kumparan
KONTEN PENGGUNA
6 Februari 2020 19:35

Melatih Anak untuk Sehat Mental dan Say No To Body Shaming

Roslina Verauli sudah berkarir sebagai psikolog anak dan keluarga selama 18 tahun. Permasalahan-permasalahan perkembangan psikologi anak dan keluarga sudah ia temui dari A hingga Z. Menurutnya ada tantangan dan kelebihan yang sangat berbeda untuk keluarga saat ini.

WhatsApp Image 2020-02-06 at 16.59.14.jpeg
Roslina Verauli - dok: Roslina Verauli
Untuk masalah cerita-cerita masalah pasien hadapi, Mbak Vera, begitu sapaannya, bercerita tentang apa saja yang biasanya pasien ceritakan dan keluhkan. Mulai dari cerita-cerita anak yang tidak berkembang sesuai umurnya, tentang masalah depresi di kalangan remaja, hingga masalah-masalah pernikahan.
ADVERTISEMENT
"Beda-beda (yang diceritakan), paling banyak perempuan. Bervariasi. Anak: gangguan perkembangan anak, remaja: dulu berpacaran beberapa tahun lalu orientasi seksual yang tidak umum 2-3 tahun belakangan depresi sudah sampai suicide, keluarga: perselingkuhan," ujar Vera kepada kumparan.
Expertise dari Vera tentang masalah psikologi anak memang tidak perlu diragukan lagi. Berkarir selama 18 tahun, ia juga pernah menjadi konselor psikolog di beberapa film seperti Susah Sinyal dan Imperfect, serta juga menjadi saksi ahli psikolog di pengadilan.
Ketika ditanya tentang psikologi anak, Vera memberikan beberapa tanda-tanda apakah ada masalah atau tidak di diri anak. Menurutnya, ketika anak tidak tumbuh sesuai dengan usianya, itu sudah menjadi tanda-tanda ada hal yang perlu dipastikan dan disarankan untuk bertemu dengan psikolog.
ADVERTISEMENT
"Macam-macam tanda anak harus ke psikolog. Satu, ketika tumbuh kembang anak tidak sesuai dengan pertumbuhan semasa usianya. Jangan tunggu saat ada masalah... lebih baik mencegah daripada mengobati," jelas Vera.
"Kedua, anak mengalami perubahan perilaku. Ketiga, terhambat menjalani fungsinya. Misalnya, bermain, bersosialisasi, dan lain-lain," lanjutnya.
Untuk mencegah hal-hal diatas, Vera menjelaskan adanya delegasi antar pasangan untuk membantu agar anak bisa berkembang secara sehat. Selain itu, dengan perkembangan teknologi dan banyaknya support system yang tersedia justru bisa memudahkan orang tua membesarkan anak yang sehat dan berkembang semestinya.
"Delegasi tugas pada support system, jeli melihat support system contohnya online pesan makanan. Anak jangan dibiarkan sendiri, bagi tugas dengan pasangan," ujar Vera.
kumparan TALK (3).jpg
poster kumparanTALK - dok:kumparan.com
Nah, teman kumparan juga sempat ngobrol dengan Vera tenang Body Shaming dan bagaimana efeknya kepada psikologi seseorang dalam kumparanTALK. Yuk simak cuplikannya di bawah ini:
ADVERTISEMENT
Q: halo Mbak Vera, apakah dengan adanya body shaming, seseorang boleh berubah drastis sampai harus menyakiti diri sendiri dan orang sekitar?
A (Vera): mengapa harus menyakiti diri sendiri dan orang sekitar? Ketika ada pernyataan-pernyataan body shaming yang ditujukan kepada diri kita artinya belum tentu berkaitan dengan diri kita yang menjadi masalahnya, bisa saja orang yang mengutarakan tentang body shaming (pelaku) sebetulnya memiliki penghayatan diri yang sangat negatif sehingga acuan-acuan hidup adalah tentang aspek-aspek fisik dan memang pernah menjadi korban body shaming sehingga mereka butuh untuk mengatasi perasaan yang tidak nyaman, inferiority-nya, mengatasi perasaan-perasaan insecurenya dengan menyakitkan hal yang sama ke orang lain… jadi hati-hati pada saat kita menjadi korban body shaming, jangan terlalu diterima bulat-bulat karena saya khawatir pelaku body shaming itulah yang punya masalah terhadap diri sendirinya.
ADVERTISEMENT
Q: sebagai ibu, bagaimana nih Mbak kita menghindarkan anak dari body shaming?
A (Vera): kita coba mulai dari rumah yuk… anak dibantu punya penghayatan bahwa dirinya berharga, dirinya dicintai sehingga mereka mampu protect dirinya sendiri, saat mereka diledekkin mereka dikata-katain aspek fisik dan pertumbuhan dirinya, dia mampu defense dirinya sendiri… jadi rahasianya yuk kita bantu anak di rumah supaya punya penghayatan positif (anak merasa dirinya berharga dan dicintai) lalu yang paling penting bantu anak agar punya power di rumah, bantu anak agar punya kesempatan untuk berkata tidak untuk menunjukkan penolakan, untuk berdiskusi. Ketika anak punya power, anak punya kuasa atas dirinya kelak dia akan punya pernyataan yang sama di luar rumah… jadi kalau kita pengin anak ikut rules, kita nggak paksa anak lalu kita ajak diskusi agar paham makna rules yang kita berikan dan disiplin yang kita terapkan, kita bantu anak punya shield…
ADVERTISEMENT
Q: Bagaimana cara menghadapi perlakuan body shamming yang justru dari orangtua sendiri, sudah dikasih pengertian ke diri sendiri namanya juga orangtua jaman dulu gatau itu body shaming, tapi tetap lebih sakit perkatan orang tua daripada orang luar
A (Vera): nah pada saat kita masih terkenang-kenang dengan perasaan sakit body shaming yang dilakukan orang tua/orang dewasa di sekitar di masa kanak-kanak kita dulu, yang butuh kita lakukan adalah pahami apa yang ditujukan orang tua pada saat itu apakah betul ingin mengolok-olok anaknya atau sebetulnya orang tua concern dengan keadaan fisik anaknya, nah concern-nya orang tua kadang kala tidak disampaikan dengan cara positif ternyata nggak semua orang tua tahu cara menyampaikan dengan baik, mungkin cara-caranya terkesan sarkas, agresif dan menyakitkan, nah kalau masih terkenang dengan apa yang dikatakan orang tua, coba pahami dulu apa sih yang mereka maksudkan dari perspektif mereka…
ADVERTISEMENT
Kemudian yang kedua lakukan introspeksi. Ingat apapun yang orang lain katakan kepada kita, bisa saja adalah manifestasi dari masalah pribadi pelaku namun bisa jadi menjadi bahan introspeksi bagi diri kita apa ada kondisi fisik kita yang perlu ditingkatkan, contoh tubuh kita terlalu gemuk dan bisa saja banyak aspek kesehatan yang mengganggu kita bisa benahi atau bisa saja saat rambut kita tidak rapi.
Yang ketiga ingat disaring pernyataan tadi, terima di bagian-bagian yang anda inginkan karna kita punya hak untuk tidak menerima pernyataan orang lain
c2qltdyalamfpdzv8wd7.jpg
ilustrasi self love - dok: Shutterstock
Q: halo mbak veraaa, mau tanya. bagaimana sih caranya berdamai pada diri sendiri ketika apa yg dikatakan org terkait body shaming itu benar? misal, mereka bilang saya gendut padahal memang iya kenyataannya dan bagaimana juga caranya untuk mencoba mencintai diri sendiri?
ADVERTISEMENT
A (Vera): nah ini nih, misalnya body shaming itu memang bagian dari kenyataan yang ada diri kita. betul adalah apa yang dikatakan orang lain, namun kita punya hak lho untuk tidak menerima pernyataan yang kita rasa menyakitkan. kita saring, lalu kita terima di penyataan yang rasanya tepat untuk kita terima. Ketika orang betul-betul care dan paham cara menyampaikan, ia akan menyampaikan masukan agar kita being supported. Tapi sayang nggak semua orang punya kemampuan untuk menyampaikan cara-cara yang sifatnya supporting.
Itu sebabnya cara yang paling ampuh untuk mengatasi body shaming adalah dengan belajar mencintai diri sendiri, apa itu self-love. Self-love yang dimaksud adalah kepedulian jadi kita mulai peduli sama diri sendiri, love kan peduli care. Saat kita peduli dan cinta sama diri kita sendiri, kita kan pengin mendapat perlakuan yang baik pantas dan tepat.
ADVERTISEMENT
Contoh: saat makan kita tahu bahwa tubuh kita layak dapat makanan yang sehat, yang baik untuk diri kita. Self love bukan kita menerima keadaan buruk yang ada di diri kita, kita membiarkan apa adanya diri kita begitu saja. Itu keliru, miskonsepsi. Justru dalam self-love kita cinta sama diri kita, kita sensitif terhadap kebutuhan diri kita, misal tidur mesti 8 jam karna kalau kurang tidur anda akan selalu lapar, tidurlah pada jamnya. Kita peka dengan kebutuhan diri. Mereka sayang dengan dirinya akan mampu mengelola dirinya dalam versi-versi yang baik terhadap dirinya, indah dan sehat terpelihara.

Self love bukan mengabaikan diri, makan berlebihan, duduk-duduk depan tv, yang ini namanya self-indulgence, memanjakan diri yang nantinya buruk untuk kehidupan diri di kemudian hari bahkan sebetulnya adalah manipulasi untuk dirinya. Semoga di kemudian hari kita dapat mencintai diri kita dengan cara yang pantas…

ADVERTISEMENT
Q: Sebagai orang tua tentunya kita akan selalu jadi pahlawan buat anak. Bagaimana respon yang baik dalam menghadapi situasi ketika anak kita mengalami body shaming di sekolahnya?
A (Vera): anak butuh pengalaman positif dan negatif, mungkin saat itu anak nggak mampu untuk menghadapi dengan sangat baik namun memberi kesempatan untuk tidak mengintervensi yang merupakan bentuk menghargai pertemanan anak artinya anda sedang memberi space anak untuk mampu merespons dan menghadapi situasi sulit.
Lalu kapan kita membantu?
Nanti saat anak pulang ke rumah, kita diskusikan dengan anak. Contoh ‘Mama dengar tadi guru menyebutkan kamu dan si A bertengkar ngomongin tentang ejek-ejek main fisik. Apa yang kamu lakukan?’ Tanyakan apa yang dia lakukan, apa yang dia rasakan, apakah dia mampu berbaikan lagi dengan temannya, nah ketika si anak berada dalam masa yang sulit untuk diceritakan kejadian sebenarnya, dia butuh bantuan. Anda jelaskan dari versi anak dan bantu anak bimbing anak, arahin anak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan, dia sadar bagian mana yang bikin dia sakit hati. Lalu ketika si anak masih terganggu, bantu dia untuk menjelaskan ke anak bahwa ia perlu menjelaskan ke temannya bahwa si anak tidak senang apa yang temannya lakukan dan bantu anak untuk defense untuk dirinya, bukan kita yang deferense melainkan membantu anak, sehingga kelak anak lebih ready mengatasi berbagai tantangan kehidupan yang mungkin aja nggak selalu indah…
ADVERTISEMENT
Q: Bagaimana jika seseorang menghadapi situasi pertama body shaming lalu kemudian dia dipojokkan dengan pernyataan yang mengarah ke psychological attack.. Jadi seperti memojokkan tapi mengarah pada kepribadiannya? Apakah yang harus dilakukan ortu jika mendapati anak menjadi korban dari body shaming yang mengarah pada psychological attack?
A (Vera): Ketika body shaming pada level psychological attack bukan permainan anak-anak… Anak kita menjadi korban... Anak-anak tidak akan mampu mengatasi situasinya, anak dianjurkan untuk melaporkan kepada gurunya sehingga guru melakukan sesuatu… Atau jika guru sudah melakukan sesuatu namun belum ada permintaan maaf dan situasinya tidak lebih baik, anda bisa melaporkan kepada principal atau kepala sekolah sehingga bisa diselesaikan dengan baik…
Nah kalau kita yang menghadapi langsung psychological attack, maka kita pertanyakan kembali ‘maksudnya apa ya?’ apa yang dilakukan orang lain oleh aksi dan pernyataan mereka akan membuat pelaku berpikir 2x untuk mengulang aksinya. Namun jika pelaku mengulang perbuatannya, anda boleh lho untuk defense atas diri anda, bahwa anda terganggu dengan sikap dan ucapan pelaku dan dampaknya pada anda ABCDEFGHIJ, langsung anda bahas bahwa orang tersebut tidak boleh melakukan itu, gunakan teknik i Message. Maklum tidak semua orang bisa merespons dengan tepat, ketika kita sudah menunjukkan aksi-aksi defense, yang penting kita menunjukkan baik itu aksi elegan atau agresif.
ADVERTISEMENT
Q: Based on friend's experience.. Bagaimana jika dia sudah melakukan defense dan mengatakan bahwa dia tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh pelaku tetapi pelaku malah semakin menjadi2 dan disertai kekerasan fisik seperti misal nya menjambak rambut korban?
A (Vera): ketika case seperti ini, ketika mereka (korban) punya pilihan untuk tidak berada dalam situasi yang menjadikan dia sebagai obyek akan sangat baik karna ketika dia defense masih terabaikan dan bahkan berubah menjadi kekerasan, ini aksi agresif lho apalagi ketika aksi agresifnya sudah memalukan. Si korban boleh lho melaporkan kepada siapa yang berwenang di sana, ini sudah masuk ke kategori kekerasan, kalau kekerasan bisa kita sue lho atau diperkarakan lho. Kita butuh semakin aware dan semakin sadar, begitu kita merasa mengalami kekerasan...
ADVERTISEMENT
Tertarik ikut keseruan di dalam Whatsapp Grup Teman kumparanTRAVEL?
Ayo gabung di sini!
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan