Konten dari Pengguna

Bangkitkan Harapan pada Seni Tradisi Ronjhangan di Era Modernisasi

Teddy Afriansyah
Mahasiswa S2 Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga.
24 Agustus 2025 0:41 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Bangkitkan Harapan pada Seni Tradisi Ronjhangan di Era Modernisasi
Tulisan ini mengangkat isu kesenian tradisional menabuh "ronjhangan" atau lesung untuk menumbuk padi di Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso yang sudah punah.
Teddy Afriansyah
Tulisan dari Teddy Afriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi yang sudah hilang selama bertahun-tahun sehingga perlu dilestarikan dengan baik

Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: pexels.com
ADVERTISEMENT
Pesona Tanjung Lesung yang Sirna
ADVERTISEMENT
Masyarakat agraris di Pujer, Bondowoso hadirnya dengan suasana suara alu beradu ritmis dengan lesung kayu pernah menjadi denyut nadi kehidupan. Irama yang lahir dari aktivitas menumbuk padi tersebut bukan sekadar penanda kerja, melainkan sebuah ekspresi seni yang dikenal dengan nama Ronjhangan. Kesenian tersebut dimainkan oleh para perempuan desa sebagai medium pelepas lelah, sarana bersosialisasi, sekaligus wujud syukur atas hasil panen yang melimpah. Harmoni bunyi yang dihasilkan dari pukulan-pukulan teratur menciptakan sebuah orkestrasi pedesaan yang khas, sarat dengan nilai kebersamaan dan kearifan lokal. Namun, gema lesung itu kini sudah lama sunyi. Ronjhangan yang dahulu menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas budaya Pujer, kini hanya tersisa dalam ingatan para generasi tua. Keberadaannya tergerus oleh laju modernisasi yang tidak terelakkan sehingga meninggalkan sebuah kekosongan budaya yang patut menjadi perhatian serius. Kepunahan seni tradisi tersebut menjadi cerminan betapa rentannya warisan leluhur ketika dihadapkan pada perubahan zaman yang begitu pesat, sehingga diperlukan sebuah refleksi mendalam mengenai upaya penyelamatannya.
ADVERTISEMENT
Akar Budaya dan Pergeseran Zaman
Ronjhangan sejatinya lebih dari sekadar musik perkusi tradisional. Seni tradisi tersebut merupakan representasi dari siklus kehidupan masyarakat agraris. Setiap pukulan alu memiliki makna, setiap ritme yang tercipta adalah cerminan dari semangat kerja keras, ketekunan, dan gotong royong. Para perempuan, sebagai pemeran utama dalam kesenian tersebut, menjadikannya sebagai ruang ekspresi di tengah rutinitas domestik dan pekerjaan di sawah. Sembari menumbuk padi, lantunan lagu-lagu berbahasa Madura yang berisi nasihat dan petuah hidup turut mengiringi, menjadikan Ronjhangan sebagai sarana internalisasi nilai-nilai luhur secara informal. Fungsi sosialnya pun sangat kuat melalui Ronjhangan, yaitu adanya ikatan komunal antarwarga terjalin erat.
Perlahan tapi pasti, fondasi yang menopang eksistensi Ronjhangan mulai goyah. Titik baliknya adalah kehadiran teknologi penggilingan padi modern atau selepan. Kehadiran mesin-mesin tersebut secara langsung menghilangkan fungsi utama lesung dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas menumbuk padi secara manual tidak lagi menjadi sebuah kebutuhan, sehingga konteks lahirnya Ronjhangan pun lenyap. Perubahan yang hadir dipercepat oleh masifnya penetrasi budaya populer melalui media massa. Musik dangdut, pop, dan berbagai bentuk hiburan modern lainnya menawarkan alternatif yang lebih mudah diakses dan dianggap lebih relevan oleh generasi yang lebih muda. Akibatnya, Ronjhangan kehilangan panggung dan peminat. Kesenian yang dahulu hidup secara organik di tengah masyarakat kini dianggap kuno dan tidak lagi sesuai dengan semangat zaman. Pergeseran prioritas masyarakat yang lebih fokus pada peningkatan kesejahteraan ekonomi turut membuat pelestarian seni tradisi seperti Ronjhangan menjadi terpinggirkan.
ADVERTISEMENT
Kehilangan Identitas dan Memori Kolektif
Sumber: pexels.com
Lenyapnya Ronjhangan dari panggung kebudayaan Bondowoso bukanlah sekadar hilangnya satu jenis kesenian. Dampaknya jauh lebih dalam, menyentuh persoalan identitas lokal dan memori kolektif masyarakat Pujer. Setiap tradisi membawa DNA budaya yang unik yang membedakan satu komunitas dengan komunitas lainnya. Ronjhangan adalah salah satu penanda identitas tersebut. Dengan hilangnya tradisi tersebut, satu babak penting dalam sejarah sosial masyarakat Pujer seolah terhapus. Generasi sekarang tidak lagi memiliki koneksi emosional maupun pengalaman langsung dengan suara lesung yang pernah menjadi bagian dari kehidupan nenek moyangnya. Pengetahuan tentang teknik menabuh, pola ritme, hingga syair-syair lagu yang menyertainya ikut terkubur bersama para maestro terakhir yang sudah tiada.
Kondisi tersebut menciptakan sebuah jurang generasi yang mengancam keberlanjutan warisan budaya. Memori kolektif tentang bagaimana para leluhur menyelaraskan kerja dengan seni, bagaimana perempuan desa menemukan ruang kreativitasnya, dan bagaimana nilai-nilai diajarkan melalui musik, semuanya berisiko hilang selamanya. Kehilangan yang dialami merupakan sebuah kerugian besar, sebab di dalam kesenian Ronjhangan terkandung filosofi hidup yang relevan hingga kini yaitu nilai kerja sama, ketahanan dalam menghadapi kesulitan, dan kemampuan menciptakan keindahan dari hal-hal yang sederhana. Tanpa adanya upaya dokumentasi dan revitalisasi yang sistematis, warisan budaya tak benda tersebut akan benar-benar menjadi dongeng masa lalu yang tidak dapat diakses lagi oleh generasi mendatang.
ADVERTISEMENT
Jalan Terjal Revitalisasi Seni Tradisi
Menghidupkan kembali Ronjhangan di era modern jelas bukan pekerjaan mudah. Upaya pelestarian tidak bisa diartikan sebagai usaha romantik untuk mengembalikan masyarakat ke masa lalu, seperti memaksa kembali penggunaan lesung untuk kebutuhan pangan. Sebaliknya, revitalisasi harus dimaknai sebagai sebuah proses kreatif untuk memberikan nyawa dan konteks baru bagi Ronjhangan agar dapat diterima dan dihargai oleh masyarakat masa kini. Langkah pertama yang krusial adalah peran aktif dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bondowoso. Peran pemerintah tidak boleh berhenti pada sekadar pernyataan prihatin, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan konkret. Program inventarisasi dan dokumentasi menjadi sangat mendesak. Riset mendalam perlu dilakukan dengan menggali informasi dari para sesepuh yang masih menyimpan ingatan tentang Ronjhangan. Setiap detail, mulai dari ragam ritme, lirik lagu, hingga konteks sosialnya, harus dicatat dan diarsipkan secara digital.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya, diperlukan sebuah proses rekonstruksi dan reinterpretasi. Para seniman, budayawan, dan akademisi dapat berkolaborasi untuk menghidupkan kembali Ronjhangan dalam format seni pertunjukan. Musik lesung dapat dikombinasikan dengan instrumen musik tradisional lainnya atau bahkan modern, menciptakan sebuah komposisi baru yang segar tanpa menghilangkan esensi ritmisnya. Sanggar-sanggar seni di Bondowoso dapat didorong untuk mengadopsi Ronjhangan sebagai salah satu materi ajar. Penyelenggaraan festival budaya secara rutin dapat menjadi panggung bagi Ronjhangan yang sudah direvitalisasi untuk tampil di hadapan publik yang lebih luas, termasuk wisatawan. Proses edukasi kepada generasi muda juga memegang peranan kunci. Pengenalan Ronjhangan melalui kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah, penyelenggaraan lokakarya, dan kompetisi dapat menumbuhkan rasa cinta dan kepemilikan terhadap warisan budaya tersebut. Dengan demikian, Ronjhangan dapat bertransformasi dari seni fungsional menjadi seni pertunjukan yang memiliki nilai estetika dan ekonomi.
ADVERTISEMENT
Menghidupkan Kembali Irama yang Terlupakan
Kepunahan seni tradisi Ronjhangan di Pujer, Bondowoso, adalah sebuah pengingat pahit tentang betapa rapuhnya warisan budaya di hadapan arus perubahan. Namun, kepunahan tersebut tidak harus menjadi akhir dari segalanya. Semangat, filosofi, dan keindahan ritmis dari Ronjhangan masih dapat diselamatkan dan dihidupkan kembali dalam wujud yang baru. Revitalisasi bukanlah sebuah upaya untuk membekukan masa lalu, melainkan sebuah dialog kreatif antara warisan leluhur dengan tantangan zaman modern.
Penyelamatan Ronjhangan memerlukan sebuah gerakan bersama yang melibatkan komitmen kuat dari pemerintah, kreativitas para seniman, dukungan komunitas, dan antusiasme generasi muda. Melalui dokumentasi yang cermat, inovasi dalam penyajian, dan edukasi yang berkelanjutan, irama lesung yang sudah lama terlupakan itu dapat kembali bergema. Bukan lagi sebagai pengiring kerja menumbuk padi, tetapi sebagai sebuah simfoni yang membanggakan, sebuah penanda identitas budaya Bondowoso yang kaya dan dinamis yang siap diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang. Suara Ronjhangan harus kembali terdengar, menjadi bukti bahwa tradisi mampu beradaptasi dan tetap relevan melintasi zaman.
ADVERTISEMENT