News
·
24 Februari 2021 13:41

Satgas COVID-19 di Bantul Minta Aparat Tindak Tegas Supriyono

Konten ini diproduksi oleh Tugu Jogja
Satgas COVID-19 di Bantul Minta Aparat Tindak Tegas Supriyono  (26306)
Anggota DPRD Bantul, Supriyono, saat menyampaikan permintaan maaf pada relawan. Foto: Erfanto/Tugu Jogja.
Para relawan Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 tingkat kalurahan menunggu tindakan tegas dari aparat kepolisian dan Badan Kehormatan (BK) DPRD Bantul terkait dengan video ceramah anggota DPRD Bantul Supriyono yang telah melukai hati mereka. Sembari menunggu tindakan tegas tersebut, para relawan menyatakan untuk kegiatan pemakaman pasien COVID-19 sementara dihentikan.
ADVERTISEMENT
Koordinator Satgas COVID-19 Kalurahan Bantul, Kuswandi mengatakan, Selasa (23/2/2021) malam pihaknya telah berkomunikasi dengan Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bantul, Waljito. Di mana Waljito mengklarifikasi semua hal yang kemarin terjadi di Gedung DPRD Bantul.
"Saya menghargai dan mengapresiasi langkah Mas Warsito berkenan untuk mengklarifikasi kepada kami sebagai wujud silaturahmi yang baik," ujar Kuswandi, Rabu (24/2/2021).
Pihaknya menghargai dan memutuskan menerima atas klarifikasi dari Ketua FPRB Kabupaten Bantul tersebut. Hal tersebut menjadi tanda permasalahan Satgas COVID-19 dengan FPRB Kabupaten sudah selesai.
Namun ia menandaskan sembari menunggu adanya tindakan tegas dari pihak yang berwenang dalam hal ini kepolisian karena jelas apa yang menjadi statement seorang yang anggota DPRD tersebut sangat melukai hati rakyat yang bergerak di dunia kerelawanan maka kami pihaknya menyatakan pemakaman jenazah infeksius dan lain sebagainya sementara tutup sementara tutup.
ADVERTISEMENT
"Kami menunggu ketegasan dari pihak yang berwenang menyikapi hal tersebut. Jangan sampai terjadi sebuah preseden buruk penegakan hukum itu hanya tajam kebawah tumpul ke atas," tegasnya.
Pihaknya juga berharap lebih Badan Kehormatan DPRD menjelaskan sejauh mana yang dilakukan untuk menangani Supriyono. Jangan sampai hal ini sudah menjadi preseden buruk dan contoh yang tidak baik bagi mereka dan anak cucu mereka.
Pihaknya akan menunggu sampai sejauh mana sejauh perkembangannya karena luka yang mereka derita dari isi ceramah tersebut tidak akan sembuh tanpa obat dari penegakan aturan. Jika tidak ada penegakan aturan maka hal ini akan menjadikan sebuah mosi ketidakpercayaan mereka kepada para pemegang kebijaksanaan.
"Ketika sebuah keadilan itu dicekik maka kami akan lihat bagaimana pengambil kebijakan menyikapinya," ujarnya.
ADVERTISEMENT