kumparan
19 Sep 2019 18:44 WIB

kumparanTALK Edisi 'Gue Single Terus Kenapa?'

Liputan khusus kumparan: Aku Single Terus Kenapa. Dok: Nunki Pangaribuan
“Jadikan waktu single ini sebagai momen untuk menikmati hidup dan mengenali diri sendiri, karena nantinya jadi bekal untuk dapat melanjutkan hubungan romantis ke jenjang yang lebih serius. Jadi buka hati dan pikiran untuk siap dengan segala opportunity yang akan datang!”
ADVERTISEMENT
Begitulah kata penutup yang diungkapkan Sri Juwita Kusumawardhani pada Jumat, 13 September 2019. Wita nama panggilannya, menjadi pembicara dalam program baru teman kumparan yaitu kumparanTALK (diskusi di grup WhatsApp teman kumparan dengan tema tertentu dan mengundang pembicara expert di bidangnya) yang diadakan di dalam WhatsApp group teman kumparanWOMAN.
Wita sendiri adalah seorang psikolog klinis dan founder dari Cinta Setara, sebuah firma yang berisi kumpulan psikolog dengan tujuan edukasi hubungan cinta yang sehat dan bahagia. kumparanTALK ini membahas tentang bagaimana perempuan yang single di atas umur 30 tahun mesti bersikap di tengah tekanan sosial dan berbagi pengalaman menjadi perempuan single. Berikut ini ringkasan diskusi kumparanTALK: Gue Single, Terus Kenapa?
Tanya: Gimana dampak psikologis mengenai wanita yang mengejar studi dahulu sebelum menikah? Aan apakah akan membuat 'pria' minder dengan pendidikan yang lebih unggul?
ADVERTISEMENT
Psikolog Wita: Jujur mungkin banyak pria yang merasa terintimidasi dengan gelar pendidikan seorang perempuan, tapi itu untuk pria-pria yang tidak berkualitas. Jadi jangan sampai perempuan menurunkan kualitasnya untuk bersama pria seperti itu. Meskipun sulit, tapi masih banyak pria yang bisa menghargai dan mensyukuri kelebihan perempuan dengan gelar pendidikan tinggi/lebih tinggi darinya.
Secara dampak psikologis, tentunya perempuan yang mengejar studi seperti ini akan terbentuk menjadi sosok yang mandiri dan bertanggung jawab--perlu diingat ini adalah hal yang positif. Namun, penting untuk diingat dalam hubungan romantis atau pernikahan, kita perlu berbagi tanggung jawab dengan pasangan.
Jadi, kita pun perlu belajar berkompromi dalam berbagi peran atau pun proses pengambilan keputusan dalam keluarga. Kita pun perlu mengapresiasi kelebihan dan apa yang sudah pasangan lakukan terhadap kita.
ADVERTISEMENT
Tanya: Apakah usia di atas 30 masih single dan belum pernah punya pacar itu normal?
Psikolog Wita: Normal saja. Namun, punya pengalaman hubungan romantis tentu akan menjadi keuntungan karena kita jadi tahu apa yang kita sukai/inginkan dan tidak inginkan dari hubungan atau pun pasangan. Kita pun perlu tetap memperluas pergaulan serta memiliki support system. Sering kali, ketika memasuki usia 30-an, orang-orang terdekat atau sahabat sudah memiliki keluarga masing-masing sehingga minim waktu untuk dihabiskan bersama kita, hal ini bisa berdampak pada perasaan kesepian/ditinggalkan.
Salah satu tugas perkembangan dewasa muda memang memiliki pasangan agar kita memiliki support system yang stabil. Namun, single dan happy tetap jauh lebih baik dibandingkan memaksakan hubungan padahal hubungan tersebut tidak membahagiakan ataupun berkekerasan.
ADVERTISEMENT
Tanya: Bagaimana cara wanita single menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar terutama dari keluarga dan orang terdekat?
Psikolog Wita: Memang ini adalah hal yang sulit dihindari ketika tinggal di Indonesia, jadi perlu membesarkan hati untuk mendengarkan permintaan keluarga atau orang terdekat. Jika cukup nyaman, bisa tanyakan apakah memang mereka punya solusinya (dibandingkan hanya menekan saja)? Jika dikenalkan, maka jangan menutup diri, berkenalan saja dulu sebagai bentuk memperluas pergaulan, bisa jadi ini pintu untuk ketemu dengan potential partner sebenarnya.
Kamu pun dapat mengekspresikan isi hati dalam bentuk tulisan (bukan media sosial) seperti di buku atau surat lalu menghancurkan tulisan tersebut sebagai bentuk simbolis menghancurkan emosi negatif tersebut.
Ilustrasi perempuan single. Dok: Pinterest.
Tanya: Saat ini aku usia 24 tahun, sedang sekolah sambil kerja. Gak pernah kepikiran untuk menjalani suatu hubungan spesial dengan lawan jenis, karena dalam pikiran tuh cuma pengin main-main saja, untuk serius kayanya gak dulu deh. Karena takut saat ada hubungan serius, kebebasan aku jadi berkurang. Dan tiba-tiba dalam beberapa bulan yang lalu, gak sengaja ketemu sama cowok yang kalau diceritain itu benar-benar unik dan aneh banget. Dia ngajak untuk serius, sampai sudah dikenalin ke keluarga besar kedua orang tuanya. Dan sekarang aku bingung, harus bagaimana? Sedangkan aku masih pengin main-main dulu.
ADVERTISEMENT
Psikolog Wita: Di usiamu saat ini, wajar banget kalau memang belum siap untuk menikah, jangan dipaksa juga, ya. Tapi coba evaluasi, hal positif dari laki-laki tersebut, terus diskusi dulu mau membangun rumah tangga yang seperti apa (mencoba diskusi visi misi kehidupan), makanya sebelum menikah penting banget untuk paham mengenai diri sendiri.
Perlu jelas dulu, maksudnya main-main di sini apakah main-main seperti travelling atau hang out bersama teman-teman, atau casual relationship (hubungan tanpa ikatan dengan lawan jenis). Karena kata siapa sudah menikah tidak bisa menikmati hidup? Hehehe. Meskipun memang benar pasti akan ada tanggung jawab, tapi kalau sudah didiskusikan dengan calon pasangan, kamu masih bisa lho untuk menikmati hidup.
Tanya: Mengapa perempuan single terlihat cenderung ingin melakukan semua hal sendiri, tidak ingin membutuhkan orang lain?
ADVERTISEMENT
Psikolog Wita: Ya karena single, jadi mungkin harus menyelesaikan segala sesuatunya sendiri. Padahal bukan berarti mereka tidak butuh dibantu, ya. Jadi memang perlu lebih asertif (berani mengungkapkan atau mengekspresikan pendapat dan perasaan) juga kalau memang lagi butuh bantuan orang lain. Itu sangat manusiawi kok, jadi jangan merasa lemah. Di sisi lain, laki-laki pun kadang tidak mengerti bahwa si perempuan ini butuh bantuan jika memang tidak dikomunikasikan. Oleh karena itu, jujur pada diri sendiri dan orang lain perlu dilatih dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Tanya: Saat ini saya berusia 32 tahun. Kenapa ya saya punya rasa malas untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis padahal sudah masuk usia 30-an, dan malah belum terpikirkan untuk menikah?
ADVERTISEMENT
Psikolog Wita: Biasanya semakin bertambah usia, semakin malas untuk menjalin hubungan romantis, karena malas harus mengulang dari 0 lagi, malas jatuh bangun lagi. Ditambah lagi jika memang pernah ada pengalaman hubungan romantis di masa lalu yang tidak menyenangkan. Bisa juga karena role model di lingkungan sekitar memiliki pernikahan yang tidak membahagiakan membuat seseorang menjadi semakin malas atau takut.
Saran saya, jika memang ada pengalaman tidak menyenangkan, yuk mulai coba cari bantuan profesional agar bisa lebih damai hidupnya. Tentunya, jangan lupa juga untuk menikmati hidup ya, hopefully akan 'menarik' juga orang yang sudah bahagia dan siap untuk saling membahagiakan.
Tanya: Bagaimana risiko bagi perempuan yang single hingga umur 30 tahun?
Psikolog Wita: Hmm, risikonya mungkin lebih ke memperoleh tekanan dari lingkungan sekitar. Bisa juga jadi stres sendiri, kalau memang sebenarnya itu hal yang ia inginkan cuma karena belum ketemu sama yang cocok jadinya ya belum bisa menikah. Tapi kalau individunya memang masih menikmati hidup, harusnya ya tidak apa-apa. Walaupun yang perlu diingat, semakin bertambah usia, semakin karakter kita kuat terbentuk, makin lama makin susah juga kita berkompromi dengan orang lain.
ADVERTISEMENT

Semakin bertambah usia, semakin karakter kita kuat terbentuk, makin lama makin susah juga kita berkompromi dengan orang lain.

Tanya: Bagaimana sikap kita bahwa kita membuka hati untuk mengenal siapa pun biar gak keliatan kita ngebet nikah karena usia?
Psikolog Wita: Nah, memang tricky banget ya kalau sudah bertambah usia, biasanya lingkaran pertemanan juga semakin mengecil. Makanya penting banget untuk tetap aktif dengan ikut komunitas atau punya hobi yang dapat membuat pergaulan kita semakin luas agar tetap bertemu dengan orang baru atau mungkin reconnecting dengan teman (ini juga suatu pilihan ya, asalkan teman lamanya memang single dan belum berkeluarga).
Menurutku pribadi, ya jangan terburu-buru, kita berteman saja dulu, dari sana nanti akan terlihat kan pribadinya seperti apa. Jika memang sudah sreg, baru masuk ke pembicaraan yang serius. Karena kalau terburu-buru juga khawatir jika kita jadi melewatkan sinyal-sinyal yang membahayakan (seperti bad temper atau kasar).
Ilustrasi perempuan single. Dok: Pinterest.
Tanya: Kira-kira di umur berapa untuk bisa berkompromi dengan orang lain?
ADVERTISEMENT
Psikolog Wita: Sebenarnya ini tergantung dari pribadinya juga ya, ada yang secara karakter tergolong agreeableness atau mudah untuk berkompromi dengan orang lain. Nah, tapi semakin kita berusia (35 tahun ke atas), biasanya kan kepribadiannya sudah lebih terbentuk, preferensi juga sudah ada sejak lama, sehingga cenderung lebih sulit untuk berkompromi dengan orang lain.
Tanya: Apa ada yang salah dari diri saya hingga hampir memasuki usia 30 belum menemukan pasangan yang cocok? Apakah ada tips untuk mengetahui atau mengenali diri sendiri sehingga dapat menemukan pasangan yang tepat?
Psikolog Wita: Kalau memang sudah pernah punya hubungan romantis sebelumnya, coba dievaluasi apakah sikap positif dan sikap yang masih perlu ditingkatkan dari pengalaman-pengalaman tersebut. Selain itu, coba cek, kamu ingin hubungan yang seperti apa, pernikahan yang seperti apa. Misalkan nih, kamu ingin nantinya jadi wanita yang tetap bekerja atau justru ingin bekerja dari rumah, cari pasangan yang dapat memahami hal tersebut dan mendukung kamu. Jadi bisa cek value atau hal-hal yang kamu anggap penting dalam hidup, misalkan: yang jadi top priority kamu adalah keluarga, nah carilah orang yang juga bersedia untuk membahagiakan keluargamu.
ADVERTISEMENT
Top 10 values: Keluarga, Persahabatan, Personal Growth, Hubungan Romantis, Komunitas, Kesehatan, Spiritualitas, Lingkungan dan Alam, Pekerjaan, dan Kehidupan Rekreasi. Nah, coba lihat, mana yang menjadi top 3 kamu, fokus untuk menyukseskan tiga hal tersebut dan cari orang yang juga siap mendukung hal tersebut.
Tanya: Jika nantinya sudah memiliki hubungan, bagaimana caranya untuk membagi waktu antara pasangan dengan pribadi?
Psikolog Wita: Punya hobi, punya me time, perlu banget walaupun kita sudah punya pasangan/menikah, bahkan kalau sudah punya anak. Yang paling penting didiskusikan di awal dan juga komunikasikan, ya. Pribadi yang sehat mental akan memberikan dampak positif pada hubungan romantisnya juga, jadi penting untuk punya waktu pribadi.
Tentunya perlu ingat-ingat juga, karena sudah berkomitmen, artinya kita pun perlu mempertimbangkan pasangan. Namun, pasangan yang baik juga akan mendukung ya, karena kalau punya me time saja dihalangi, sama saja dengan hubungannya tidak sehat. Intinya, seimbangkan hidup teman-teman, jangan terlalu kurang ataupun berlebihan. Hehehe.
ADVERTISEMENT
Tanya: Jadi giniii, sahabatku saat ini udh otw 27 umurnya, mgkn buat sebagian org msh santai ya, tp bbrp jg berpikir itu umur yg udh mulai warning kl msh single. Nah, dia 2x batal nikah krn pasangannya selingkuh. Setelah 2x batal itu, dia udh pernah 2x lg coba pacaran lg, tp kandas jg. Skrg dia insecure dan di tahap yg males utk jalin hubungan but at the same time dia jg udh "dikejar" usia. Kira2 hrs gmn ya? Dan mgkn aku sbg sahabat bisa bantu apa?
Psikolog Wita: Wah berat ya pengalaman sahabatmu, aku turut sedih mendengarnya. Jujur kalau begini, aku menyarankan untuk dapat bantuan profesional dan melakukan konseling atau mungkin juga terapi agar tidak trauma lagi. Jujur kasus seperti ini sering ku temui di ruang praktik, biasanya mereka datang dari keluarga yang juga bermasalah, sehingga isu-isu psikologisnya memang cukup banyak, salah satunya adalah 'menarik' pria-pria bermasalah. Nah, kalau untukmu sebagai sahabat, mungkin bisa mengajak dia untuk segera mencari bantuan profesional ya.
ADVERTISEMENT
Tanya: Bagaimana sebaiknya sikap kita terhadap orang tua/rekan kerja/keluarga yang selalu memberi saran untuk menikah dahulu lalu studi lanjut sedangkan saya sendiri belum punya calon dan saya masih punya cita-cita untuk studi S2? Usia saya 24, kak.
Psikolog Wita: Singkatnya, kita tidak bisa mengatur dan mengontrol orang lain. Jadi kita terima saja dan dengarkan, tapi bukan berarti kita harus melakukan apa yang mereka minta. Mungkin kamu bisa nego dengan keluarga, bahwa jika kamu studi lanjut atau S2 artinya lingkungan kamu nantinya akan lebih dapat menawarkan potential partner yang jauh lebih baik dari segala aspek juga. Hehehe.
Mau ikutan diskusi seru di kumparanTALK?
Yuk gabung WhatsApp group teman kumparan sesuai dengan topik yang kamu sukai:
ADVERTISEMENT
→ klik di sini untuk gabung ke WhatsApp group Teman kumparan MOM (mom dan parenting)
→ klik di sini untuk gabung ke WhatsApp group Teman kumparan WOMAN (beauty, isu perempuan dan lifestyle)
→ klik di sini untuk gabung ke WhatsApp group Teman kumparan BISNIS & TECHNO (finansial, usaha, ekonomi bisnis, startup)
→ klik di sini untuk gabung ke WhatsApp group Teman kumparan OTO (otomotif)
→ klik di sini untuk gabung ke WhatsApp group Teman kumparan BOLA (sepak bola di dalam dan luar negeri)
→ klik di sini untuk gabung ke WhatsApp group Teman kumparan MILENIAL (jokes, zodiak, brand kekinian, current issues)
→ klik di sini untuk gabung ke WhatsApp group Teman kumparan FOOD (kuliner)
ADVERTISEMENT
→ klik di sini untuk gabung ke WhatsApp group Teman kumparan TRAVEL (perjalanan wisata di dalam dan luar negeri)
Yang mau tahu profil Wita, klik di sini ya!
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan