Bisnis
·
20 November 2020 21:14

Kemampuan Literasi Memperbarui Mindset Generasi Muda Di Masa Pandemi Covid-19

Konten ini diproduksi oleh Tesa Aritonang
by Tesa Aritonang
Pandemi Covid-19 yang kini melanda seluruh dunia merupakan mimpi buruk yang tidak pernah diharapkan oleh siapapun. Tidak dipungkiri, virus ini memaksa manusia bergerak dan berpikir cepat dalam mengambil sikap demi keberlangsungan hidup di setiap aspek kehidupan manusia. Di negara manapun memerlukan kebijakan yang cepat dan tepat dari pemerintah untuk membantu masyarakatnya, khususnya masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang tentunya paling terdampak kesulitan ekonomi akibat pandemi ini. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia contohnya, seperti himbauan social distancing, mengeluarkan himbauan untuk Work From Home bagi pegawai, memberlakukan pembatasan wilayah, membangun rumah sakit khusus untuk penanganan Covid-19, memberikan bantuan ekonomi tunai maupun nontunai bagi masyarakat kurang mampu, bantuan sosial melalui program prakerja dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
Kebijakan-kebijakan tersebut memang merupakan langkah terbaik yang dikeluarkan oleh pemerintah, namun sangat di sayangkan bahwa kebijakan yang diberikan tersebut cenderung hanya difokuskan pada peningkatan stimulus ekonomi, yang kini telah memasuki masa resesi. Padahal kebutuhan sosial dan psikologis masyarakat juga diperlukan seperti upaya membentuk kepercayaan terhadap pemerintah, ketenangan dan rasa aman di masa 'chaos' yang terjadi saat ini serta pemberian informasi yang dapat memberikan semangat dan energi positif bagi masyarakat.
Dibalik terhambatnya pertumbuhan ekonomi dan sosial di tengah masyarakat, ternyata terjadi percepatan digitalisasi dan peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap teknologi dan informasi yang memberi kemudahan bagi kita untuk menjalankan aktivitas ekonomi dan interaksi sosial tanpa harus bertatap muka langsung. Hal ini tentu saja sangat membantu dalam mendukung program social distancing demi penanggulangan penyebaran Covid-19 di Indonesia. Namun, di balik semua kemudahan arus akses informasi yang terjadi, ternyata mengakibatkan makin banyaknya informasi tidak benar (hoax) yang berkembang diantara masyarakat khususnya melalui media sosial.
ADVERTISEMENT
Kemampuan literasi yang rendah mengakibatkan masyarakat mudah percaya terhadap hoax. Meskipun masyarakat Indonesia sangat aktif menggunakan gadget namun minat baca yang dimiliki masih sangat minim.

Hal ini dapat di buktikan dari hasil riset yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, dalam riset bertajuk WORLD’S MOST LITERATE NATIONS RANKED, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara mengenai minat membaca, tepat berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung minat membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Membaca di anggap suatu kegiatan yang membosankan dan melelahkan. Masyarakat Indonesia khususnya generasi muda saat ini, baik itu generasi milenial maupun generasi Z lebih mudah menikmati dan membagikan informasi yang bersifat hiburan, sensasional dan bahkan berita yang tidak jelas kebenarannya (hoax). Akibat negatif yang ditimbulkan pun tidak main-main, mulai dari timbulnya tindakan provokasi, kekerasan verbal di dunia maya maupun dunia nyata, pencemaran nama baik, penipuan, penyalahgunaan data pribadi, dan bahkan kekerasan fisik yang bisa saja mengakibatkan kehilangan nyawa seseorang. Oleh sebab itu, urgensi pembaharuan mindset atau pola pikir masyarakat khususnya generasi muda melalui literasi sangat diperlukan saat ini, khususnya dalam menangkap segala informasi yang diterima.
ADVERTISEMENT
Generasi muda Indonesia saat ini sangatlah beruntung dengan berbagai kemudahan teknologi yang dialaminya. Namun apabila kecanggihan teknologi ini tidak dimanfaatkan dengan bijaksana, tentu saja sayang sekali apabila generasi muda bangsa ini kedepannya akan tergerus teknologi dan kalah saing dengan bangsa lain. Sebenarnya, masalah literasi ini sudah berlangsung cukup lama, jauh sebelum masa pandemi ini terjadi. Masyarakat memang seringkali mudah terseret dan terhanyut dalam isu yang ‘antara ada dan tiada’ alias tidak jelas kebenarannya. Ditambah lagi, masyarakat juga mudah teralihkan antara satu isu ke isu yang lain. Kemudahan akses sosial media dan cepatnya informasi yang diterima memperburuk keadaan tersebut.
Kemampuan literasi sangatlah penting untuk dimiliki oleh setiap orang, terlebih lagi generasi muda sebagai generasi penerus yang akan mengelola bangsa ini kedepannya. Dengan peningkatan kesadaran akan budaya membaca, diharapkan dapat membantu pemulihan kehidupan bangsa pasca masa sulit di era pandemi ini. Salah satunya pemulihan ekonomi, generasi muda sebagai generasi produktif dapat mengambil langkah positif dengan memanfaatkan teknologi dan kemampuan literasi yang dimilikinya.
ADVERTISEMENT

Menurut Syarif Bando selaku Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengungkapkan "Ada empat tingkatan literasi yakni kemampuan mengumpulkan sumber-sumber bacaan, mampu memahami apa yang tersirat dari yang tersurat, mengemukakan ide atau gagasan baru, teori baru, kreativitas dan inovasi baru serta akhirnya menciptakan barang atau jasa yang bermutu bagi kehidupan," ungkapnya.

Oleh sebab itu peran literasi sangat penting dalam membantu generasi muda mengatur ide dan memperbarui mindset yang dimilikinya guna mengelola dan menyaring informasi yang diperlukan untuk langkah produktif bagi pemulihan ekonomi bangsa, bermula dari langkah kecil misalnya mengatur ekonomi internal pribadinya sendiri.
Contoh bentuk kemampuan literasi yang dapat dikembangkan oleh generasi muda di era pandemi ini antara lain seperti literasi keuangan dan literasi digital yang dapat dimanfaatkan untuk menggali insiprasi untuk menciptakan peluang usaha baru. Problema yang kerap kali dialami oleh generasi muda yakni contohnya masalah pengelolaan dan perencanaan keuangan, simpanan tabungan dan investasi bagi masa depan masih kurang dipahami. Penghasilan dari pekerjaan yang digeluti oleh berbagai kalangan muda masih dirasa kurang menghasilkan sumber dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun lifestyle (gaya hidup). Disamping itu juga terdapat masalah kesulitan memperoleh kesempatan kerja bahkan PHK oleh perusahaan akibat krisis ekonomi di masa pandemi ini mengakibatkan makin bertambahnya jumlah pengangguran di Indonesia. Diperlukan upaya penciptaan lapangan kerja yang bisa saja dimulai dari membuka usaha kreatif contohnya UMKM sehingga generasi muda tidak hanya berpangku nasib untuk mencari pekerjaan melainkan berusaha untuk membuka usaha bisnis yang juga memungkinkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan kemampuan dalam memahami informasi dapat memudahkan generasi muda mewujudkan asa dan ide ekonomi kreatif untuk menjawab tantangan persoalan tersebut.
ADVERTISEMENT
Kini tinggal upaya mengatur dan memperbarui mindset (pola pikir) yang harus di mulai terlebih dahulu, agar dapat memfokuskan diri generasi muda pada semangat positif demi kebangkitan dan pemulihan ekonomi-sosial bangsa kita setelah era pandemi ini berlalu.
Sumber Referensi :
Alifa, Syadza. 2020. Menganalisa Masalah Sosial Ekonomi Masyarakat Terdampak Covid-19.
CCSU News Release. 9 Maret 2016. WORLD’S MOST LITERATE NATIONS RANKED. https://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data
Devega, Evita. 10 Oktober 2017. Teknologi Masyarakat Indonesia: Malas Membaca Tapi Cerewet di Medsos.
Hidayat, Feriawan. 17 Juni 2020. Literasi Dorong Kreativitas Masyarakat di Era Pandemi.
ADVERTISEMENT