kumparan
search-gray
News7 Juli 2017 17:50

Mitos dan Fakta yang Menyelubungi Tragedi Pompeii

Konten Redaksi kumparan
Mitos dan Fakta yang Menyelubungi Tragedi Pompeii (1171590)
Gunung Vesuvius. (Foto: Wikimedia Commons)
Gunung Vesuvius meledak pada tahun 79 masehi, itu betul. Ledakan itu meluluhlantakkan kota Pompeii dan membunuh sekitar 2.000 orang di antaranya, itu juga betul. Namun, ada beberapa kepercayaan yang sebetulnya hanya mitos belaka.
ADVERTISEMENT
Pompeii = Sodom-Gomora?
Mitos dan Fakta yang Menyelubungi Tragedi Pompeii (1171591)
Lukisan 'The Last Day of Pompeii' (Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan)
Meletusnya Gunung Vesuvius, bersama dengan tewasnya ribuan warga Pompeii yang hanya berjarak 10 kilometer darinya, diyakini sebagai kutukan Tuhan.
Pompeii dinilai kena tulah gara-gara menjalani kehidupan yang longgar moralnya, dengan prostitusi dan seks bebas di sana-sini.
Beberapa orang juga percaya bahwa tragedi Pompeii serupa dengan Sodom dan Gomora --dua kota yang dimusnahkan Tuhan karena dosa besar penduduknya yang tak terampuni, menurut Kitab Kejadian dan Alquran.
Video
Tragedi Pompeii juga diyakini menjadi simbol kutukan untuk Romawi, yang sembilan tahun sebelumnya menghancurkan kota suci Yerusalem.
Mengenai kedua hal tersebut, ada penjelasan yang lebih masuk akal, yang sebetulnya saling berkaitan.
Cerita bermula saat pasukan Romawi di bawah Titus Vespasianus Augustus menyerang dan menduduki kota Yerusalem mulai tahun 69 Masehi. Pasukan Roma yang mendapati perlawanan orang-orang Yahudi di situ, berperang dalam waktu lama dan baru berhasil menang di tahun 70.
ADVERTISEMENT
Pertempuran baru selesai di tanggal 30 Agustus 70, ditandai dengan dihancurkannya Kuil Herods (Second Temple). Kuil Herods sendiri adalah kuil suci bagi kaum Yahudi, yang berdiri dari tahun 516 Sebelum Masehi hingga dihancurkan pasukan Roma pada tahun 70. Kuil tersebut menggantikan peran dari Kuil Solomon (First Temple) yang dihancurkan tahun 586 Sebelum Masehi.
Dan siapakah yang waktu itu menghancurkan Kuil Solomon? Tak lain tak bukan adalah Babilonia, kerajaan adikuasa yang mencapai puncak kejayaan di sekitar tahun 600-500an Sebelum Masehi, di kurun waktu sekitar mereka menghancurkan Kuil Solomon tersebut.
Babilonia kemudian runtuh tahun 539 Sebelum Masehi, hanya 50 tahun setelah menghancurkan kota suci Yerusalem.
Kebetulan, waktu penghancuran Kuil Kedua oleh Romawi dan Kuil Pertama oleh Babilonia terjadi di sekitaran waktu yang sama, akhir Agustus hingga awal September. Tak ayal, upaya menghubungkan kedua kejadian tersebut, mau-tak mau terjadi.
ADVERTISEMENT
Beberapa catatan menunjukkan dugaan tersebut. Contohnya adalah Book 4 of the Sibylline Oracles. Buku tersebut diciptakan oleh seorang peramal dari Yahudi, yang mencatat tragedi Pompeii beberapa saat setelah peristiwa itu terjadi.
“When a firebrand, turned away from a cleft in the earth [Vesuvius] In the land of Italy, reaches to broad heaven It will burn many cities and destroy men. Much smoking ashes will fill the great sky and showers will fall from heaven like red earth."

Know then the wrath of the heavenly God.

- Book 4 of the Sibylline Oracles

Ada pula catatan dari orang Pompeii sendiri, yakni mereka yang berhasil selamat dari peristiwa nahas tersebut. Menurut mereka, beberapa bulan setelah kejadian, Pompeii memang beberapa kali menjadi target penjarahan.
ADVERTISEMENT
Salah satu orang yang pertama kali kembali ke Pompeii terkejut dengan apa yang ditemuinya. Kota megah di daerah Naples, Italia, tersebut telah tertimbun abu vulkanik setinggi 6 hingga 8 meter. Hanya bangunan-bangunan tinggi yang pucuk atasnya terlihat beberapa sentimeter di atas permukaan.
Menurut Carlo Giordano dan Isidoro Kahn dalam buku berjudul The Jews in Pompeii Heculaneum, Stabiae and in the Cities of Campania Felix 3rd ed, orang --kemungkinan Yahudi-- tersebut menggoreskan sebuah catatan di dinding sebuah rumah tinggi di Region 9, Insula 1, Nomor 26. Tulisan tersebut berbunyi: SODOM GOMOR[RAH].
Maksudnya jelas, bahwa tragedi meledaknya Gunung Vesuvius adalah balasan Tuhan, serupa dengan penghancuran Sodom-Gomorah yang tercatat pada beberapa kitab suci kaum Kristen, Islam, hingga Yahudi.
ADVERTISEMENT
Dari situlah asosiasi Pompeii dan Sodom-Gomora terjadi. Berawal dari dua peristiwa penyerangan ke tanah Yerusalem, berakhir dengan tragedi di pihak masing-masing penyerang. Keterhubungan itu, tentu saja, hanya sebatas rekaan.
Alasan sama-sama dikutuk Tuhan hanya kepercayaan. Atas suatu kepercayaan, Anda bisa yakin, bisa tidak. Namun yang pasti, Pompeii dan Sodom-Gomora jelas dua peristiwa berbeda.
Meledaknya Vesuvius Tidak Terprediksi
Mitos dan Fakta yang Menyelubungi Tragedi Pompeii (1171592)
Erupsi Gunung Vesuvius. (Foto: Pinterest/Simone Anderson)
Vesuvius adalah gunung berapi yang disebut paling aktif di seluruh Eropa. Ia bahkan masih aktif hingga kini, meski meledak terakhir kali pada Maret 1944. Walau sudah lebih dari 70 tahun tak meledak, beberapa ahli mengatakan ledakan Vesuvius selanjutnya hanya masalah waktu.
Yang jelas, Vesuvius juga pernah meledak tak kalah hebat jauh hari sebelum letusannya membenamkan Pompeii, antara lain tahun 5960 Sebelum Masehi, 3580 SM, dan Letusan Avellino yang terjadi sekitar tahun 1800 SM.
ADVERTISEMENT
Setelah tragedi Pompeii, Vesuvius juga terus meletus pada tahun 172, 203, 222, 303, 379, 472, 512, 536, 685, 787, 860, sekitar 900, 968, 991, 999, 1006, 1037, 1049, sekitar 1073, 1139, 1150, dan banyak di antara tahun-tahun 1270, 1347, juga 1500.
Aktifnya Gunung Vesuvius itu pula yang menjadi penyebab, baru pada tahun 1748 Pompeii disambangi lagi oleh manusia, yakni para penjarah.
Pun hanya 17 tahun sebelum Vesuvius meledak dan menghancurkan Pompeii, terjadi sebuah gempa bumi yang sangat besar pada 62 Masehi.
Sesungguhnya, hampir 2.000 tahun lalu, orang-orang di masa itu sudah tahu bahwa gempa besar di sekitar gunung adalah pertanda bahaya yang melibatkan ancaman dari aktvitas gunung tersebut. Beberapa orang kaya --ya, Pompeii saat itu juga menjadi kota peristirahatan bagi kaum royal Romawi-- memilih untuk meninggalkan Pompeii sejak saat itu.
ADVERTISEMENT
Orang-orang Pompeii Mati Perlahan dan Tersiksa
Mitos dan Fakta yang Menyelubungi Tragedi Pompeii (1171593)
Penemuan jasad di Pompeii. (Foto: Andrew Mason/Flickr)
Mitos lain adalah alasan kematian ribuan orang di Pompeii. Sebelumnya, banyak orang percaya bahwa orang-prang Pompeii mengalami akhir hayat yang mengenaskan karena mati tersiksa pelan-pelan akibat gas beracun yang dikeluarkan Gunung Vesuvius.
Anggapan tersebut juga lahir sebagai bagian dari narasi “siksa pedih Tuhan” terhadap orang-orang Pompeii. Maka, alasan mati pelan-pelan karena keracunan asap beracun lebih ditekankan ketimbang alasan-alasan lain yang lebih benar.
Baru pada tahun 2010-an, setelah milenium berganti, seorang ahli volkano bernama Giuseppe Mastrolorenzo menemukan penyebab kematian orang-orang Pompeii pada tragedi meletusnya Gunung Vesuvius. Alih-alih mati karena kesulitan bernafas, ternyata orang-orang Pompeii justru mati karena sergapan awan panas yang meluncur jatuh dari kawah Vesuvius.
ADVERTISEMENT
Meski aliran piroklastik dari kawah Vesuvius yang menewaskan penduduk Pompeii ternyata tak cukup banyak untuk menghancurkan bangunan, hawa panas yang mencapai 300 derajat Celcius itu sudah cukup ‘hangat’ untuk membunuh warga, dan arus abu vulkanik menjaga jasad-jasad orang Pompeii terabadikan sesuai posisi asli mereka.
Pompeii terbenam ke tanah dalam kondisi diawetkan.
Jadi, apa benar orang-orang Pompeii itu “dikutuk”? Mungkin iya, mungkin juga tidak.
Lalu, apakah orang-orang tersebut mati secara perlahan-lahan dan dalam keadaan sangat tersiksa? Jawaban Mastrolorenz si pakar volkano: tidak.
Menurutnya, orang-orang Pompeii tewas dalam sekejap, tanpa tersiksa berlama-lama.
Mana yang mau Anda yakini? Sepenuhnya terserah Anda.
Mitos dan Fakta yang Menyelubungi Tragedi Pompeii (1171594)
Pompeii. (Foto: Instagram @pompeii_parco_archeologico)
Dari berbagai sumber
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white