Mom
·
18 November 2020 17:31

Teman Curhat Bersama Psikolog Sri Juwita K., M.Psi (2)

Konten ini diproduksi oleh Teman kumparan
Teman Curhat Bersama Psikolog Sri Juwita K., M.Psi (2) (48291)
Ilustrasi wanita cemas, stres atau depresi Foto: Shutterstock
Kondisi pandemi ini membuat semua serba tak menentu. Bukan hanya was-was soal kesehatan fisik, tetapi juga membuat kondisi psikologis kita jadi tidak stabil. Tak terkecuali bagi ibu yang setiap harinya menjalani aktivitas yang multiperan.
ADVERTISEMENT
Teman kumparan membuat Program Teman Curhat khusus untuk member yang tergabung di grup online resmi komunitas teman kumparan Mom. Lewat Teman Curhat, teman kumparan bisa berkonsultasi, diskusi, dan curhat dengan psikolog yang ahli di bidangnya.
Pada Selasa (10/11), Teman kumparan Mom telah berkonsultasi dengan Sri Juwita K., Psikolog Keluarga yang sedang berpraktik di Tiga Generasi dan LPT UI. Selain sibuk berpraktik sebagai psikolog, wanita yang kerap disapa Wita ini juga merupakan Founder dari komunitas @cintasetara.
Tak hanya itu, pemilik akun Instagram @ladywitts ini juga merupakan salah satu penulis dari buku Anti Panik Mempersiapkan Pernikahan. Ia juga aktif menjadi narasumber untuk talkshow dan kelas di berbagai media online serta offline.
ADVERTISEMENT
Penasaran seperti apa isi dari curhatan teman kumparan Mom dan bagaimana Mbak Wita menjawabnya? Simak rangkumannya di bawah ini, yuk!
Teman Curhat Bersama Psikolog Sri Juwita K., M.Psi (2) (48292)
Teman curhat bersama psikolog Sri Juwita Kusumawardhani, M.Psi. Foto: kumparan/Masayu Antarnusa.
Curhatan: bagaimana menurut Mbak mengenai me time bagi seorang ibu dan caranya lebih terbuka terhadap pasangan?
Jawaban: Terkait me time bagi seorang Ibu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
  1. Pahami bahwa seorang Ibu masih berhak untuk membahagiakan dirinya sendiri selain mengurus keluarga. Prinsipnya: Kita tidak dapat menuangkan air dari cawan yang kosong. Oleh karena itu, para ibu perlu menyenangkan diri agar dapat enjoy melakukan tugasnya sehari-hari.
  1. Bentuk me time sebenarnya tidak hanya ke salon dan pijit ya (kalau bisa melakukan itu alhamdulillah dan perlu disyukuri, hehehe), tapi yang terpenting adalah bisa fokus pada diri sendiri. Misalnya: 5-10 menit melakukan relaksasi pernafasan tanpa diganggu. Mungkin juga membaca majalah atau mengurus tanaman. Sesuaikan dengan apa yang memang disukai/diminati oleh Ibu.
ADVERTISEMENT
  1. Waktu untuk melakukan me time: Perlu fleksibel, jika memang mampunya 5-15 menit setiap hari lakukan, jadi jangan menunggu akhir pekan saja ketika suami memang lebih mampu bergantian menjaga anak.
  1. Komunikasikan dengan Pasangan tentang apa yang menjadi kebutuhan Ibu, jangan dipendam lalu marah-marah sendiri. Ingat, pasangan bukanlah cenayang yang mampu membaca pikiran. Terkait keterbukaan dengan pasangan, mungkin perlu konteks yang lebih jelas lagi ya, apa yang menjadi pertanyaannya. Terima kasih, semoga cukup menjawab.
Curhatan: Kemarin suami saya agak membentak saya karena hal sepele. Lalu apa yang harus saya lakukan setiap hal tersebut terjadi?
Jawaban: Halo Mom. Pasti rasanya kaget sekali ya, jika suami yang biasanya baik dan adem ayem, tiba-tiba membentak karena hal sepele. Yang perlu Mom lakukan adalah menenangkan diri terlebih dahulu, jika sudah maka tuliskan apa yang mau disampaikan kepada suami.
ADVERTISEMENT
Proses menulis ini menjadi wadah untuk mengeluarkan emosi-emosi marah, kecewa, sedih, dll agar tidak meledak juga ketika berhadapan dan berdiskusi dengan suami. Nah, lalu lihat kondisi, jika suami sedang tenang, coba diajak bicara.
Misalnya: Sayang, aku kaget sekali kemarin kamu membentak karena hal sepele.Lalu, tanya apa yang sedang suami pikirkan? Mungkin saja memang ada masalah pekerjaan atau masalah lain yang dipendam.
Nah, jika suami sudah menceritakan, maka sampaikan bahwa Mom mengerti apa yang sedang dihadapi suami, tapi berharap bahwa kejadian seperti kemarin tidak terulang lagi karena itu menyakiti hati Mom dan juga menjadi contoh yang kurang baik jika dilihat anak-anak.
Semoga kejadian kemarin untuk yang pertama dan terakhir ya, Mom.
ADVERTISEMENT
Curhatan: Saya pacaran sampai nikah, ternyata saya di selingkuhi bertahun tahun. Saya amat sangat kecewa karena saya mengetahui sudah lama. Namun, bagaimana cara mengembalikan kepercayaan dan Bagaimana agar saya tidak terus terpikir hal itu?
Jawaban: Untuk klien yang mengalami perselingkuhan dan melakukan terapi secara rutin saja membutuhkan waktu yang panjang untuk benar-benar stabil, apalagi jika tidak melakukan pendampingan psikologis.
Mindset bahwa akan bisa melupakan pun agak keliru, karena mungkin ini pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan (karena sangat menyakitkan).
Tetapi, dengan usaha untuk terus maju dan mengumpulkan berbagai kekuatan serta sumber daya, nantinya dapat mengantarkan Anda ke titik: mampu untuk melihat pengalaman ini dari sudut pandang yang berbeda.
ADVERTISEMENT
Bahwa pengalaman ini yang mendorong Anda untuk menjadi lebih dewasa, tangguh, dan bijak. Untuk dapat mengembalikan kepercayaan, hal ini perlu ada kerja sama dari pasangan juga ya.
Ia perlu 'menabung' berbagai kebaikan secara konsisten sebagai usaha untuk mempertahankan hubungan. Tugas Anda adalah fokus pada kebaikan-kebaikan yang telah pasangan lakukan.
(sif) ====================
Teman curhat merupakan program khusus yang diadakan di grup teman kumparan. Lewat Teman Curhat, teman kumparan bisa berkonsultasi, diskusi, dan curhat dengan para expert yang ahli di bidangnya. Yuk, gabung ke grup teman kumparan di Telegram melalui kum.pr/temankumparanMom. Jangan lewatkan keseruannya, ya!