Bola & Sports
·
11 Oktober 2020 18:05

KELAS Teman kumparan: Mengapa MU dan Liverpool Porak Poranda di Liga Inggris?

Konten ini diproduksi oleh Teman kumparan
KELAS Teman kumparan: Mengapa MU dan Liverpool Porak Poranda di Liga Inggris? (400628)
Selebrasi pemain Aston Villa saat melawan Liverpool di Villa Park, Birmingham. Foto: Reuters/Rui Vieira
Penggemar sepak bola sempat dikejutkan dengan kekalahan klub besar Manchester United (MU) dan Liverpool pada pekan keempat Premiere League silam. Dalam sejarah Liga Inggris, The Reds dan The Red Devil untuk pertama kalinya mengalami kalah telak di pekan yang sama.
ADVERTISEMENT
Kekalahan mutlak kedua klub besar asal Inggris tersebut menjadi pertanyaan besar bagi para pecinta sepak bola. Terlebih, Liverpool sang juara bertahan dinilai bermain ceroboh saat melawan Aston Villa.
Tak terkecuali Manchester United yang juga mengalami nasib buruk. Persoalan bek mumpuni dan kebijakan transfer manajernya, Ole Gunnar Solksjaer, sering kali disebut sebagai penyebab kurangnya performa MU belakangan ini.
Lantas, apa sebenarnya penyebab dari kekalahan dua klub besar asal Inggris tersebut?
Teman kumparan bersama Yusuf Arifin, Chief of Storyteller kumparan, telah mendiskusikannya di KELAS. Di Grup WhatsApp teman kumparan Bola, pria yang sempat tinggal lama di Inggris dan sempat bekerja di Manchester City Media Football Club ini membagikan pandangannya tentang fenomena kekalahan MU dan Liverpool.
ADVERTISEMENT
Penasaran seperti apa keseruannya? Yuk, simak rangkuman KELAS Teman kumparan Bola di bawah ini!
KELAS Teman kumparan: Mengapa MU dan Liverpool Porak Poranda di Liga Inggris? (400629)
KELAS teman kumparan bersama Yusuf Arifin. Foto: dok. kumparan
Tanya: MU bek tengahnya ambyar semua, tetapi kenapa nggak mendatangkan bek tengah anyar, ya?
Jawab: Kalau berpegang pada reputasi, sebenarnya bek tengah Man United tidak buruk-buruk amat. Bisa jadi bukan yang terbaik di dunia ini. Tetapi semuanya pemain kaliber internasional, menjadi pilihan utama di negara masing-masing.
Jangan lupa pula bahwa musim lalu, relatif dengan pemain yang sama dan susunan yang sama, Man United ini menjadi salah satu klub paling kokoh di Liga Primer. Statistiknya saya tidak ingat lagi. Anda cek sendiri.
Adalah sebuah misteri mengapa awal musim ini mereka buruk sekali.
Saya menduga Ole menginginkan mereka bermain secara berbeda. Entah seperti apa ya. Tetapi coba perhatikan bagaimana mereka suka sekali memulai/membuka permainan dari bawah/belakang. Jarang sekali melakukan pembukaan permainan lewat tendangan jauh ke depan.
ADVERTISEMENT
Ditambah pemahaman pertahanan zona yang buruk sepertinya dari para pemain belakang. Bukan hanya bek tengah tetapi juga kiri kanan.
Mungkin Ole enggan mencari bek tengah karena merasa yang sekarang ada sudah cukup tapi belum klik dengan pola permainan yang diinginkan.
Tanya: Menurut Mas, bagaimana peluang Everton juara premier league musim ini? Kira-kira bisakah mencapai minimal 4 besar?
Jawab: Kalau mengukur tiga pertandingan yang sudah mereka jalani, tentu saja sangat besar. Bukan sekadar dari sisi kemenangan, tetapi juga permainan. Bertenaga dan cepat (khas kesebelasan klub Inggris), dingin dalam bertahan (khas Italia — saya kira Ancelotti sangat memperhatikan ini), dan imajinatif (James Rodriquez banyak berperan di sini).
Persoalannya adalah apakah mereka akan bisa konsisten sepanjang musim. Ini selalu berat. Karena jumlah pertandingan di Inggris selalu lebih banyak dibanding di Eropa Daratan, musim lebih panjang, kompetisi -EPL, Piala Liga, Piala FA, belum kalau terlibat di Eropa— juga lebih banyak.
ADVERTISEMENT
Saya kira Everton terlalu tipis lapisan keduanya. Ini bisa menjadi persoalan kalau mau juara.
Tanya: Betul atau tidak, MU nggak akan juara EPL jika Ole masih di sana? Tapi pembelian transfer MU musim ini semuanya bukan murni dari permintaan Ole dan permintaan transfer Ole ke manajemen semua gagal.
Jadi yang dipertanyakan, MU jadi seperti ini adalah ulah Ole yang gagal atau manajemen yang gagal?
Jawab: Seingat saya kesalahan itu tidak pernah tunggal. Begitupun ketika mengambil kebijakan yang benar. Faktornya banyak.
Saya kira Ole banyak salahnya. Tetapi manajemen klub lebih banyak lagi salahnya.
Kualitas pemain yang dimiliki Man United tidaklah seburuk yang dianggap pendukung-pendukungnya. Seharusnya dengan mudah beredar di papan atas Liga Primer.
ADVERTISEMENT
Tetapi coba perhatikan daya juang, imajinasi, pola permainan yang mereka tampilkan. Sangat tidak mencerminkan kehebatan pemain-pemain itu. Ini tanggung jawab manajer.
Benar dalam beberapa hal sepertinya manajemen klub yang lebih menentukan dalam soal jual beli pemain. Tidak semestinya demikian. Itu buruk. Hanya saja kalau kita mau adil, berapa banyak pemain yang dibeli dan dijual berdasar keinginan manajemen klub? Saya kira tidak banyak.
Kalau menurut pendapat saya, memang harusnya manajemen klub mundur lebih duluan ketimbang Ole. Kalau mau salah-salahan.
Kalau kondisi seperti sekarang akan sangat berat untuk Man United menjuarai apapun juga.
Tanya: Bagaimana menurut Mas, apakah Ole akan tetap bertahan di kondisi seperti ini?
Jawab: Kalau di dua pertandingan berikut tidak membaik baik dari segi skor maupun permainan, saya kok pesimis Ole bertahan.
ADVERTISEMENT
Tanya: Kenapa Liverpool musim ini jadi ceroboh betul ya, Pak?
Jawab: Tajuk demonstrasinya Gerakan Seribu Kembang. Semacam unjuk keprihatinan atas maraknya berbagai tindak kekerasan yang dilakukan negara terhadap rakyatnya sendiri.
Tantangan ketika anda menjadi juara adalah semua klub ingin mengalahkan anda. Semua akan berusaha lebih keras ketika melawan anda. Semua memperhatikan, mengkaji, dan mencari kelemahan anda untuk dieksploitasi.
Karenanya ada semacam hukum tak tertulis ketika anda sudah menjadi juara, sehebat apapun ketika anda menjadi juara, harus ada pola permainan atau susunan pemain yang harus diubah di musim berikutnya. Agar segala sesuatunya tidak mudah ditebak.
Saya yakin Juergen Klopp paham ini dan pasti sudah berusaha melakukannya. Tetapi ide baru itu harus punya waktu untuk ditanam ke tim. Jeda antara akhir musim lalu dan sekarang terlalu pendek, sehingga kemungkinan itu belum sempat dilakukan.
ADVERTISEMENT
Apa yang terjadi pada Liverpool dengan kekalahan telak kemarin itu simtomatik saja bukan sesuatu yang tidak bisa ditebak maupun diperbaiki. Tapi Klopp harus melakukan dengan segera sebelum dieksploitir oleh klub-klub lain.
Selain itu, biasa juga terjadi, pemain yang pernah menjadi juara kadang lengah. Orang Inggrisnya menyebutnya complacent (menganggap gampang). ‘’Ah bisalah ini nanti jadi juara lagi,’’ biasanya itu yang ada di kepala. Gampang toh yang dihadapi klub yang sebelumnya pernah dikalahkan juga. Padahal mengejar menjadi juara lebih mudah ketimbang untuk terus bertahan menjadi juara.
Tanya: Apakah kondisi pandemi juga berpengaruh bagi performa pemain klub-klub besar?
Jawab: Mempengaruhi pemasukan klub, semangat bertanding, keriuhan stadion, dan atmosfir pertandingan itu pasti. Tapi dari segi permainan sepertinya, kalau menurut saya, tidak. Kesannya saja seperti kurang bertenaga. Tapi kita semuanya kan ngukurnya dari nonton di televisi, ya.
ADVERTISEMENT
(sif)
===================
KELAS merupakan diskusi online yang diadakan di grup teman kumparan. Di KELAS, kamu bisa berdiskusi dengan para pakar di bidangnya secara gratis. Tertarik ikuti keseruannya? Yuk join Grup Telegram Teman kumparan di kum.pr/Temankumparan.