kumparan
30 Jul 2018 21:28 WIB

Bahaya Abu Vulkanik Bagi Kesehatan

Penyakit pada sistem pernafasan merupakan penyebab utama kematian di dunia (European Respiratory Society, 2017). Ferkol (2014) menekankan bahwa angka kematian akibat penyakit sistem pernafasan paling banyak terjadi di negara berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan prevalensi penyakit saluran pernafasan yang tinggi.
ADVERTISEMENT
Salah satu faktor yang mempengaruhi kerusakan paru adalah faktor lingkungan. Hal ini ditegaskan oleh The International Agency for Research on Cancer (IARC) bahwa pada saat ini udara bebas telah tercemar dengan zat karsinogen dan partikel berbahaya lain yang berpotensi menyebabkan penyakit saluran pernafasan. Salah satu sumber partikel karsinogen pada udara bebas adalah abu vulkanik.
Hal ini dikuatkan oleh United States Geological Survey/USGS (2016) bahwa erupsi gunung berapi membawa beberapa material gas yang dapat membahayakan kesehatan manusia, khususnya sistem pernafasan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)menyampaikan bahwa di Yogyakarta terdapat satu gunung api yang masih aktif dan diprediksi terjadi erupsi vulkanik dengan siklus empat atau lima tahun sekali. Erupsi tersebut sangat berbahaya karena disekitar gunung dikelilingi oleh pemukiman yang padat dan kemungkinan besar akan menyebabkan penyakit saluran pernafasan akibat efek abu vulkanik tersebut.Populasi yang tinggal di daerah dengan aktivitas vulkanik lebih berisiko mengalami penurunan fungsi paru akibat kerusakan saluran pernafasan.
ADVERTISEMENT
Paparan abu vulkanik dalam hitungan beberapa minggu menimbulkan efek buruk bagi organ kulit, mata, saluran pencernaan,dan sistem pernapasan. Abu vulkanik yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga memicu bronkokonstriksi (penyempitan bronkus/saluran pernapasan) yang berupa serangan asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) serta penurunan fungsi paru dengan manifestasinya berupa sesak napas, mengi, batuk, dan napas pendek (Amaral, A.F.S. & Rodrigues, A.S, 2007).
Efek abu vulkanik dalam waktu singkat menimbulkan gejala iritasi saluran pernafasan berupa bersin-bersin dan peningkatan sekresi saluran napas.Efek jangka panjang dalam hitungan tahunan, paparan debu vulkanik mengakibatkan kelainan organ paru yang disebut silikosis akibat akumulasi debu vulkanik yang mengandung kristal silica dan H2S. Paparan gas H2S tingkat rendah dalam jangka waktu yang lama dapat meningkatkan risiko inflamasi dan kerusakan saluran pernapasan yang berdampak terhadap penurunan fungsi paru (USGS, 2016).
ADVERTISEMENT
Penerimaan Mahasiswa Baru STIKes Panti Rapih Yogyakarta
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Rapih Yogyakarta juga membuka program studi Diploma Tiga Keperawatan ,Profesi Ners, dan Sarjana Gizi. Untuk tahun ajaran 2018/2019 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Rapih masih membuka pendaftaran bagi calon mahasiswa baru sampai taggal 2 Agustus 2018. Untuk tahun ajaran 2019/2020 pendaftaran akan dibuka mulai tanggal 27 Agustus 2018 – 5 Agustus 2019. Setiap bulan akan selalu diadakan tes seleksi bagi calon mahasiswa yang tertarik untuk melanjutkan study di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Rapih Yogyakarta.
Untuk informasi dan pendaftaran secara online bisa mengunjungi simpari.stikespantirapih.ac.id/spmb. (adv)
Penulis: Scholastica Fina Aryu P,Ns.,M.Kep / Dosen Prodi D3 Keperawatan STIKes Panti Rapih Yogyakarta
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan