Dampak Gempa 7,7 M di Filipina ke Indonesia

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang orang tua mendampingi anaknya saat kelas dibuka untuk tahun ajaran baru di sebuah sekolah dasar di Manila, Filipina, Senin (8/6/2026). Foto: Jam Sta Rosa/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang orang tua mendampingi anaknya saat kelas dibuka untuk tahun ajaran baru di sebuah sekolah dasar di Manila, Filipina, Senin (8/6/2026). Foto: Jam Sta Rosa/AFP

Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang pantai selatan Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6) memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa tersebut memiliki karakteristik yang berpotensi membangkitkan tsunami.

BMKG menjelaskan gempa terjadi di laut, berkekuatan besar, berkedalaman dangkal, serta memiliki mekanisme patahan naik (thrust fault) yang dapat mendorong massa air laut ke permukaan. Di Kalimantan Timur, sejumlah warga pesisir bahkan mengaku melihat air laut surut secara tiba-tiba setelah gempa terjadi.

BMKG Ungkap Alasan Gempa 7,7 M di Filipina Berpotensi Tsunami hingga Kaltim

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab gempa tektonik magnitudo 7,7 yang mengguncang pantai selatan Mindanao, Filipina, Senin (8/6). Gempa tersebut berpotensi memicu tsunami hingga ke wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Timur.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid, mengatakan gempa tersebut memenuhi sejumlah syarat utama pembangkit tsunami.

"Karena memenuhi syarat terjadinya tsunami. Pertama adalah gempanya di laut, kedua kekuatannya besar 7,7 dan kedalamannya dangkal," kata Rasmid.

Kepala Stasiun BMKG Balikpapan, Rasmid. Foto: Dok. Pribadi

Menurut dia, potensi tsunami semakin besar karena mekanisme sumber gempa berupa patahan naik (thrust fault) yang menyebabkan dasar laut terdorong ke atas.

"Tipe patahan di dasar lautnya adalah thrusting. Jadi ada perubahan kulit bumi, ada volume air laut yang didesak ke atas sehingga menyebabkan tsunami," ujarnya.

BMKG: Gempa 7,7 M di Filipina Akibat Subduksi, Dirasakan di Sejumlah Wilayah RI

BMKG mengungkapkan gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Pantai Selatan Mindanao, Filipina, terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan gempa tersebut merupakan gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng.

Kepala Basarnas Marsdya Mohammad Syafii, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, dan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat jumpa pers mengenai bencana gempa yang terjadi di Sulawesi Utara dan Maluku Utara di Kantor BNPB, Jakarta Timur pada Kamis (2/4/26). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault," kata Faisal saat konferensi pers di Kantor BMKG, Jakarta, Senin (8/6)".

Faisal menjelaskan, guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda.

"Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut," ujar Faisal.

Kesaksian Warga di Talisayan Kaltim Lihat Air Laut Surut saat Gempa 7,7 M

Warga pesisir Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, sempat panik setelah melihat air laut surut secara tiba-tiba sesaat setelah gempa magnitudo 7,7 yang berpusat di Filipina pada Senin (8/6) pagi.

Salah seorang warga Desa Talisayan, Arman, mengatakan air laut terlihat surut sekitar pukul 10.30 WIT.

Warga di Desa Kawio, Kecamatan Kepulauan Marore, mengungsi karena rumah mereka rusak akibat terkena dampak gempa 7,7 di Filipina, Senin (8/6/2026). Foto: Dok. Istimewa

"Iya benar, tadi air laut surut secara tiba-tiba. Kami yang berada di sekitar pantai sempat kaget karena surutnya cukup cepat," kata Arman kepada wartawan.

Fenomena surutnya air laut itu terjadi ketika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur.

"Kalau air laut surut karena pasang surut biasa tentu sering. Tetapi kalau surutnya mendadak setelah gempa besar seperti ini, tentu membuat masyarakat waspada dan khawatir," katanya.