kumparan
KONTEN PUBLISHER
13 Februari 2020 7:45

Industri Kerajinan dan Batik Dinilai Terbaik dalam Beradaptasi di Krisis Ekonomi

20200212_093340.jpg
Kepala BBKB Yogyakarta, Titik Purwati Widowati ditemui wartawan di kantornya Rabu (12/2/2020). Foto: atx
Hasil kajian Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta mencatat industri kerajinan dan batik merupakan salah satu sektor industri yang dapat mengakselerasi perekonomian daerah dan nasional dengan cepat.
ADVERTISEMENT
"Industri kerajinan dan batik bahkan memiliki resiliansi (kemampuan adaptasi) yang tinggi terhadap krisis ekonomi," ujar Kepala BBKB Yogyakarta, Titik Purwati Widowati ditemui wartawan di kantornya Rabu (12/2/2020).
Kemampuan adaptasi kerajinan batik itu terbukti pada pada krisis ekonomi tahun 1998 silam. Industri ini justru meraih manfaat dari penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.
"Kekuatan dari Industri kerajinan dan batik bersumber dari kreatifitas sumber daya manusia yang membuatnya, faktor lainnya adalah bahan bakunya yang relatif banyak tersedia," katanya.
Namun, ujar Titik, di era revolusi industri 4.0 yang dihadapi saat ini, Industri kerajinan dan batik dituntut berat untuk terus melakukan inovasi agar tak tenggelam.
Menurutnya ada beberapa langkah inovasi yang dapat dilakukan pada industri kerajinan dan batik antara lain melalui inovasi produk baru.
ADVERTISEMENT
Lewat cara inovasi ini produk-produk kerajinan dan batik yang baru dan kreatif harus terus dihasilkan agar mampu menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi pada pasar milenial saat.
"Produk baru dari industri kerajinan dapat dihasilkan dari pemanfaatan material baru, eksplorasi pengolahan bentuk, diversifikasi fungsi produk kerajinan dan batik," katanya.
Langkah kedua, lewat inovasi proses produksi. Cara ini memungkinkan berbagai ragam inovasi proses produksi juga perlu terus dikembangkan agar produk yang dihasilkan dapat dapat bersaing dari sisi harga jual, kualitas dan nilai tambah seninya.
"Pemanfaatan teknologi dan hasil riset yang ada pada lembaga litbang, perguruan tinggi dan industri sendiri yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi produksi industri kerajinan dan batik," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Adapun cara ketiga dengan inovasi bisnis. Cara-cara bisnis baru juga dapat dikembangkan agar produk industri kerajinan dan batik dapat lebih diterima pasar atau dapat menjangkau ceruk pasar baru yang belum terolah. Pengemasan atau branding baru produk kerajinan dan batik.
Titik mengatakan Balai Besar Kerajinan dan Batik di Yogyakarta sebagai salah satu unit litbang Kementerian Perindustrian yang khusus menangani industri kerajinan dan batik belakangan juga gencar menggelar program dalam upaya meningkatkan daya saing komersial, produktifitas, serta potensi ekspor sektor industri batik dan kerajinan, melalui pendekatan inovasi.
"Kami tahun ini juga kembali melakasanakan kegiatan Innovating Jogja 2020, yang sudah terlaksana sejak 2016 lalu," ujarnya.
Innovating Jogja merupakan Inkubator Bisnis Teknologi Balai Besar Kerajinan dan Batik yang sejak Tahun 2016 melakukan pencarian start-up berbasis inovasi di bidang kerajinan dan batik yang dilaksanakan melalui sistem kompetisi.
ADVERTISEMENT
Tim juri akan memilih 3 sampai 4 ide bisnis yang berhak menjadi tenant inkubator bisnis teknologi Innovating jogja 2020 serta mendapatkan fasilitas bahan produksi sebesar 20 juta Rupiah, pendampingan dan konsultasi bisnis dan akses pengguna laboatorium produksi di Balai Besar Kerajinan dan Batik. (atx)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan