Kumplus Lipsus - Garuda Indonesia
17 Juni 2021 21:31
·
waktu baca 3 menit

Garuda Indonesia Butuh Keajaiban

Bisnis airlines terguncang hebat akibat pandemi COVID-19. Garuda Indonesia tak terkecuali. Secara global, asosiasi pengangkutan udara internasional (IATA) mencatat kerugian seluruh airlines di dunia pada 2020 mencapai 118,5 miliar dolar AS, dengan pendapatan airlines rata-rata turun sampai 70%.
Hampir semua flag carrier di dunia, terutama di Asia Pasifik, mengalami tekanan yang sangat dalam. Bahkan pada tahun 2021—yang baru berjalan satu semester—IATA memprediksi kerugian airlines dunia mencapai USD 38,7 miliar.
Garuda Indonesia (GIAA) tak luput ikut terkapar. Dalam laporan Bloomberg pada Mei 2021, Garuda memiliki utang sebesar Rp70 triliun atau USD 4,9 miliar. Utang itu terus bertambah lebih dari Rp1 triliun per bulan seiring penundaan pembayaran oleh perusahaan kepada pemasok. Saat ini arus kas GIAA bahkan sudah ada di zona merah dengan ekuitas minus Rp41 triliun.
Keuntungan berlangganan kumparan+
  • Ratusan konten premium dari pakar dan kreator terbaik Indonesia
  • Bahasan mendalam dengan kemasan memikat
  • Pengetahuan, hiburan, dan panduan yang solutif untuk hidupmu
Garuda Indonesia bukan sekali ini dilanda prahara. Bedanya, kali ini tak cuma salah kelola, tapi ada faktor eksternal yang sukar dikendalikan: pandemi. Simak opini Associate Partner BUMN Research Group LM FEB Universitas Indonesia, Dr. Toto Pranoto.