News
·
3 Februari 2021 20:49

Guru Besar di Jogja Rela Pensiun Dini Demi Bangun Kampus Impian

Konten ini diproduksi oleh Tugu Jogja
Guru Besar di Jogja Rela Pensiun Dini Demi Bangun Kampus Impian (28944)
Hamam Hadi, Rektor Universitas Alma Ata. Foto: dok. Alma Ata.
Gelar Guru Besar atau juga dikenal dengan Profesor, menjadi gelar yang diidam-idamkan oleh para akademisi. Gelar ini menjadi strata tertinggi dalam dunia perguruan tinggi. Tentu saja membuat siapa pun bangga jika berhasil meraih gelar tersebut.
ADVERTISEMENT
Jalan panjang dan berliku harus dilalui untuk bisa mendapatkan gelar Guru Besar. Tak hanya soal kehadiran perkuliahan, namun pengabdian juga menjadi hal yang diperhitungkan untuk menjatuhkan gelar Guru Besar pada seorang akademisi.
Ketika seseorang telah mendapat gelar Guru Besar, tak jarang dari mereka yang enggan untuk pensiun. Banyak yang justru memperpanjang masa baktinya di suatu perguruan tinggi. Namun tidak dengan sosok Guru Besar yang satu ini.
Hamam Hadi, Guru Besar di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, memutuskan untuk mengambil pensiun dini, dan membangun kampus impiannya.
Guru Besar di Jogja Rela Pensiun Dini Demi Bangun Kampus Impian (28945)

Jadi Guru Besar di Usia 40 Tahun

Hamam Hadi, Rektor Universitas Alma Ata, menceritakan sepak terjalnya untuk mendapatkan gelar Guru Besar. Perguruan tinggi tempatnya bekerja kala itu mendorongnya untuk mengurus berkas untuk pengajuan gelar Guru Besar ke Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) (sekarang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
ADVERTISEMENT
“Setelah dikirim ke Jakarta ternyata saya terganjal. Setelah ditelusur ternyata ada beberapa poin yang tidak disetujui karena dianggap tidak realistis. Masa dalam sekian tahun bisa mengumpulkan sekian poin,” kata pria yang menyelesaikan studi S2 dan S3 di John Hopkins University (JHU), Rabu (3/2/2021).
Mirisnya, poin yang bernilai besar itu harus dicoret oleh Kemendiknas lantaran dianggap tidak wajar. Di tahun yang sama, Yayasan Alma Ata yang didirikannya juga mengajukan izin pendirian STIKES.
Pil pahit harus ditelan, keduanya ditolak. Meski demikian, Hamam tak putus asa. Ia memilih untuk menyelesaikan pengajuan gelar Guru Besar lebih dulu sebelum mengurus pengajuan izin STIKES.
“Ini tidak mudah kalau bukan panggilan mungkin saya sudah ngapain repot mungkin saya sudah frustasi sudah berhenti,” ujarnya sambil tertawa.
ADVERTISEMENT
Poin yang tadinya dicoret oleh Kemendiknas, kembali dikumpulkan dalam kurun waktu 6 bulan. Dengan giat ia menulis publikasi untuk jurnal internasional. Tekadnya rupanya didukung semesta. Hamam berhasil mempublikasikan berbagai jurnal publikasi internasional.
Tahun 2004, Kemendiknas menurunkan SK Guru Besar untuk dirinya. Kala itu ia masih berusia sekitar 40 tahun. Usia yang tergolong muda untuk mendapat gelar Guru Besar kala itu. Hingga kini, ia memiliki 64 publikasi baik internasional maupun nasional.
Guru Besar di Jogja Rela Pensiun Dini Demi Bangun Kampus Impian (28946)
Prof Hamam Hadi, Rektor Universitas Alma Ata, menerima penghargaan Global Achievemant Award dari JohnsHopkins University. Foto: dok. Alma Ata.

Berdirinya Universitas (Awalnya STIKes) Alma Ata Yogyakarta

Perjuangan masih terus berlanjut untuk mengajukan izin pendirian STIKes Alma Ata. Setelah berhasil meraih gelar Guru Besar, Hamam langsung tancap gas mengurus perizinan pendirian STIKes Alma Ata.
Berbagai upaya dilakukan sejak tahun 2003 untuk mewujudkan mimpinya ini. Kala itu, kementerian tak memperbolehkan adanya perguruan tinggi baru lantaran kondisi di Indonesia yang telah jenuh.
ADVERTISEMENT
Hal ini tak memutuskan semangat Hamam. Berupaya meyakinkan semua pihak akan visi misi STIKes Alma Ata, Hamam berhasil mengajukan izin pendirian STIKes Alma Ata.
“Tahun 2006 akhirnya dengan perjuangan panjang ada STIKes Alma Ata kalau saya tidak punya panggilan hati mungkin gak ada ceritanya ini Universitas Alma Ata,” tuturnya.

Katanya soal Pendidikan di Indonesia

Hamam menuturkan, ada berbagai masalah yang harus diselesaikan di bidang pendidikan di Indonesia. Tingkat publikasi yang masih rendah dibanding negara tetangga membuatnya sedih. Padahal publikasi ini menjadi bukti nyata ide guru di Indonesia.
“Hasil pikir, produk pikir Bangsa Indonesia bisa dikatakan masih relatif rendah. Untuk belakangan ini ada kemajuan, tapi sesungguhnya masih jauh bahkan di ASEAN,” sesalnya.
ADVERTISEMENT
Ia pun membandingkan dengan Singapura dan Malaysia yang negaranya kecil, namun tingkat publikasinya yang tinggi. Lebih lanjut, Hamam mengakui jika secara angka, jumlah publikasi Indonesia lebih banyak belakangan terakhir. Namun, jika dilihat secara rasio antara jumlah publikasi dengan jumlah guru, Indonesia masih kalah jauh.
Bukan tanpa alasan tingkat publikasi di Indonesia masih rendah. Lingkungan serta pendidikan semasa kecil menentukan pola pikir seseorang.
“Saya menduga memang pendidikan dari kecil memang banyak masalah yang harus dibenahi. Karena pendidikan masa kecil di indonesia kurang bisa memberikan ruang agar anak didik itu muncul kreativitasnya,” ujar pria yang hobi travelling ini.
“Dari awal sering kali pendidikannya dicekok. Berbeda sekali dengan pendidikan di luar negeri masa kecil itu adalah pendidikan yang menyenangkan. Di mana anak kecil lebih sering diminta cerita sesuatu yang membuat anak itu terbiasa mengeluarkan ide dan pikirannya,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, orang Indonesia memiliki kesulitan untuk menceritakan atau menyampaikan idenya. Hal ini berpengaruh pada tingkat publikasi di Indonesia itu sendiri.

Pesan untuk Generasi Muda

Hamam memaparkan bahwa Indonesia merupakan lahan yang sangat luas untuk diteliti. Kekayaan Indonesia yang tak dimiliki negara lain seharusnya bisa dimanfaatkan generasi muda dengan baik untuk melakukan penelitian, membawa Indonesia menjadi lebih maju.
“Saya pikir itu PR besar Indonesia. Pendidikan indonesia yang masih kayak gini SDA (sumber daya alam) melimpah ruah belum dikelola secara mandiri tidak menjadi sumber kemanfaatan dan kekayaan dan serta kemandirian bangsa,” katanya.
“Itulah kenapa Alma Ata lahir sebenarnya juga kita ingin berkontribusi didalam hal ini kita ingin menyiapkan tenaga tenaga profesional calon calon ilmuan yang handal,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Ia pun menyoroti dengan kondisi Indonesia pada tahun 2003, di mana angka pengangguran mencapai 20 persen dan angka kurang gizi yang tinggi. Kondisi ini membuat nuraninya tergerak untuk memperbaiki kondisi.
“Hari ini kita sedang mengupayakan kerjasama dengan Menaker agar bisa menggantikan TKW/TKI dengan perawat yang profesional sehingga tidak menimbulkan cerita buruk. Tetapi sebaliknya mengangkat martabat dan derajat Bangsa Indonesia. Tidak hanya buruh yang dikirim ke luar tetapi diganti dengan skill labor pekerja yang terampil,” pungkasnya.