kumparan
2 Agu 2018 16:48 WIB

Jumlah Event Berskala Internasional di Yogyakarta Masih Minim

Jumlah event di DI Yogyakarta yang mendapat pengakuan berskala internasional dari pemerintah pusat ternyata kalah banyak dengan yang ada di Jawa Tengah. Padahal, DI Yogyakarta memiliki potensi yang cukup banyak yang bisa menyelenggarakan berbagai event. Misalnya, banyaknya seniman kreatif dan perguruan tinggi seni seharusnya bisa memacu event berskala internasional.
ADVERTISEMENT
Menurut pengamat pariwisata dari Universitas Sanata Dharma (USD), Ike Janita Dewi, pemerintah pusat hanya mengakui 4 event yang dianggap berskala internasional. Jumlah tersebut kalah jauh dengan Jawa Tengah di mana propinsi tersebut memiliki 7 event yang dianggap berskala internasional.
Empat event berskala internasional tersebut adalah Art Jog, Jogja Netpac Asian Film Festival, Jogja International Heritage
Walk dan Customfest. Sebenarnya, masih ada event-event yang bisa dikategorikan bertaraf internasional. Namun ia sendiri tidak mengetahui kriteria seperti apa yang bisa membuat kategori event tersebut masuk dalam skala internasional. "Pemerintah perlu mendorong agar jumlah event berskala internasional diperbanyak," tuturnya.
Adanya kolaborasi berbagai lintas seniman yang ada di wilayah ini dan didukung oleh pendanaan menjadi salah satu upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah. Potensi yang banyak di wilayah ini memang harus dimaksimalkan untuk membuat event-event berskala internasional. Harapannya, dengan event berskala internasional tersebut maka akan semakin banyak wisatawan mancanegara yang datang ke DIY. Sehingga perputaran uang dari wisatawan tersebut semakin banyak.
ADVERTISEMENT
Event internasional perlu diperbanyak karena jumlah wisatawan mancanegara saat ini masih sangat minim. "Perlu sinergi semua pihak untuk menjadikan event berskala internasional," tambahnya.
Tahun 2017, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 14 juta orang, namun yang datang ke Yogyakarta hanya 1 persen. Artinya, wisatawan mancanegara yang datang ke Yogyakarta selama tahun 2017 hanya 125.000 orang. Hal ini tentu menjadi keprihatinan tersendiri mengingat berbagai upaya telah dilakukan oleh seluruh stakeholder pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara.
Menurut Ketua ASITA DIY, Udi Sudiyana, rendahnya wisatawan mancanegara untuk datang ke DIY karena memang akses langsung dari negara asal turis mancanegara ke wilayah ini masih sangat minim. Bandara yang ada saat ini, Bandara Internasional Adisutjipto, kapasitasnya tidak memadai untuk didarati maskapai penerbangan berbadan besar.
ADVERTISEMENT
Dampaknya, penerbangan langsung dari luar negeri ke wilayah ini baru sedikit yaitu dari Malaysia dan Singapura, itu pun juga menggunakan pesawat kecil. Padahal, maskapai-maskapai penerbangan internasional lintas benua biasanya menggunakan pesawat-pesawat berbadan besar untuk bisa melakukan penerbangan ke Indonesia.
"Hal ini diperparah lagi dengan kondisi lalu lintas penerbangan di Bandara Adisutjipto yang sangat padat setiap harinya. Banyak maskapai ataupun wisatawan yang mengeluhkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mendarat di Bandara Adisutjipto. Sebab, untuk sekedar mendarat, sebuah pesawat harus keliling terlebih dahulu sekitar 30 menit lamanya di seputaran Bandara Adisutjipto menunggu giliran diperbolehkan mendarat," ungkapnya. (erl)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan