kumparan
KONTEN PENGGUNA
30 Januari 2020 19:06

Mengubah Pengalaman Travel menjadi Skrip Film

Untuk seorang Swastika Nohara, melakukan riset untuk film masih hampir sama pentingnya untuk menulis film. Karena itulah melakukan travel dan bertemu orang-orang hampir sudah menjadi kewajiban untuk Tika saat akan menulis skrip untuk film-filmnya.

WhatsApp Image 2020-01-24 at 15.26.34.jpeg
Swastika Nohara - dok: pribadi
Sebut saja film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, ia harus pergi ke Ambon untuk melakukan riset tentang konlfik Ambon yang menjadi latar belakang film ini. Atau ketika ia harus bertemu dengan Tiga Srikandi, Nurfitriyana Saiman Lantang, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani, untuk film dengan judul yang sama.
ADVERTISEMENT
"Berada di tengah massa penyambutan jenazah napiter bom Bali, riset kerusuhan Ambon di Ambon, ketemu Tiga Srikandi Indonesia jadi penulis tidak terlupakan saat menjadi penulis skrip," ujar Tika kepada kumparan.
Alumni Goldsmith College University ini menceritakan jika menjadi penulis skrip adalah profesi yang menyenanagkan. Dengan hobi berjelajah ke tempat baru, membuat setiap proses dalam pekerjaan ini menyenangkan.
Meskipun deadline dan jam kerja yang kadang tidak bersahabat. Baginya, proses adalah segalanya dalam menulis skrip. Lalu melihat tulisannya ditafsirkan di layar lebar juga menjadi kebanggan tersendiri.
"Menyenangkan prosesnya dan melihat hasilnya, involves traveling & meeting interesting people, deadline & working long working hours," ujar Tika.
Sekarang, ia sedang fokus untuk menyelesaikan skrip untuk film-film terbarunya. Tika bercerita, jika saja ia nanti ada kesempatan untuk menulis film lagi, menulis film psychological thriller menjadi sasaran utamanya.
ADVERTISEMENT
Jika ada yang ingin ia sampaikan untuk para Teman kumparan, ia hanya berpesan untuk lebih sering untuk traveling lagi. Karena menurutnya waktu tidak bisa didapat lagi jika sudah hilang.
"Traveling mumpung masih muda," pesan Tika kepada Teman kumparan.
kumparan TALK.jpg
poster kumparanTALK - dok: kumparan.com
Nah, Tika juga sempat ngobrol dengan teman kumparan di kumparanTALK tentang pengalamannya saat travel dan melihat perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat. Mau tahu gimana keseruannya? Simak tanya jawab di bawah ini:
Q: perayaan Cap Go Meh di Singkawang itu sama halnya pada perayaan Cap Go Meh pada umumnya atau lebih meriah lagi kerena ada beberapa kegiatan seru?
A (Tika): kalau perbandingannya kota-kota lain di Indonesia, iya LEBIH MERIAH BANGET. Seakan seluruh kota menantikan dan menyambut perayaan Cap Go Meh gitu loh... mungkin karena populasi keturunan Tionghoa di sana banyak. Warga seluruh kota tumpek blek di jalan-jalan utama pas hari perayaan Cap Go Meh itu, utamanya buat menyaksikan pawai Tatung. Ada juga pawai lain kayak lampion, kendaraan hias dll tapi yang paling ditunggu ya pawai Tatung alias Lou Ya itu. bahkan ribuan orang dari luar kota, luar pulau dan luar negeri (biasanya negara2 tetangga) berdatangan juga untuk menyaksikan perayaan ini.
ADVERTISEMENT
Kegiatan puncak yg ditunggu ya pawai Tatung, dan ratusan Tatung itu beratraksi unjuk 'kesaktian', misalnya dengan menunjukkan ilmu kekebalan tubuhnya. satu Tatung bawa rombongan banyak, buat mengiringi jalannya, buat nabuh musik dan lain-lain. Jadi kebayang pawainya bisa berkilo-kilo meter. terus, di tempat-tempat strategis, misalnya di sebuah kelenteng besar, mereka akan berdoa. Lalu di halaman kelenteng tsb mereka akan melakukan atraksi unjuk kekebalan tubuh itu tadi... misalnya menusuk pipinya pakai besi tajam sampai tembus... mengiris-ngiris tangannya pakai golok dll.
Nah, para Tatung ini katanya adalah perantara, membawa pesan dari alam sana, mereka bisa kebal begitu karena trance/kerasukan ruh dewa-dewanya. Kerasukannya bisa sehari penuh, sejak pagi-pagi hingga sore atau malam... bayangkan seharian trance. Sambil jalan keliling kota, sambil atraksi dll. Butuh energi yang luar biasa.
ADVERTISEMENT
Q: Kira-kira moda transportasi apa sih Mbak yang bisa diakses dari Pontianak menuju Singkawang?
A (Tika): Moda transportasi dari Pontianak ke Singkawang kami berempat waktu itu sewa mobil karena sekalian buat kelilingan selama berada di Singkawang. Kata kawanku ada bis juga kalau nyari kendaraan umum. kabarnya sekarang lagi dibangun bandara di Singkawang biar nanti ada direct flight dari Jakarta ke Singkawang. Kalau perginya berempat atau lebih, mungkin lebih efisien menyisihkan budget utk sewa mobil dari Pontianak, karena memudahkan transportasi selama di singkawang juga
WhatsApp Image 2020-01-29 at 19.25.22.jpeg
Pawai Tatung saat Cap Go Meh di Singkawang - dok: pribadi
Q: Dari semua kegiatan di sana, sisi mana yang paling menarik dan berbeda dari kegiatan yang serupa.. Ohiya apabila bertemu turis asing di Singkawang, kira-kira ada informasi yang menarik yang bikin mereka mau datang ke Cap Go Meh di Singkawang?
ADVERTISEMENT
A (Tika): Sisi yang menarik buat aku ketika kesana adalah setelah selesai pawai, para Tatung yang tampak sakti enerjik luar biasa itu, gimana ya kesehariannya? Sayangnya pas ke sana aku nggak ketemu turis bule. Tapi kalau turis dari Malaysia gitu katanya budaya semacam ini mirip di komunitas Tionghoa negerinya ada juga, tapi di Singkawang lebih meriah, lebih massive.
Q: Waktu Cap Go Meh di Singkawang, Mbak Tika berapa lama stay di sana? Sudah book dari jauh-jauh hari atau nggak? Estimasi biayanya berapakah?
A (Tika): Naaaah itu dia.... aku waktu itu cukup mepet berangkatnya, karena spontan hasil obrolan sama 2 orang teman. Kita berangkat udah H-3 gitu, dan akibatnya semua hotel udah penuh! Jadi sebaiknya memang book hotel/hostel/penginapan jauh-jauh hari sebelumnya, Kami waktu itu sekitar 5 hari di sana, karena ingin lihat kotanya juga dalam suasana yang biasa di luar kemeriahan Cap Go Meh. budget bisa hemat tergantung pilihan hotelnya, banyak pilihan hotel yg sederhana dan nggak mahal.
ADVERTISEMENT
Tiket pesawat Jkt ke Pontianak mulai dari 500 ribuan hingga 1.2 jutaan lah. penginapan dari yang 200.000/malam ada. Misalnya swissbel-inn gitu 600 ribu/malam.
Q: Ada tipsnya Mbak saat menonton pawai di sana?
A (Tika): Tips kalau pengin nonton langsung: penonton sebaiknya memakai topi dan membawa bekal air minum agar tidak dehidrasi. Sebab begitu sudah berada dalam kerumunan penonton pawai Tatung, akan sulit keluar untuk membeli air minum. Dan begitu udah keluar dari kerumunan, akan sulit untuk balik lagi ke spot yang sama, apa lagi kalau spot nontonmu strategis... pasti langsung diambil orang lain.
Acaranya seharian banget, makanya... Tapi penonton mah bebas mau nonton sejam aja boleh, nonton 8 jam juga boleh.
ADVERTISEMENT
Q: Pernah interview beberapa pengunjung lain nggak Mbak kenapa mereka sengaja datang ke Cap Go Meh Singkawang?
A (Tika): Oiyaaa... semua jawabannya sama: mau liat atraksi Tatung2nya. Di Singkawang itu ada banyak banget kelenteng, tersebar di seluruh penjuru kota, makanya disebut kota Seribu Kelenteng. Nah, tiap kelenteng pasti punya deretan lampion gitu kan, jadi seni membuat lampion kertas itu penting banget di sana. Aku sempat ketemu perajin lampion yang sudah berkarya sejak zaman presiden Soekarno.
Udah tua banget engkongnya, tapi masih cekatan membelah rotan, menganyam utk kerangka lampion, memotong kertas, memasak lem sagu, lalu mengelem kertas-kertas itu menjadi lampion. Lalu ditulisin pakai aksara Cina pakai kuas.
Anyway… Makanan di Singkawang juga banyak yang enak, terutama masakan peranakan Cina-Melayu.
ADVERTISEMENT
Q: Acaranya berapa hari, Mbak?
A (Tika): acara puncaknya sehari, tapi H-1 udah ada pawai lampion. dan beberapa hari menjelang hari-H udah ramai banyak tarian naga di jalan utama, tapi sporadis diadakan oleh rombongan Tatung yang bikin show untuk menggalang dana.
Tertarik ikut keseruan di dalam Whatsapp Grup Teman kumparanTRAVEL?
Ayo gabung di sini!
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan