Pencarian populer

Agar Tidak "Rapuh" Karena Media Sosial

Buat yang sering nonton TED Talks, mungkin sudah tidak asing dengan nama Brené Brown. Brown adalah seorang professor di University of Houston, dan dalam dua dekade terakhir, hidupnya dipakai untuk menulis buku yang semuanya menjadi New York Times Bestseller. Sebut saja, The Gifts of Imperfection, Daring Greatly, Rising Strong, Braving the Wilderness, dan Dare to Lead.

Bagi para pendengarnya, mendengar Brene Brown berbicara seperti mendengar orang sedang bercerita, membuat betah untuk berlama-lama. Videonya di TED yang membahas tentang kerapuhan sudah ditonton sebanyak 38 juta kali. Sejak tahun 2010 ia sudah aktif berbicara dengan tema keberanian, kerapuhan, rasa malu, dan empati yang menyentuh hati penonton.

Ungkapannya yang terkenal adalah, “Saya percaya bahwa kita harus berjalan melalui kerentanan dan kerapuhan untuk mendapatkan keberanian. Oleh karena itu, rangkullah kerapuhan tersebut.” Tak pelak, Brown pun terkenal sebagai Pakar Kerapuhan atau Vurnerability.

Dalam wawancara eksklusifnya dengan Refinery29, Brown memaparkan tentang kerapuhan akibat penggunaan media sosial. Ia mengibaratkan media sosial seperti "api".

"Kamu bisa menggunakan api dan kehangatan untuk menyelamatkan hidupmu. Di sisi lain, kamu juga bisa memakainya untuk membakar segala hal. Kamu tidak bisa menyalahkan api, karena tanpanya kita tidak akan memiliki makanan, kehangatan, hingga revolusi industri.

Ini tentang penggunaan, dan bagaimana niat kita di baliknya."

Brene Brown. (Foto: Ted.com)

Brown, yang juga aktif sebagai influencer ini mengatakan bahwa satu hal yang tidak kita lakukan di media sosial adalah memeriksa kembali niat di balik post yang kita unggah. Kita luput memikirkan, "Apa yang saya coba lakukan?" dan "Apa yang saya butuhkan dari post ini?"

Dari pikiran-pikiran itu, kita akan memeroleh jawaban. Jika jawabannya adalah tidak, saya tidak membutuhkan apapun dari post ini, maka saat itulah kita dinilai siap mem-posting. "Tetapi jika kamu memerlukan sesuatu darinya, itu sangat berbahaya," lanjut Brown. Ia mengungkapkan, bahwa dalam psikologi jangan menetapkan tujuan di mana kita tak dapat mengendalikan hasilnya.

Pada akhirnya media sosial akan membuat kita rentan, rapuh, jika kita mengharapkan likes, comment, dan share. Wanita yang juga berperan sebagai Profesor Riset di University of Houston ini mengatakan, bahwa kita siap berbagi sesuatu di media sosial justru ketika respon balik tidak memengaruhi harga diri kita.

Nah, sekarang coba tahan dulu dorongan untuk posting di akunmu. Tanyakan lagi ke dalam hati, "Apa niatku di balik post ini?"

[Penulis : Izzudin|Editor : Nadhira]

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60