kumparan
7 Oktober 2019 0:08

Hujan Mulai Turun di Sumatera dan Kalimantan, BNPB: Saatnya Basahi Gambut

ADVERTISEMENT
Trubus.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, operasi Teknologi Modisikaci Cuaca (TMC) atau hujan buatan serta hujan alami mulai turun di sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan. BNPB menyebut bahwa kualitas udara di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membaik.
Data akumulasi hujan semala pengamatan 24 jam terakhir dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa seluruh wilayah di Kalimantan terjadi hujan yang mengakibatkan sebagian besar titik api padam sehingga jumlah titik api menurun drastis. Sedang di Sumatera, hujan terjadi di sebagian wilayah Riau, sebagian Jambi dan sebagian Sumsel sehingga titik api juga turun drastis jumlahnya.
“Pantauan hot spot Lapan pada pukul 16.00 WIB adalah Jambi 6 titik, Sumsel 12 titik, Kalteng 20 titik, dan Kalsel 12 titik, sedangkan Riau dan Kalbar tidak terdeteksi titik panas,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo di Jakarta, Kamis (3/10/19).
ADVERTISEMENT
Pantauan kualitas udara BMKG berdasar konsentrasi partikulat PM10 pada pukul 16.00 WIB adalah  Pekanbaru 108 (sedang), Jambi 49 (baik), Sumsel 110 (tidak sehat), Pontianak 17 (baik), Palangkaraya 15 (baik), Pangkalanbun 6 (baik) dan Banjarmasin 62 (sedang).
Kondisi cuaca dan jarak pandang berdasar data BMKG pada pukul 16.00 WIB secara umum baik, berawan hingga hujan dengan jarak pandang lebih dari 5 km. Wilayah yang terdeteksi asap tipis di Riau dan Palembang dengan jarak pandang 5 km.
Kondisi wilayah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan sudah membaik seiring dengan sudah banyaknya air hujan TMC maupun hujan alami yang turun. Inilah saat yang tepat bagi pemerintah dan masyarakat untuk membangun sekat kanal dan embung dalam rangka mengembalikan kodrat alami gambut yaitu basah, berair dan rawa. Selanjutnya masyarakat perlu menyesuaikan usahanya dengan kodrat alami gambut tersebut seperti menanam sagu, perikanan, peternakan atau usaha lain. Dengan cara ini diharapkan tahun depan kebakaran hutan dapat ditekan bahkan tidak terjadi lagi.
ADVERTISEMENT
“Dengan demikian maka, kita jaga alam dan alam jaga kita,” tandas Agus.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan