Pencarian populer

Tips Bisnis Andalan dari Tiga Bos Bisnis Ternama

Honesti Basyir saat berbicara di Road Show Bandung: Bisnis Modal Jari pada Sabtu (18/5) silam. (Foto: Tristia R./Temali)

Tatkala memulai berbisnis pertama kali, kebingungan harus melangkah ke mana ialah hal wajar. Kerugian sekian juta, produk yang diterima pasar, serta gencarnya kompetitor dapat menjadi penghalang mental dalam berbisnis. Hal-hal tersebut rupanya dialami pula oleh para pengusaha yang sudah dikenal sukses. Termasuk Yasa Singgih (Founder Men's Republic) dan Stefanie Kurniadi (Founder Cita Rasa Prima Group).

Hal tersebut diungkapkan Yasa dan Stefanie sendiri pada event Road Show Bandung: Bisnis Modal Jari, Jumat (18/5) di Harris Hotel Ciumbuleuit Bandung. Event yang ini juga menghadirkan CEO Kimia Farma Honesti Basyir sebagai pembicara. Dalam kesempatan ini, Honesti mengenalkan apps Mediv dari Kmia Farma sebagai Virtual Store yang dapat mengajak khalayak berjualan alat kesehatan dan kosmetik.

Di sepanjang talkshow, terdapat petuah-petuah bisnis dari ketiganya yang dijamin bikin kamu semakin bersemangat bisnis. Berikut tips bisnis yang Temali rangkum baik dari Honesti, Yasa, maupun Stefanie.

Pertama, mulai dulu aja!

Tentu banyak pertimbangan yang dipikirkan pebisnis pemula. Ketika ditanya bagaimana cara menjadi pengusaha, Stefanie menjawab sederhana, "Mulai dulu aja." Ia bercerita pendapatan pertamanya berasal dari jasa pembuatan kartu undangan perayaan Sweet Seventeen kawannya. "Saya diamplopin Rp200 ribu oleh ayah teman saya," kenangnya.

Founder Cita Rasa Prima Group Stefanie Kurniadi tengah berbagi pengalaman berbisnisnya. (Foto: Tristia R./Temali)

Dari pengalamannya, Stefanie mengambil kesimpulan, semakin dirinya say yes to opportunity, kesempatan-kesempatan banyak terbuka, termasuk kesempatan untuk belajar.

Kedua, konsistensi adalah keharusan

Yasa Singgih bercerita masa-masa awal pembentukan bisnisnya. Ia rela bolak-balik ke Tanah Abang naik angkot untuk mengambil produk-produk yang akan ia jual di ranah online.

Stefanie juga mengakui jika dirinya dan teman-temannya pernah selama delapan tahun berbisnis. Jenis bisnis yang dijalankannya pun berganti-ganti, mulai dari bisnis jasa, es cendol, hingga waeteg. "Bisnis kita rugi terus," aku Stefanie.

Tetapi, berkat kerja keras dan konsistensi, kegagalan mereka anggap sebagai sumber pembelajaran untuk menggapai kesuksesan. Hingga kini Men's Republic dan Cita Rasa Prima Group (CRP) melejit sebagai salah satu bisnis yang diperhitungkan.

Honesti (tengah) sedang berfoto bersama kaum milenial. (Foto: Tristia R/Temali)

Yasa juga menaruh respek terhadap Kimia Farma yang telah berdiri 202 tahun lamanya. "Aplikasi Mediv ini di-backup sama Kimia farma, yang sudah beroperasi 202 tahun. Menurut saya jarang bisnis besar yang membuka lapangan usaha buat masyarakat luas," ucap Yasa.

Ketiga, jangan takut kompetitor!

Ketika perusahaannya merilis warung makan mie instan Upnormal, bermunculanlah warung makan serupa. Bahkan ada yang sangat mirip. "Waktu pertama kali memulai, deg-degan punya kompetitor. Ternyata pas udah dilalui, saya belajar bahwa kompetisi bukan faktor yang bikin bisnis kita gagal," ujar Stefanie.

Stefanie menceritakan pengalaman ketika dirinya mengikuti short course di Harvard Business School (HBS). Menurut penelitian lembaga pendidikan tersebut, faktor-faktor yang menyebabkan sebuah bisnis kolaps berasal dari internal perusahaan. "Tidak ada inovasi, tidak kompak, pada nggak mau belajar, dan lain sebaliknya. Kompetitor justru efeknya kecil."

Justru, dengan makin maraknya kompetitor yang menawarkan produk serupa, masyarakat pun jadi semakin familiar dengan produk yang Stefanie tawarkan. Stefanie menyarankan agar fokus pada perkembangan internal tim, seperti bagaimana agar admin lebih ramah menyapa, dan lain sebagainya.

Keeempat, jajaki ranah online, tetapi jangan lupakan offline store

Men's Republic adalah salah satu bisnis yang melejit lewat kekuatan online store. Yasa Singgih menekankan betapa besarnya bisnis berbasis internet. Bahkan, gonjang-ganjing pemilihan presiden tahun ini pun, baginya tak sanggup membendung laju bisnis online-nya.

"Peluang berbisnis modal jari itu terlalu besar. Omzet saya naik 100 persen tiap tahun," ujar Yasa.

Stefanie Kurniadi selaku pebisnis yang menyasar anak muda (Generasi Milenial dan Generasi Z) sebagai segmen utama, mengakui betapa pentingnya menyambangi internet untuk memaksimalkan bisnis. Bahkan, Stefanie memiliki tim di kantornya yang khusus tiap hari memantau apa saja yang viral di jagad maya.

Hal tersebut juga diamini Honesti. Aplikasi Mediv yang sedang ia dan timnya kembangkan diharapkan dapat membuka akses luas agar orang mudah bertransaksi alat kesehatan.

Honesti Basyir, pimpinan Kimia Farma, perusahaan yang telah berdiri 202 tahun lamanya. (Foto: Tristia R./Temali)

"Selama ini, yang biasa main di alat-alat kesehatan biasanya industri-industri besar, biasanya importir," ujar Honesti. Honesti juga berpendapat, kehadiran Mediv tidak akan menyaingi offline store Kimia Farma yang selama ini beroperasi.

"Perusahaan seperti Amazon yang berbasis online, justru mulai membuka gerai offline untuk dekat dengan pelanggannya. Diharapkan bisnis online dan offline Kimia Farma justru bisa saling memperkuat," ujar Honesti.

[Penulis: Tristia R.]

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33