kumparan
18 Mei 2018 14:27 WIB

Gotro: Aplikasi Sistem Informasi Kebencanaan dan Pengungsi Karya UGM

Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) meluncurkan terobosan baru sistem informasi kebencanaan berupa aplikasi yang dinamakan 'Gotro'. Gotro merupakan singkatan dari Gotong Royong.
ADVERTISEMENT
Aplikasi tersebut berfungsi untuk memberikan berbagai informasi terkait perkembangan kondisi posko pengungsian korban bencana. Informasi yang bisa didapatkan berupa informasi pengungsi meliputi usia, jenis kelamin, kondisi, dan jumlah pengungsi.
Selain itu, aplikasi itu juga berisi informasi untuk menunjukkan kebutuhan logistik, tenaga kesehatan dan psikolog, serta terkait donasi.
“Selama ini informasi pengungsi belum tersampaikan dengan baik, kebanyakan fokus pada korban saja," kata Ketua Tim Pengembang 'Gotro' M. Anggri Setiawan, Jumat (18/5).
"Karenanya, 'Gotro' hadir untuk melengkapi aplikasi kebencanaan yang telah ada, terutama prosedur pendistribusian logistik bagi para pengungsi untuk mendukung manajemen tanggap darurat berbasis masyarakat yang lebih efektif dan efisien.”
Anggri menyebutkan, kebutuhan para pengungsi yang sangat dinamis terkadang belum dapat terpenuhi sepenuhnya dari ketersediaan logistik yang ada. Ditambah lagi jika mereka harus tinggal lebih lama di dalam posko-posko pengungsian.
ADVERTISEMENT
“Tantangan utama aplikasi ini adalah harus dapat bekerja pada skala nasional. Tetapi bisa memberikan informasi yang detail terhadap dinamika pengungsi di setiap posko bencana,” ujar dosen Geografi Lingkungan Fakultas Geografi UGM itu.
Gotro dikembangkan sejak awal 2018 dengan 3 sub sistem, yakni Gotro Relawan, Admin, dan Gotro Masyarakat. Cara kerja aplikasi ini dimulai dari pemutakhiran laporan kondisi posko bencana dari relawan melalui aplikasi Gotro Relawan yang sudah terverifikasi oleh sistem admin.
Kemudian, masyarakat yang telah menginstal aplikasi ini akan memperoleh notifikasi dan bisa memilih jenis dan jumlah bantuan yang akan dikirim.
Jenis bantuan yang diberikan dapat berupa barang-barang kebutuhan pengungsi maupun dana sosial. Masyarakat yang akan memberikan bantuan juga akan diverifikasi terlebih dahulu oleh admin.
Pengungsi Gunung Agung (Foto: Nyoman Budhiana/Antara)
Dengan aplikasi ini, menurut Anggri, informasi kebencanaan bisa lebih cepat diterima masyarakat luas karena pelibatan relawan sebagai responden lokal yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Setelah sumber informasi diverifikasi admin dan terunggah dalam sistem, maka masyarakat pengguna Gotro akan memperoleh notifikasi terkait kejadian bencana di Indonesia. Masyarakat dapat mengurutkan informasi kebencanaan berdasarkan bencana terbaru, terdekat, maupun spesifik pada kota yang terdampak.
Gotro memiliki 3 menu utama, yaitu informasi bencana, posko, dan donasi. Menu infromasi bencana menampilkan foto-foto kejadian bencana hasil unggahan relawan, pengungsi, serta informasi korban meninggal dunia dan luka-luka.
Selanjutnya dalam menu posko, menampilkan lokasi setiap posko yang dapat dilihat langsung dalam google map. Aplikasi ini juga memungkinkan adanya pilihan penambahan titik posko sesuai kondisi di lapangan.
Erupsi Gunung Merapi (Foto: AFP/Anton Bayu Samudra)
Sementara pada menu donasi disediakan dua pilihan untuk membantu para pengungsi, yaitu berbentuk barang yang merujuk pada daftar kebutuhan di setiap posko dan dana sosial.
ADVERTISEMENT
“Saat ini kita terus melakukan pengembangan program dan rencana menggandeng kerja sama dengan ekspedisi dan bank untuk pengiriman barang dan transfer dana,” ungkap Anggri.
Gotro telah dirilis pada 'Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Bencana ke-5' di Padang, pada 1-4 Mei 2018 yang dihadiri Presiden Joko Widodo. Aplikasi ini menjadi aplikasi mobile kebencanaan pertama di Indonesia yang memberikan informasi terkait kondisi posko pengungsi.
“Aplikasi Gotro ini gratis dan dapat diunduh siapa saja melalui google play store,” ungkapnya.
Keberadaan aplikasi ini diharapkan bisa membantu posko-posko pengungsian yang acap luput dari pemberitaan media massa. Dengan begitu, pendistribusian logistik bagi pengungsi dapat berjalan efektif dan efisien.
“Penyempurnaan aplikasi ini bisa menjadi salah satu instrumen dalam standar operasional prosedur pendistribusian logistik dan manajemen tanggap darurat bencana di Indonesia,” pungkas Anggri. (arif wahyudi)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan