimana mestinya.
Kehidupan, zaman berlari di arus deras sekalipun. Adalah kewajiban esensial untuk tetap menulis benih-benih kesaksian kronik sejarah kehidupan, di buku besar-Semesta Keesaan, nurani bening. Seiring komposisi orkes simfoni. Terus berlangsung.
Jakarta, Indonesia, August 13, 2019.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·