Pencarian populer

Malioboro Jadi Pusat Pedestrian, Andong Siap Jadi Andalan

Target kawasan Malioboro sebagai pusat pedestrian Yogyakarta kian dekat seiring hampir rampungnya proyek-proyek infrastruktur yang disiapkan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kawasan Malioboro sebagai pedestrian diproyeksikan ke depan hanya boleh dilalui kendaraan tidak bermotor (KTB) kecuali bus Trans Jogja. Andong dan becak kayuh pun diprediksi bakal menjadi moda yang menguasai kawasan itu.

Hal itu diungkap Pemerintah Kota Yogya melalui Dinas Perhubungan Kota Yogya di sela program penyerahan surat ijin operasional kendaraan tidak bermotor (SIO-KTB) bagi ratusan kusir andong yang beroperasi di Malioboro di Stadion Sultan Agung Bantul, Rabu (5/12/2018).

Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Wirawan Hario Yudho, menuturkan Malioboro sebagai kawasan pedestrian juga telah diatur dengan penyediaan puluhan titik pemberhentian atau parkir sementara bagi andong dan becak.

"Untuk andong dan becak sendiri sudah dibuatkan 23 titik parkir atau cerukan untuk pemberhentian ketika beroperasi di Malioboro," ujar  Yudho, Rabu (5/12/2018).

Setiap cerukan itu bisa menampung 3-5 unit andong juga becak. Dari total cerukan transit yang disediakan di Malioboro maka proyeksi jumlah andong yang bisa mangkal di Malioboro dalam sehari bisa 70 unit dan becak kayuh sebanyak 170 unit.

"Memang dengan cerukan yang ada tidak bisa menampung seluruh andong Malioboro yang jumlahnya total ada 545 unit, itu kami serahkan paguyuban untuk mekanisme pengaturan shift pagi, siang, malamnya," ujar Yudho.

Yudho menambahkan soal rencana menyiapkan sirip-sirip jalan Malioboro sebagai tambahan lokasi parkir andong dan becak masih dibahas intensif dengan Pemerintah DIY dan belum final.

Ketua Paguyuban Kusir Andong DIY, Purwanto, berharap rencana mewujudkan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian dapat segera terealisasi. 

"Dari sejak tahun 2017 rencana ujicoba menjadikan Malioboro sebagai pedestrian tak juga direalisasikan, semoga tahun 2019 rencana itu terwujud," ujar Purwanto.

Purwanto menambahkan, sejak Malioboro diwacanakan pedestrian,  pihak paguyuban sudah mulai memoratorium anggota atau membatasi jumlah andong agar tidak bertambah dulu. Alias tetap 545 andong karena jumlah itu pun tak bisa semuanya turun beroperasi bersamaan karena terbatasnya titik pemberhentian Malioboro sekarang. Setiap harinya hanya sekitar 70 andong beroperasi di Malioboro di tiap shift nya.

"Jika Malioboro sudah bisa bebas kendaraan bermotor, perkembangan andong di Yogya kami perkirakan bisa ikut meningkat juga," ujarnya.

Purwanto menuturkan selama ini memang hanya Malioboro yang membuat keberadaan andong Yogya masih bisa lestari dan eksis. Malioboro lah yang menjadi tumpuan andong tetap menggeliat beroperasi meski jasa layanan itu dinilai belum terlalu menguntungkan dijadikan profesi pekerjaan utama.

Purwanto mengatakan andong sebenarnya menjadi kekhasan dan aset yang bisa menjadi penggeliat sektor wisata di Yogya khususnya Malioboro.

"Kami tidak minta banyak dari pemerintah, cukup diberi ruang lebih leluasa untuk beroperasi di Malioboro sebagai moda kendaraan tidak bermotor," ujarnya. (atx/adn)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23