kumparan
23 Feb 2019 20:20 WIB

Romahurmuziy Ajak 200 Kyai dan Ulama Perangi Hoax

M Romahurmuzy, Ketua Umum PPP, saat diwawancarai di Yogyakarta, Sabtu (23/2/2019). Foto: erl
Sebanyak 200 kyai dan ulama berkumpul di Pondok Pesantren Pandan Aran Sleman, Sabtu (23/2/2019). Mereka berkumpul untuk mendeklarasikan diri siap berperang melawan isu hoax yang kini banyak beredar di masyarakat.
ADVERTISEMENT
Dewan Pembina Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam sekaligus Ketua Umum PPP, M Romahurmuzy, mengajak para ulama dan kyai agar turun gunung memerangi isu hoax untuk mengajak pemilih menjadi pemilih yang cerdas. Sehingga deklarasi yang dilakukan oleh para kyai dan ulama ini diharapkan mampu menekan isu hoax dalam forum-forum pengajian ataupun melalui ceramah-ceramah Jum'at.
Romi mengungkapkan tokoh sekaliber Amin Rais, Prabowo Subiyanto ataupun juga Fadli Zon mampu terperdaya oleh aksi hoax yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet. Sehingga saat ini bangsa Indonesia sudah tidak bisa berharap lagi dengan seseorang yang berposisi jabatan yang tinggi karena ternyata juga bisa termakan oleh hoax.
"Oleh karena itu, kita mengajak kyai dan ulama yang notabene adalah panutan untuk memerangi hoax tersebut," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Dalam kegiatan Halaqoh Alim Ulama di Pondok Pesantren Pandan Aran tersebut juga ada biografi masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden. Tujuannya agar para ustad baik dari NU ataupun Muhammadiyah yang hadir memahami secara benar siapa pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan didukung dalam pemilu April 2019 nanti.
Selain itu, ia juga mengajak kepada para ustad ataupun ulama dan kyai untuk mengembangkan pola dakwah dengan pola multimedia yang mengikuti tren karena saat ini eranya sudah berubah di mana generasi milenial yang usianya di bawah 35 tahun mendominasi.
Selama ini juga terbukti jika ustad-ustad yang populer di Youtube, instagram, tweeter ataupun facebook adalah ustad-ustad yang menggarap secara serius dakwah digital ini. Sementara di satu sisi banyak ulama-ulama atau kyai konvensional yang notebene pengetahuan keagamaan mereka lebih mumpuni namun tidak populer.
ADVERTISEMENT
"Sementara ustad-ustad yang populer di media digital ini adalah ustad baihaqi, ustad salafi yang berbeda pandangan dengan masyarakat Indonesia,"ungkapnya.
Oleh karena itu, ia merangsang para kyai dan ulama untuk secara serius menggarap dakwah secara digital. Agar para kyai dan ulama ini bisa mengembalikan pengetahuan agama yang sesuai dengan masyarakat Indonesia. (erl/adn)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan