Pencarian populer

Kalah tapi Tidak Mati: Masa Depan dan Strategi Baru Militan ISIS

Ilustrasi ISIS (Foto: REUTERS/Alaa Al-Marjani)

Bruce Hoffman, seorang pakar terorisme dari Georgetown University, mengatakan bahwa kejayaan ISIS dibangun atas poros pendudukan di tiga kota utama: Sirte di Libya, Raqqa di Suriah, dan Mosul di Irak.

6 Desember 2016, ISIS tumbang di Sirte.

10 Juli 2017, ISIS terlempar dari Mosul.

17 Oktober 2017, ISIS kehilangan kontrol atas benteng terakhirnya, Raqqa.

“Secara simbolis, runtuhnya kuasa ISIS terhadap tiga kota itu amat penting,” jelas Hoffman kepada National Public Radio (NPR).

Namun, apakah kehilangan kontrol teritorial pada banyak daerah di Suriah dan Irak menjadi akhir dari nasib ISIS di catatan sejarah?

Tentara Syrian rayakan kemenangan di Raqqa (Foto: REUTERS/Rodi Said)

Lebih Kecil tapi Tetap Besar

Tentu saja, memiliki teritorial di berbagai daerah di beberapa negara punya makna penting bagi kampanye jihad ISIS di seluruh dunia.

Selain kebutuhan ekonomi --macam penjualan minyak mentah di pasar gelap, pasokan pekerja paksa, sampai pajak dari warga setempat-- penguasaan terhadap teritori juga punya artian filosofis yang mendukung narasi pembangunan kekhalifahan mereka.

Hoffman mengatakan, bahwa dengan memiliki teritori, ISIS berhasil menunjukkan pada simpatisannya di seluruh dunia, bahwa kekhalifahan mungkin didapat.

“Tentu penguasaan teritori itu penting. Mereka membuat ISIS terus ada di berita. Teritori ini juga menggaungkan imaji negara Islam dan kekhalifahan yang diusung ISIS,” ujar Hoffman dari wawancara yang sama.

Perang Melawan ISIS di Mosul. (Foto: REUTERS/Ahmed Jadallah)

Memang, ketika teritori-teritori yang pernah mereka kembali jatuh ke negara-negara asal, penyesuaian-penyesuaian terpaksa dibuat. Seperti yang dibilang oleh Jenderal Joseph F. Dunford Jr., Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, kehilangan teritori akan mengurangi kredibilitas ISIS.

“Kita akan terus melihat berkurangnya teritori mereka, berkurangnya kebebasan dimensi gerak mereka, berkurangnya sumber daya, dan berkurangnya kredibilitas narasi ISIS,” ucapnya di depan Senat, seperti dikutip dari The New York Times, akhir Oktober lalu.

Meski begitu, bagi ISIS, kalah dalam upaya mempertahankan teritori pun sebenarnya tak masalah buat mereka.

“Kekalahan di Mosul, misalnya, akan memunculkan semangat di generasi baru para pengikut ISIS untuk mempertaruhkan hidup mereka, untuk merebut kembali apa yang telah diambil dari mereka,” ucap Hoffman melihat sisi lain terusirnya ISIS dari teritorinya. “Ini malah akan memunculkan kesempatan untuk balas dendam di masa depannya.”

Bahkan, juru bicara ISIS, Abu Muhammad Al Adnani --sebelum ia tewas karena serangan drone di Aleppo, Agustus tahun lalu-- sempat mendorong upaya para pengikut ISIS agar bergerak secara mandiri dan melepaskan diri dari keinginan bergabung dengan pasukan utama di Irak dan Suriah yang seakan menjadi kewajiban.

“Kekalahan yang sejati adalah ketika kita kehilangan semangat dan keinginan bertempur,” ucap Al Adnani. “Kita hanya akan kalah dan mereka menang, hanya apabila mereka mampu merebut Alquran dari hati orang-orang muslim.”

Pendapat tersebut diamini Abu Bakar Al Baghdadi di medio September 2016. Saat itu, Baghdadi menyampaikan para pengikutnya untuk tak usah datang saja ke Irak ataupun Suriah. Baghdadi meminta mereka untuk bermigrasi ke cabang-cabang operasi ISIS sehingga ISIS di cabang-cabang tersebut tetap bisa melanjutkan perlawanan terhadap kaum tagut.

Tampak, sedari akhir 2016, ISIS telah bersiap-siap untuk menghadapi akhir dari tiga tahun kekuasaan mereka.

Abu Bakar al Baghdadi (Foto: Reuters)

Menyebar dengan Strategi Baru

Jadi, apakah ketidaan teritori berarti akhir dari sepak terjang ISIS?

Jawabnya adalah tidak. Menganggap ISIS tumpas adalah kesimpulan prematur.

Justru, terebutnya berbagai teritorial itu membuka fase baru aktivitas terorisme ISIS di masa depan. Jauh dari itu, ISIS kini tengah mengalami fase transisi: berubah dari organisasi pemberontak dengan pusat komando yang pasti, menjadi jaringan kelompok terorisme yang tersebar lewat sel-sel klandestin.

Organisasi pemberontak merebut dan mengontrol sebuah teritori. Ia mampu menjalankan kewenangan negara-negara berdaulat terhadap sebuah satuan populasi.

Sedangkan, teroris tak bisa melakukan hal tersebut. Ia tak memiliki populasi maupun teritori. Ketimbang mengontrol keduanya, teroris melakukan serangan-serangan yang dilakukan lewat kelompok dengan jumlah anggota kecil.

Perang Melawan ISIS di Mosul. (Foto: REUTERS/Ahmed Saad)

Hasil transisi ini adalah aktivitas ISIS dengan skala lebih kecil namun dengan jangkauan yang lebih luas. Bekas militan ISIS di Suriah-Irak akan bekerja secara gerilya, dengan taktik macam tembakan jitu, penyergapan, penabrakan, bom mobil, dan pembunuhan terencana.

Metode komunikasi sebelum melakukan serangan pun berbeda. Media sosial menjadi senjata utama. Kehadiran kampanye di media sosial yang kuat, tidak hanya membantu menyebarkan ideologi dan menginspirasi para potensial jihadis, namun juga membantu calon teroris melaksanakan aksi mereka tanpa pertemuan langsung.

Hal tersebut sudah terbukti lewat serangan-serangan yang marak di beberapa waktu terakhir. Serangan-serangan yang berprofil tinggi justru terjadi di luar wilayah pendudukan mereka, dengan cara penembakan dan menabrakkan kendaraan-kendaraan ke para pejalan kaki.

Serangan banyak terjadi di Barat, dengan model komunikasi secara online dengan pengiriman pesan terenkripsi macam Telegram dan WhatsApp. Dengan cara ini, strategi terbaru tercipta, tak hanya pada taktik serangan namun juga strategi koordinasi.

Haider al-Abadi menyatakan Mosul bebas ISIS (Foto: REUTERS/Stringe)

Serangan pertama ISIS di tanah Amerika Serikat dilakukan dengan cara penembakan oleh aktor tunggal di 2015. Itu pun dengan metode koordinasi dan penyebaran yang sama, yaitu via teknologi dan media sosial.

Serangan lone wolf tersebut pun terus berlanjut. Sebut saja, serangan di London oleh Khalid Masood, Maret lalu; serangan truk di Nice, Prancis, Juli 2016; pengeboman di Istanbul di malam tahun baru 2017; penabrakan di Barcelona, Agustus 2017, dan puluhan serangan lain yang didominasi penembakan serta penabrakan kendaraan ke pejalan kaki.

Insiden Penabrakan di Finsbury Park, London (Foto: REUTERS/Neil Hall)

Dari berbagai sumber, sampai Oktober 2017 lalu, tak kurang dari 3.167 korban tewas diakibatkan serangan teror yang memiliki keterkaitan atau diklaim oleh ISIS.

Sejumlah 22 serangan ISIS di 2015 mengorbankan 1.020 korban tewas. Sementara itu, di 2016, 35 serangan menghasilkan korban tewas sebanyak 1.456. Dan di 2017, setidaknya sampai bulan Oktober, terdapat 685 korban tewas dari 26 kejadian.

Pada 2016, ISIS memang tengah berada di puncak kemampuannya. Namun, ketika kita melihat perbandingan statistik antara jumlah serangan dan jumlah korban, terlihat bahwa di 2017, serangan lebih banyak ketimbang di tahun 2015. Namun begitu, lebih banyaknya serangan di 2017 justru menghasilkan angka korban tewas yang lebih sedikit.

Dari situ, mungkin benar adanya bahwa dengan menurunnya kemampuan ISIS sebagai organisasi, tak menjamin menurunnya tingkat kemauan para pengikutnya melancarkan serangan di masa depan.

=============== Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline!

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23