Mom
·
17 November 2020 18:08

KELAS Teman kumparan Mom: Kelola Emosi dan Tetap Produktif dengan Hobi Ala Ibu

Konten ini diproduksi oleh Teman kumparan
KELAS Teman kumparan Mom: Kelola Emosi dan Tetap Produktif dengan Hobi Ala Ibu (121253)
Ilustrasi stres pada ibu selama pandemi. Foto: Pexels
Pandemi yang sudah berlangsung 8 bulan lamanya memunculkan berbagai macam perubahan dalam keluarga. Ibu yang memiliki kendali dalam rumah tangga pun ikut merasakan dampaknya karena harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.
ADVERTISEMENT
Salah satu yang paling dirasakan oleh ibu selama pandemi adalah emosi yang tak stabil. Terlebih, pemberitaan soal Covid-19 juga tak kunjung reda dan kian mencemaskan.
Menurut Psikolog Anak, Remaja, & Keluarga Irma Gustiana, emosi yang muncul pada diri seorang ibu adalah hal yang wajar. Yang perlu dilakukan adalah mengenali dan memahami emosi yang muncul tersebut. Sebab, ibu adalah pusat kendali emosi keluarga.
"Bila ibu mengalami perasaan emosi negatif atau positif, maka dapat mempengaruhi dinamikanya dalam mengasuh anak dan relasi dengan pasangan," tulis Ayank dalam materi KELAS.
Untuk itu, emosi yang dirasakan ibu perlu dikelola dengan baik. Salah satu caranya adalah dengan melakukan hobi secara rutin untuk menjaga kondisi emosional ibu. Ini didukung oleh penelitian dari Journal of Positive Pshychology yang mengatakan orang-orang yang melakukan kegiatan kreatif setiap harinya cenderung memiliki kesejahteraan emosional yang lebih baik.
ADVERTISEMENT
Bersama Irma Gustiana, M,Psi, Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga yang kerap disapa Mbak Ayank, teman kumparan Mom telah mendiskusikan pentingnya dan cara mengelola emosi dan tetap produktif dengan hobi di Zoom Meeting pada Jumat, 13 November 2020.
Psikolog yang aktif berpraktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI) sekaligus Founder Pusat Konsultasi Psikologi Ruang Tumbuh (@ruangtumbuh.id) ini menekankan, ibu yang merawat fisik dan mentalnya secara berkala berarti juga sedang merawat anak-anaknya.
Penasaran seperti apa diskusi Mbak Ayank dan teman kumparan Mom? Yuk simak rangkumannya di bawah ini!
KELAS Teman kumparan Mom: Kelola Emosi dan Tetap Produktif dengan Hobi Ala Ibu (121254)
KELAS Teman kumparan Mom bersama Psikolog Irma gustiana, M.Psi. Foto: kumparan/Masayu Antarnusa
Tanya: Riska Riandita - Saat melakukan hobi, memang benar perasaan jadi tenang dan happy. Tapi setelah melakukan hobi, muncul lagi tuh perasaan seperti sedih, takut, kecewa, marah. Kalau begitu berarti melakukan hobinya nggak maksimal dong, ya?
ADVERTISEMENT
Jawab: Sebenarnya itu normal. Karena kita ini manusia yang memang punya perasaan, hati, pikiran, dan kita pasti berinteraksi dengan lingkungan. Jadi tentu kita gak bisa dalam keadaan steady. Jadi hobi ini sebetulnya mengurangi potensi-potensi munculnya masalah-masalah mental lain.
Kalau misalnya sedih tapi kecewanya yang penyebabnya jelas, terus saat itu memang kita kalau lagi kesal, marah kita gak meluapkan itu secara negatif, sebetulnya itu nggak masalah. Misalkan kita lagi kesal atau emosi, terus hobi kita menulis ya sudah kita menulis saja, produktif dengan menulis ini, dengan melakukan hobi menulis ini kita sudah meluapkan emosi-emosi negatifnya.
Jangan merasa kalau kalian sedang marah-marah kembali itu hobinya menjadi tidak efektif, karena hal itu wajar. Intinya, tetap melakukan hobi kalian karena hobi itu ibaratnya bisa untuk melepaskan ketegangan.
ADVERTISEMENT
Tanya: Nissa - Hallo Mbak Irma, gimana ya caranya biar punya waktu efektif dalam menjalankan hobi? Dan pada saat menjalankan hobi ada cara yang baik nggak untuk membuat anak nggak pengen ikutan mamanya juga?
Jawab: Hobi itu sebenernya gak ada keteraturannya sih, dan hobi itu adalah sesuatu yang dikerjakan saat waktu luang. Untuk bisa tahu efektivitasnya berarti kita harus mengulang ulang (repetition).
Jadi kalau misalnya kita sering mengulang ulang dan kemudian kita sudah merasakan manfaat nya, itu efektif. Tapi, kalau kita melakukan hobinya hanya sekali, atau hanya mengikuti tren itu tidak akan efektif juga, tapi kalau kita repeat terus jadi skill baru itu sebetulnya akan membuat efektif.
Kemudian, supaya anak nggak ikut ya tergantung hobinya. Kalau seperti blogging atau menonton drama korea mungkin bisa ditunggu anak nya tidur dulu. Namun, jangan sampai keasikan nonton drama korea sampai lupa untuk tidur, nanti kualitas tidurnya jadi berkurang maka akan mempengaruhi ke kesehatan fisik dan mental juga.
ADVERTISEMENT
Tanya: Nurazizah - Bagaimana cara melepaskan stress dari pihak laki-laki? Apakah sama dengan perempuan/materi yang sudah disampaikan?
Karena kan kadang laki-laki suka capek kan, stress juga. Lalu bagaimana kita menyikapi mood pasangan kita yang tidak stabil karena mungkin capek atau stress? Terimakasih.
Jawab: Bisa disuruh olahraga, yang paling mungkin yang bisa kita lakukan adalah kontrol apa yang bisa kita kontrol. Misalnya suami lagi uring-uringan, lagi stress berat, kita nggak mungkin bisa langsung memberikan intervensi, tapi kita bisa mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan.
Seperti menawarkan teh hangat, atau kita pijat, intinya kita kontrol dulu apa yang ingin kita kendalikan. Lalu, ketika suasananya sudah lebih tenang, atau saat pillow talk boleh deh diajak olahraga gowes misalnya, jadi kita nya yang mengajak dulu, jangan menyuruh dia melakukan sesuatu tapi kitanya sendiri nggak melakukan itu.
ADVERTISEMENT
Maka dari itu pertama kendalikan diri dahulu, kita observasi dulu apa nih yang biasanya membuat suami tidak nyaman, lalu pada saat yang tenang, aman, baru nanti kita coba diskusikan mana yang paling tepat untuk bisa dia lakukan di waktu luang nya.
Tanya: Riska - Seringnya kalo lagi burn out aku jadi suka diemin anak-anak dan suami. Kalau dipanggilin aku diem aja dikamar sampai aku tenang sendiri. Itu gimana ya, Mbak? Apakah benar seperti itu? Karena takutnya kalo dipaksain berinteraksi malah jadi meledak-meledak.
Jawab: Kata kuncinya adalah bagaimna caranya anak-anak itu memahami apa yang kita rasakan, apa yang sedang kita inginkan.
Karena anak moms sudah 5 dan 7 tahun itu sebenarnya sudah bisa diajak komunikasi, jadi sampaikan saja pada mereka bahwa mama lagi capek, dan mama butuh waktu sendiri.
ADVERTISEMENT
Nanti anak juga tidak akan menebak-nebak apa yang terjadi sama ibunya, karena sepintar-pintar nya kita mengelola emosi, lebih baik kita ngomong saja.
Tanya: Titin - Mbak, bagaimana cara meredam emosi apabila sedang marah? Apakah benar apabila emosi ditahan itu tidak baik?
Jawab: Ada beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk take a step back ketika sedang emosi.
Ada yang namanya grounding technique, ketika kita dalam kondisi emosi yang negatif atau meledak ledak itu kadang-kadang kondisi emosi kita jadi melayang-layang, kita kacau sendiri. Maka dari itu kita harus melakukan teknik ini, sebagai salah satu cara kita untuk back to realistic.
Makanya kenapa kalau kondisi kita kalut dan marah, disarankan untuk duduk dulu, dan kaki itu napak ke lantai, kemudian sambil bersandar. Sehingga si ibu menyadari posisi tubuhnya, lalu jika di dalam suatu ruangan, dia harus mencari 5 hal secara visual yang bisa dia lihat, jadi itu untuk mengembalikan kita ke kondisi yang realistis. Kalau misalnya ada wewangian juga kita bisa ciumi, nah itu grounding technique.
ADVERTISEMENT
Atau misalnya kalo senang dengan sensorik, contohnya bisa membawa bola yang berbulu dan di pegang ketika kita merasa tidak nyaman. Bisa juga dengan inhale exhale technique bisa pake box breathing tarik nafas 4 detik, tahan, buang 4 detik.
Dan yang terakhir bisa menggunakan butterfly hugs, dengan jari bisa di usap-usap/ditepuk tepuk diri sendiri. Disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing.
Tanya: Hobiku nonton drama korea. Malah jadi ngerasa gak produktif, gimana ya. Sebenernya aku suka nulis, suka diajak sharing, tapi seringnya kalo nulis malah kayak 'curhat'.
Dan aku khawatir yang baca mikirnya negatif aja gitu. Atau nulisnya kayak diary aja ya nggak perlu di post kemana-mana? Tapi tetap ngerasanya bukan hobi yang produktif.
ADVERTISEMENT
Jawab: Frekuensinya kita samakan dulu nih, produktifnya itu dalam arti apa? Dengan menulis aja itu udah produktif sebenarnya.
Jadi produktif itu kan kita memproduksi sesuatu yang kita gunakan untuk bisa melepaskan sesuatu hal yang bisa saja negatif. Kalau hobinya banyak gak apa-apa, tetep dilakuin aja itu produktif kok.
Kalau nulis diary ini sama saja seperti journal theraphy, yang berarti buat kita sendiri nggak perlu takut mau nulis apa, karena memang tidak untuk di-post. Beda kalau misalnya untuk di-post berarti kan kita sharing cerita seperti memberi saran yang dapat dibagikan kepada orang lain itu juga produktif.
Kalau hobinya drama korea itu sebenarnya bener-bener untuk relaksasi/refreshing, kombinasikan saja dengan drama yang happy atau sedikit mellow, yang penting tidak mempengaruhi kualitas perasaan atau terbawa emosi yang mendalam.
ADVERTISEMENT
Tanya: Alfizza - Jakarta. Mba Irma, apa benar kalau sering menahan emosi bisa bikin penyakit hati (kayak kanker hati atau yg lainnya)? Abisnya kalo aku nahan emosi, nyesek sendiri, terus dada nyeri.
Jawab: Memang kalau misal kita terlalu banyak menahan beban emosi negatif itu bisa mengakibatkan masalah fisik, mungkin bukan kanker hati atau lainnya, tapi memang pemicu dari penyakit-penyakit regenerasi ini kan adalah pikiran.
Jadi kalau pikirannya dalam kondisi yang kalut, udah pasti mempengaruhi nafsu makan, istirahat dsb. Akhirnya ya mungkin sel-sel kanker itu bekerjanya lebih aktif, makanya kenapa untuk meningkatkan imunitas itu seperti lebih bahagia, atau melakukan hal yang membuat hati menjadi senang.
Kenapa nyesek? Ya karena ditahan, makanya harus di cari media untuk melepaskan emosi negatif, seperti hobi. Intinya kenali perasaan kita sendiri, lalu kelola emosi dengan baik.
ADVERTISEMENT
Tanya: Mia - Mbak Irma gimana ya caranya mengubah emosi yang kadang suka merasa ‘useless’ dan sedih karena dulu biasanya aktif berkegiatan, cari uang sendiri. Sekarang kondisinya berubah jadi full time mom and wife?
Jawab: Nah sekarang jadi full time mom itu kebahagiaan apa yang didapat? Kadang-kadang kita selalu menegasikan sesuatu nih.
Sehingga sekarang mindset kita yang harus diubah, hal baik apa yang dirasakan saat menjadi full time mom? Misal kita jadi lebih tau anak kita, jadi lebih kreatif dalam memasak, dll.
Kita harus mengubah mindset berpikir kita, sehingga bisa cari tahu bahwa apa yang kita kerjakan sekarang itu ada hal baiknya yang bisa kita terima dan proses. Itu bisa meningkatkan level kebahagiaan. Apa yang kita lakukan ini bisa menjadi benih pahala, yang dapat dipetik oleh anak kita nanti.
ADVERTISEMENT
Tanya: Meita - Kebetulan saya working mom, saya juga LDR dengan suami sudah 3 bulan. Saya saat ini punya anak umur 4,5 tahun sudah TK dan PJJ, nah anak ku suka susah untuk diajak menghafal setelah sekolah dengan alasan mengantuk dll.
Bagaimana ya caranya agar dia bisa enjoy dan bagaimana mengatur untuk meredam emosi saya? Padahal saya sudah berusaha untuk mengajak anak saya untuk menghafal surat-surat pendek.
Jawab: Ada 2 hal, kalo terkait hafalan itu ada ‘struktur’ dan mungkin cara kita pada saat mengajar dia menghafal itu anak kan merekam energi nya ya, jadi misalnya dia melihat mama nya memburu-burui dia maka dia merasa caranya itu tidak menyenangkan.
ADVERTISEMENT
Mungkin bisa dengan mengajak hafalan nya dengan serileks mungkin, misal dengan menggunakan audio / video mungkin bisa menjadi motivasi untuk si anak. Lalu untuk reward yang diberikan itu memang harus konsisten, jika kita tau bahwa tidak setiap kejadian itu kita bisa rewarding mending jangan dijanjikan.
Jadi kita bisa langsung apresiasi saja dalam bentuk kata-kata atau pelukan. Cara kita menyampaikan itu mempengaruhi kualitas informasi yang anak terima
Tanya: Nurazizah - Kadang aku suka mendengar cerita orang lain, suami/pasangan mereka temperamental. Bagaimana caranya kita menghadapi orang seperti itu?
Jawab: Kalau menghadapi suami yang temperamental, ya artinya kita nya harus cool down dulu, karena ketika dia lagi emosional lalu kemudian kita percikan api, itu kebakarannya bisa heboh.
ADVERTISEMENT
Makanya kalau dia lagi marah-marah, kita harus kasih yang dingin-dingin misal dengan diam dulu, dengarkan saja dia mengoceh. Nanti kalau dia sudah tenang baru coba diajak minum, setelah dia lega, coba kita tanya baik-baik apakah dia mau cerita dengan kita?
Kalau dia tidak mau yasudah tidak usah dipaksa. Hati-hati juga temperamental ini biasanya perilaku, kalau dia biasa kasar mulutnya itu ada potensi bisa kasar juga secara fisik. Intinya, kenali dulu pasangan kita.
Ibu yang merawat fisik dan mentalnya secara berkala berarti juga sedang merawat anak-anaknya.
- Irma Gustiana (@ayankirma), Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga
====================
KELAS merupakan diskusi dan tanya-jawab online yang diadakan di grup teman kumparan. Di KELAS, kamu bisa berdiskusi dengan para pakar di bidangnya secara gratis. Yuk, gabung ke grup teman kumparan mom di Telegram melalui kum.pr/temankumparanMom. Jangan lewatkan keseruannya, ya!
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white