• 0

USER STORY

Bisa Membaca, Mimpi Nemah di Usia Senja

Bisa Membaca, Mimpi Nemah di Usia Senja


Bersembunyi di balik tembok-tembok beton dan aspal jalanan, masih ada komunitas kecil yang belum sepenuhnya terbasuh modernisasi. Meski berbatasan langsung dengan megahnya kota metropolitan Jakarta, ternyata masih tersisa kelompok masyarakat yang belum bisa membaca.

Kelompok itu misalnya mereka yang tinggal di daerah pinggiran Ibu Kota, tepatnya di Kampung Curug, Tangerang Selatan. Kampung itu banyak dihuni warga Betawi Ora atau Betawi pinggiran.

Nemah, Ati, Siah, Emil, dan Sauiah adalah beberapa di antara mereka yang hingga saat ini masih buta huruf. Sebagai orang asli di Kampung Curug, mereka merasakan bagaimana keinginan mereka untuk bersekolah terhalang faktor ekonomi. Mereka bahkan tidak tahu kapan mereka lahir.

Penduduk Kampung Curug, Tangerang Selatan

Lima orang penduduk Kampung Curug yang hingga saat ini masih buta huruf (Foto: Aldis Tannos)

Wanita 50 tahun ke atas mendominasi penduduk yang buta aksara di sana. Mengapa demikian?

"Kalau perempuan mah nggak usah sekolah. Sekolahnya di dapur," ujar Siah (67) mengenang kata-kata ayahnya semasa ia kecil, sambil duduk di saung tempat kegiatan belajar biasa digelar.

"Biar sekolah tinggi mah perempuan nggak jadi apa-apa," timpal Emil (65).

Alasan tersebut yang membuat mereka kemudian lebih banyak membantu orangtuanya mengurus ternak dan tani dibanding belajar. Mimpi untuk belajar di sekolah pun dipaksa sirna sejak lama.

Menurut mereka, orang zaman dulu jarang yang bersekolah. Bersekolah pun hanya sampai kelas 2 atau 4 SD. Sekolah sampai kelas 4 SD dinilai sudah cukup tinggi pada saat itu.

Zaman dahulu, orang tua juga lebih menuntut anaknya bisa bercocok tanam, seperti menanam singkong dan menanam pisang. Bahkan ada juga yang menuntut mereka untuk bisa membelah kayu, mencari batu di kali, hingga mengurus kambing.

Orang tua juga menjadi salah satu faktor mengapa mereka tidak bisa bersekolah. Pada zaman baheula, orang tua berpendapat kalau anak perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi. Asalkan anak perempuannya pintar di dapur, maka orang tua tidak akan mempermasalahkannya. Sebab orang tua dahulu menilai kalau pintar mengurus urusan dapur dan rajin, maka akan ada banyak yang ingin menjadi mantu mereka.

Lain cerita dengan kaum laki-laki. Mereka diharuskan untuk sekolah, meskipun sambil tetap harus mengurus kambing dan kerbau. Kendati bersekolah, namun para lelaki pun tidak sampai menamatkan pendidikannya. Mereka lebih memilih membantu orang tua setelah bersekolah sampai kelas 3 atau 4 sekolah dasar. Alhasil, penduduk lanjut usia di Kampung Curug banyak yang buta huruf.

Kini, ketidakmampuan membaca dan menulis mulai dirasakan oleh penduduk Kampung Curug. Mereka menjadi terhambat saat mengurus surat-surat penting di kantor pemerintah dan saat berpergian. Apalagi, mengurus surat-surat penting di kantor pemerintah, tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.

Kehadiran Komunitas Jendela Jakarta yang berbasis di Serpong seakan menjadi wadah mewujudkan mimpi penduduk Kampung Curug untuk belajar baca dan tulis. Tim pengajar Komunitas itu mengajarkan penduduk Kampung Curug bagaimana cara membaca dan menulis setiap hari Minggu sore, selama satu jam.

Saung di Kampung Curug, Tangerang

Saung tempat warga Kampung Curug belajar baca dan tulis (Foto: Aldis Tannos)

Meski demikian, mereka mengakui tidak mudah untuk belajar membaca dan menulis di usia mereka yang sudah tidak muda lagi. Mereka sering lupa huruf-huruf yang telah diajarkan oleh tim pengajar. Malah, ada yang sampai saat ini baru bisa membaca huruf A dan B saja. Kesulitan lainnya adalah, mereka masih susah membedakan huruf yang satu dengan yang lain, karena menurut mereka, huruf-huruf tersebut ada yang bentuknya mirip.

Faktor lain yang menjadi penghambat mereka belajar adalah waktu yang singkat. Hanya seminggu sekali dengan durasi selama satu jam. Meski ingin sekali belajar dengan lebih sering, namun mereka mengerti bahwa tim pengajar yang hanya memiliki waktu pada akhir pekan. Untuk mengatasi itu, tim pengajar sering memberikan tugas kepada ibu-ibu untuk dikerjakan.

Meski waktu untuk belajar terbatas, mereka tetap semangat agar yang penting dapat menulis dan membaca. Mereka berharap dapat terus sehat sehingga bisa terus belajar sampai benar-benar bisa membaca dan menulis.

Umur tak jadi halangan bagi ibu-ibu Kampung Curug untuk mulai belajar membaca. "Saya mah sampai mimpi-mimpi pengen bisa baca," ujar Nemah (56).


Penduduk Kampung Curug, Tangerang masih buta huruf

Lima penduduk Kampung Curug sedang duduk di dalam saung tempat mereka belajar baca dan tulis (Foto: Aldis Tannos)


PendidikanSosial

500

Baca Lainnya