Pencarian populer
Tiza Hade
A loving and caring mother.
Ketika Bu Vero Tersandung "Good Friend"
Saat terbangun kemarin subuh, saya terkejut bukan alang kepalang membaca berita di Kumparan bahwa pak Ahok sudah melayangkan gugatan cerai atas istrinya Veronica Tan. Reaksi pertama saya: menolak percaya (meskipun sy selalu percaya pada berita2 yg dimuat di Kumparan. Hehe). Tapi semakin siang, kebenaran berita itu akhirnya terkonfirmasi juga. Dengan sedih sy berusaha menerima kenyataan bahwa pasangan yg saya anggap telah berhasil melalui hantaman badai cobaan yg bertubi-tubi dengan sukses, yg selama ini tampak serasi saling mendukung dan membela satu sama lain, pendek kata, mereka adalah pasangan impian bagi jutaan orang yang mengidolakan, akhirnya terpaksa menampakkan keadaan aslinya. Tak ada hujan tak ada angin, pak Ahok dari balik terali yg mengurungnya, tiba2 melemparkan bom kehadapan publik. Dan sy terhenyak, lalu sadar. Pada akhirnya, setelah hiruk pikuk mewarnai keberadaan dua orang ini dipanggung politik negara kita, mereka ternyata tak lebih dari manusia biasa, pasangan suami istri biasa, yg memiliki masalah yg sama dengan pasangan2 lain yg sudah menikah puluhan tahun. Di usia pernikahan yg sdh menginjak 20 tahun, kebanyakan kebersamaan antara pasangan tak lagi menyisakan percik2 kerinduan, dimana getaran hasrat untuk saling menggenggam tangan atau sekedar memberi pelukan hangat sudah menjadi terlalu biasa dan tak lagi istimewa. Mereka berkembang, tumbuh bersama waktu yg dengan kejam merenggut keinginan utk saling berbagi cerita atau tatapan penuh cinta. Pernikahan menjadi semacam pemenuhan komitmen belaka, dan penyesuaian diri atas kewajiban menjaga reputasi, menjadi sebuah perjuangan utk mempertahankan sesuatu yg sudah tak ada. Disaat seperti ini, seorang good friend yg hadir, memberikan seribu perhatian yg tak bisa didapat dari suami yg super sibuk melayani jutaan warganya, seorang yg nenawarkan telinga utk mendengarkan curhatan2, lalu mulut manis yg mendendangkan kata2 penghiburan, maka ungkapan2 remeh yg diucapkan sang teman baik sambil lalu lewat teks atau telepon, menjadi semacam obat bagi penyakit hati karena merasa diabaikan, menjadi oase penyejuk yg menawarkan air disaat kehausan, yg bagaikan narkoba, membuat penikmatnya menjadi kecanduan. Menjadi sulit bagi saya utk memihak sebab mereka berdua adalah orang baik. Rasanya tak sampai hati menuding satu pihak sebagai yg paling berdosa. Lihatlah bagaimana mereka bergulat melawan kemelut ini dalam sunyi, sejak tahun 2010 (lumayan lama). Lihatlah bagaimana mereka berusaha bertahan, entah atas dasar apa, mungkin kepentingan tugas negara, atau perasaan anak2, yg jelas mereka telah mengorbankan perasaan kemanusiawian mereka, dan ini patut kita hargai. Entahlah, bagi saya bu Vero tetap seorang perempuan yg hebat. Jika beliau tak bisa melepaskan sang "good friend", pastilah itu karena alasan yg luar biasa. Jika pada akhirnya pak Ahok melihat bahwa mundur adalah yang terbaik baginya, itu karena beliau memang terlahir sebagai ksatria. Tuhan tidak menyukai perceraian, tapi jika itu jalan terbaik mengapa tidak. Tidak ada orang yg mati karena bercerai. Perceraian bukanlah tragedi. Tragedi adalah jika seseorang bertahan dalam sebuah perkawinan yg tidak bahagia, yg berpotensi mengajarkan konsep yg salah kepada anak2 tentang cinta, seperti apa yg dikatakan Rupi Kaur dalam bukunya: "Neither of us want to leave, so we hurt each other, and call it love", justru itulah yg sebenar-benarnya tragedi. Mungkin justru perpisahan ini baik bagi anak2. Anak2 bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, jauh lebih hebat dari yg kita kira. Rasanya kejam membiarkan mereka terbelah menyaksikan perseteruan antara kedua orangtua mereka. Bukankah tidak sedikit anak2 yg dibesarkan orangtua tunggal bisa berhasil dalam hidupnya? Maka, hari ini, setelah menangis sebentar, sy memutuskan untuk merelakan saja apapun ending dari peristiwa ini.
Tragedi Debora Simanjorang
Beberapa hari belakangan ini, nama Rudianto Simanjorang dan Henny Silalahi mendadak menjadi buah bibir seluruh masyarakat Indonesia. Wajah kedua pasutri itu muncul disemua media massa, baik cetak maupun elektronik. Tapi, jika kita tanya kepada pasutri in apakah mereka merasa senang relay menjadi begitu terkenal, pasti kawinannya TIDAK. Pasalnya, nama mereka menarik perhatian karena mereka baru saja kehilangan putri tercinta yang terpaksa melepas nyawa disebabkan kekacauan pengelolaan jaminan kesehatan bagi rakyat negeri ini. Debora Simanjorang, bayi cantik berusia 4 bulan, tidak bisa memperoleh perawatan maksimal karena orangtuanya tidak mampu menyediakan uang sebesar hampir Rp. 20juta (kecil sekali jika dibandingkan dengan uang e-ktp yg dikorupsi oleh para penjahat berdasi). Ironi, karena selama ini pemerintah selalu mendengungkan tersedianya program pelayanan kesehatan yang mudah bagi seluruh warganegara. Sebuah kenyataan yang mau tidak mau harus kita - rakyat Indonesia - hadapi. Sehebat dan sebaik apapun sebuah program, jika mitra pelaksana dilapangan membangkang dan menolak bekerja sama , maka akan sia2 jua wujudnya. Setelah peristiwa ini, bertubi-tubi hujatan dialamatkan kepada RS yang bersangkutan. Para petinggi negara turun memberikan komentar, tak kurang dari Menteri Dalam Negeri dan Ketua MPR yang menyuarakan kegeramannya. Tapi apakah semua wacana, baik janji pengawasan dari Depkes maupun ikrar dari pihak RS untuk mencegah tidak terulangnya peristiwa serupa, akan benar2 terlaksana? Kita sudah terbiasa ribut saat sudah jatuh korban, teori2 utk perbaikan bermunculan, namun kejadian ini selalu kembali datang dan datang lagi. Permintaan ma'af pihak RS, pengembalian uang perawatan yg sdh dibayarkan, janji pemerintah utk menerbitkan sanksi bagi RS yg menolak pasien, komentar2 penuh simpati dari seantero negeri, tak akan bisa menghapus kesedihan bapak Rudi dan ibu Henny yang kehilangan Permata hati, cahaya mata dan princess cantik mereka. Mereka pasti lebih memilih tetap hidup sederhana, tidak seterkenal sekarang, asal Debora tetap tinggal bersama mereka. Tak ada yang bisa kita lakukan kecuali mengurut dada, menyaksikan para pejabat berpolemik, gaduh dan riuh rendah mempersoalkan masalah yang tidak ada kaitan langsung dengan ke sejahteraan rakyat, sementara Debora terbaring sendirian dalam peti mungilnya. Semoga Debora tidak mati sia-sia. Semoga ada hikmah dibalik peristiwa ini, sehingga tidak ada lagi Debora2 lain yang harus mengalami nasib serupa.
"Bravo Alpha Bravo Ultra"
BABU, sebuah kata yang hampir lenyap penggunaannya dalam percakapan sehari-hari, belakangan kembali populer. Alhamdulillah, yang mempopulerkan tidak tanggung-tanggung: Ketua DPR Yang Mulia Fahri Hamzah. Beliau menyebut tenaga kerja Indonesia sebagai babu yang mengemis pekerjaan diluar negeri. Wadduuuuuh. Barangkali beliau lupa kalau kata "Babu" tersebut sengaja dihindari pemakaiannya karena mengesankan penghinaan dan merendahkan harkat dan martabat manusia. Kata BABU dianggap tidak manusiawi dan berpotensi melukai perasaan mereka yang profesinya bekerja mencari nafkah dengan cara membantu meringankan beban para ibu-ibu rumahtangga. Mengapa kata "babu" seolah mengandung nuansa "hina" dan melecehkan? Entahlah. Mungkin karena kata tersebut merupakan warisan jaman kolonial dimana para tuan2 londho yang menjajah Indonesia selama ratusan tahun, mempekerjakan wanita-wanita desa sebagai pelayan dirumah mereka. Aroma "penindasan" pun dirasakan nyata sekali bagi para "baboe" dimana mereka tidak diperbolehkan berdiri, tapi berjongkok, saat menghadapi majikan, tidak boleh mengucapkan sepatah katapun, jangankan berkomentar atau memberi usulan (seperti yang sekarang dilakukan oleh mbak2 dirumah saya). Sungguh sebelas-duabelas dengan aksi perbudakan. Inilah yang membuat para pembela HAM di Indonesia , diabad ke 21 ini, akhirnya berinisiatif mengganti kata babu menjadi terdengar lebih manusiawi yaitu PRT (pembantu Rumah Tangga), lalu belakangan kembali diubah, diperhalus lagi menjadi Asisten Rumah Tangga. Ya, Asisten. Saya merasa kata itu paling cocok bagi mereka yang bekerja siang malam tanpa jam kerja yang jelas, tanpa kontrak apalagi jaminan remunerasi yang terstandar. Mereka yang sudah bangun saat kita masih bergelung selimut, mereka yang memastikan semua urusan "dalam" termasuk urusan dapur bahkan kebersihan toilet beres dan kita bisa menikmati hidup dengan nyaman. Mereka yang memilih meninggalkan anak2 mereka untuk menyuapi anak majikan, mereka yang meninggalkan bangku sekolah dan orangtua untuk sekedar mendapat rupiah. Terlebih lagi mereka yang bekerja diluar negeri, mereka tidak saja jadi pahlawan bagi keluarganya, tapi juga berjasa membawa pulang devisa bagi negara. Rasanya, kita wajib memberikan dua jempol bagi mereka yang mempertaruhkan nyawa demi menangguk NAFKAH YANG HALAL. Sangat masuk akal jika mereka mengharap untuk dihargai, atau setidaknya, TIDAK DICACI. Mungkin bapak Ketua Dewan Yang Terhormat lupa jika beliau duduk diatas sana bukan hanya untuk mewakiki orang2 kaya dan pintar, tapi juga menjadi wakil mereka2 yang berpendidikan seadanya, mereka2 yang tidak punya koneksi untuk mendapat pekerjaan atau kedudukan yang hebat, mereka2 yang tidak punya modal untuk membuka usaha besar, dan mereka2 yang terpaksa bekerja sebagai babu dinegeri orang. Mungkin beliau lupa bahwa kewajiban beliaulah membela orang2 lemah seperti mereka, menyuarakan keluhan mereka, dan mengusahakan perbaikan nasib bagi mereka. Semoga beliau ingat bahwa ucapan yang melecehkan yang dikeluarkan oleh orang yang seharusnya menjadi pelindung, jauh lebih sakit terdengar. Semoga kedepannya kata "babu" yang digunakan untuk melabel mereka yang berjuang untuk sekedar hidup layak, sudah tak ada lagi dikamus bahasa para petinggi negeri ini.
"The Man Behind Our Wings"
Lelaki tua itu terduduk di bangku panjang ditepi trotoar. Terik matahari membuat keringatnya mengucur deras. Bungkusan kain yang tadi disandangnya dibahu diletakkannya dengan hati2 disampingnya. Meskipun pakaiannya terlihat lusuh, senyumnya tampak tulus membalas sapaanku yang meminta ijin untuk ikut duduk bersamanya. Setelah berbasa-basi soal cuaca Jakarta yang tidak menentu, aku bertanya tentang bawaannya yang terlihat cukup berat untuk bahunya yang ringkih. Tanpa disangka, wajahnya langsung berbinar. Dengan bersemangat ia membuka bungkusan kain tersebut. "Ini dagangan saya, " ujarnya sambil mengeluarkan sebuah buku berisi Do'a dan sebuah buku Yasin. Ternyata bapak tua itu pedagang buku agama keliling. Sambil membiarkan aku "membongkar" dagangannya, ia bercerita bahwa ia sudah menjalani "profesi" itu selama 20tahun. Setiap hari ia berangkat naik kereta dari rumahnya di Depok, dan pulang saat kereta terakhir berangkat dari stasiun Kota. Sepanjang hari ia berkeliling memasuki daerah perkampungan di kota Jakarta, menawarkan pahala bagi orang2 yang berminat membeli buku2 jualannya dan mengamalkan ilmu didalamnya. Aku tercengang ketika ia menuturkan bahwa dari penghasilannya berjualan dan dibantu sesekali menerima panggilan membetulkan listrik, ia berhasil meluluskan dua anaknya dari universitas dan masih ada tiga anak lagi yang sekarang masih harus dibiayainya, satu di akademi perawat, dan dua masih SMK. Lelaki setua itu, yang usianya mungkin sudah mendekati enampuluh, masih harus menyeret kaki renta nya membelah kota Jakarta demi mengumpulkan nafkah halal bagi anak keturunannya. Aku tiba2 merasa sedih. Teringat almarhum ayahku.
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: