kumparan
9 Sep 2018 10:25 WIB

Alasan Tradisi Malam Satu Suro Terkenal Mistik

Ajaran warisan dari para leluhur masih dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat Jawa, terkhusus Yogyakarta dan Solo. Malam satu Suro menjadi salah satu tradisi yang masih dilakukan dan dianggap sakral oleh masyarakat Jawa.
ADVERTISEMENT
Malam satu Suro merupakan malam tahun baru dalam kalender Jawa. Tradisi ini berawal dari masyarakat yang lebih banyak mengikuti sistem penanggalan tahun Saka dibandingkan sistem kalender Hijriah.
Tahun Saka merupakan warisan dari tradisi Hindu, sedangkan Hijriah merupakan warisan dari tradisi Islam. Sultan Agung akhirnya memadukan tradisi Jawa dan Islam untuk memperluas ajaran Islam di Jawa.
Alhasil, dipilihlah tanggal 1 Muharam yang ditetapkan menjadi tahun baru Jawa. Iring-iringan kirab menjadi acara yang selalu ada ketika malam satu Suro tiba. Di Yogyakarta, keris dan benda pusaka akan dibawa saat kirab berlangsung.
Sedangkan di Solo, kebo bule (kerbau bule) menjadi hewan yang dianggap keramat oleh masyarakat. Selain itu, abdi dalem keraton dan gunungan tumpeng ikut menghiasi kirab malam satu Suro. Tradisi ini menggarisbawahi pada keselamatan dan ketentraman batin.
ADVERTISEMENT
Ritual pembacaan doa dari seluruh masyarakat yang hadir akan menyelingi tradisi malam satu Suro. Harapannya, masyarakat bisa terhindar dari marabahaya.
Masyarakat Jawa meyakini untuk terus ingat dan waspada sepanjang bulan Suro. Ingat bermakna manusia harus selalu ingat siapa dirinya dan kedudukannya sebagai ciptaan Tugan.
Waspada bermakna manusia harus mempersiapkan diri pada godaan-godaan yang ada. (asa/fra)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan