kumparan
KONTEN PUBLISHER
4 Desember 2019 9:41

Renungan untuk Pemilik (Teman) Gangguan Mental

Untitled Image
Penulis: Agus E. Prasetyo Co-Founder Imam Muda Salman
Saya cukup hati-hati menulis ini, dan terpantik untuk menuangkan ke dalam tulisan setelah beberapa waktu lalu menjadi "ban serep/cadangan" narasumber yang berhalangan hadir di acara ITB Spiritual Camp. Tema kala itu adalah soal konsep manusia dan alam semesta.
ADVERTISEMENT
Pada sesi tanya jawab, ada dua penanya. Penanya kesatu menanyakan terkait temannya, mengenai gangguan mental dan kecemasan, apa yang harus dia lakukan untuk membantuya. Penanya kedua, secara blak-blakan bertanya tentang mental illness yang sedang dihadapinya.
Sebelum saya jawab, jiwa saya berdialog dengan diri saya: "Gus, kamu tidak punya jawaban kunci yang mutlak bisa mengubah mindset mereka dalam waktu 5-10 menit. Memang kamu siapa?
"Tetapi kamu bisa memberikan jawaban yang membuat mereka melupakan sejenak apa yang sedang mereka alami."
Akhirnya saya mulai menjawab:
"Oke, teman-teman sekalian, yuk, kita sama-sama mempelajari orang-orang yang telah menorehkan nama-namanya di dunia dengan karya-karyanya, seperti proklamator kita, Ir. Soekarno, atau teknokrat kita, Ir Habibie.
ADVERTISEMENT
"Pun juga orang-orang mulia yang saat ini namanya kita sebut hampir di setiap waktu, Nabi Muhammad, atau orangtua kita yang telah sukses membesarkan kita hingga berada di sini.
"Mereka pasti dan sudah pasti mengalami ketakutan, depresi dan bahkan terpuruk di kondisi-kondisi tertentu dan itu siklus. Tetapi mereka sudah tentu sadar, mereka sedang diajari, dilatih oleh pemilik jiwa dan raganya, Allah. Mereka dilatih bagaimana menjadi seorang yang lebih kuat dan memberikan contoh kepada alam bahwa meng-esa-kannya adalah sumber dari kekuatan.
Untitled Image
"Banyak yang telah berkisah, bahwa suatu hal yang tak mungkin dan tak terbayang untuk kita lakukan, tapi nyata-nyatanya terjadi. Ada kalanya, hal yang sangat mungkin kita kerjakan, bahkan dengan perhitungan yang matang dan eksekusi yang penuh pengontrolan, ternyata gagal dan tidak merubah apa-apa.
ADVERTISEMENT
"Tapi bukan itu poinnya. Poinya adalah mereka tetap hidup dengan keberhasilan dan kegagalannya, rasa aman dan ketakutannya, rasa bahagia dan depresinya, dan, mereka tetap terus berkarya. Dari sana mereka belajar bagaimana senantiasa menjadi pembelajar.
"Tak selamanya malam akan membawa kita kepada kegelapan dan keterpurukan, tapi masih ada esok, dengan mentari yang akan terbit dan memberikan harapan. Tapi bukan hanya itu, malam pun akan menjadi something yang sangat valuable bila kita mampu menjadikanya sahabat.
"Kita mengerti bagaimana itu kegelapan malam dan kita gunakan untuk kontemplasi, menyiapkan jiwa sebagai amunisi yang siap melesat esok hari. Bagi yang muslim, caranya, bangun tahajud, minta sama pemilik jiwa, lapor atas segala kelemahan dan pelemahan kita karena keadaan. Kita minta ke sumber pemberi kekuatan, yakin, maju, terus maju.
ADVERTISEMENT
"Berselancarlah diatas ombak kekhawatiran itu, dengan riang. Ombak yang ganas itu tak akan menjadikan kita jatuh, karena kita sudah berpijak kepada 'selancar' yang menjadikan kita bisa menari-nari diatasnya."
Suasana hening, dan mulai muncul wajah-wajah yang tadinya murung sekarang berbinar optimis, wajah-wajah ingin bersahabat dengan apa yang mereka alami.
"Cukup dua pertanyaan saja, karena waktunya enggak akan cukup. Kasih kontak saya ke mereka bagi yang butuh. Mungkin mau curhat, atau sekedar menyambung silaturahmi agar ada orang yang membersamainya minimal sampai mereka lulus," ujar saya ke MC.
__
Yuk, ajak ngobrol teman kita, saudara kita. Mengertilah kondisi mereka, terutama yang memiliki gangguan mental, kita tawarkan kegiatan bareng yang positif. Hati-hati ketika memberikannya nasihat. Enggak sama kita memperlakukan mereka dengan diri-diri kita.
ADVERTISEMENT
Kita perlu lingkungan yang terus bergerak maju, growth mindset.***
__
Nantikan tulisan-tulisan Agus E. Prasetyo lainnya mengenai renungannya akan buku yang ia baca.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan