Food & Travel
·
2 November 2019 5:58

Pasar Malam Sekaten Dua Tahun Sekali, Sri Sultan: Untuk Jeda Sejenak

Konten ini diproduksi oleh Tugu Jogja
Pasar Malam Sekaten Dua Tahun Sekali, Sri Sultan: Untuk Jeda Sejenak (169091)
Penampilan tari dalam pembukaan Pameran Sekaten 2019. foto: Gery
Dalam budaya Jawa, kita mengenal tradisi Sekaten untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sekaten biasanya identik dengan Pasar Malam yang diadakan di Alun-Alun Utara Yogyakarta. Maka dari itu, tradisi ini selalu dinantikan masyarakat menjelang akhir tahun. Akan tetapi, tahun ini nampak jelas perbedaan dibanding sebelum-sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Tidak ada hingar bingar wahana bermain anak, suara gemericik minyak dari proses penggorengan galundeng serta cakwe, dan berbagai keriuhan lainnya. Alun-Alun Utara Yogyakarta tampak kosong dan sunyi ditemani suara kendaraan bermotor yang melewatinya.
Pasar Malam Sekaten pertama kali terselenggara pada masa pemerintahan Walikota Yogyakarta kedua, Soedarisman Poerwokoesoemo. Saat itu Sri Sultan Hamengkubawana IX merestui usulannya. Dalam rangka ikut meramaikan Sekaten, Pemkot Yogyakarta diperkenankan menyelenggarakan Pasar Malam dan Gelar Budaya Rakyat di Alun-Alun Utara.
Sejak itu, selain tradisi Sekaten sebagai hajatan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, sebelumnya juga diselenggarakan Pasar Malam dan Gelar Budaya Rakyat.
Adanya Pasar Malam diharapkan menggugah inovasi menuju terbentuknya komunitas, seniman, dan UMKM yang maju dan mandiri. Menurut Gubernur DIY sekaligus raja Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, hingga beberapa tahun kegiatannya berjalan baik.
ADVERTISEMENT
"Karena ada usaha menjaga mutu produk, baik dalam hal seni serta pameran maupun komoditisi bisnisnya. Termasuk pengaturan panggung seni serta tempat pameran dan penataan ruang dagangannya," tutur Sri Sultan dalam Pembukaan Pameran Sekaten, Jumat (1/11) malam di Pagelaran Keraton Yogyakarta.
Pasar Malam Sekaten Dua Tahun Sekali, Sri Sultan: Untuk Jeda Sejenak (169092)
Sri Sultan HB X berkeliling melihat objek-objek yang ditampilkan dalam Pameran Sekaten 2019. foto: Dion
Menurutnya, selama sedasawarsa terakhir, mutu yang diharapkan menjadi daya tarik wisatawan itu terkesan telah ditinggalkan. Hal tersebut membawa dampak berupa berkurangnya nilai kesakralan Sekaten sebagai wahana Syiar Islam.
Bertolak dari kenyataan itu, dari hasil diskusi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat bersama Pemerintah Kota Yogyakarta, untuk sementara menghasilkan keputusan Pasar Malam Sekaten diselenggarakan setiap dua tahun sekali.
"Untuk jeda sejenak sembari mencari bentuk yang sesuai dengan khitah Sekaten," jelas Sri Sultan.
"Sekaten sendiri dalam wadah serta isinya dalam tata ruang, berbentuk atraksi, kegiatan, ekspresi budaya, dan penyelenggaraannya diharapkan tampil dalam sosok yang selalu baru sebagai ekspresi peradaban transformatif," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, ia berharap ke depannya Sekaten dapat menjadi wahana dialog peradaban secara luas yang merangsang inspirasi tumbuhnya kreativitas masyarakat.
"Sehingga bukanlah gebyar yang dituju. Namun harus memiliki kedalaman makna spiritual, sarat bobot kultural, dan mempunyai dampak manfaat sosial yang luas," ujarnya. 
(Dionisius/Feva)