Suara Drum Band Bergema saat Dini Hari di Yogyakarta

Daerah Iatimewa Yogyakarta selain terkenal sebagai kota pelajar dan kota wisata, juga terkenal dengan berbagai mitos dan legenda yang menarik. Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta yang semakin disentuh modernisasi, rupanya tidak menghilangkan mitos yang dipercaya warga sampai sekarang.
Mitos menurut Roland Barthes dalam bukunya yang berjudul Mythologies adalah suatu pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat mitos dan bukanlah konsep, gagasan, atau objek. Mitos adalah suatu cara untuk mengutarakan pesan, ia adalah hasil dari wicara bukan dari bahasa. Apa yang dikatakan mitos adalah penting dan memberikan penyamaran bila dimasukkan ke dalam ideologi.
"Mitos mementingkan apa yang harus dikatakan, ia bukan suatu kebohongan ataupun pengakuan melainkan pembelokan. Mitos tidak menyembunyikan apapun, sehingga efektivitasnya menjadi pasti, hanya saja untuk mengungkapkan mitos perlu dilakukan distorsi," tulis Barthes dalam Mythologies.
Pesan dalam mitos tidak perlu ditafsirkan, diuraikan, ataupun dihilangkan. Membaca gambar sebagai simbol misalnya, adalah melepaskan realitas suatu gambaran. Jika ideologi dalam gambar tersebut jelas, maka ia tidak berlaku sebagai mitos. Akan tetapi sebaliknya, agar mitos berhasil maka ia harus tampak sepenuhnya alami.
Sri Iswidayati dalam jurnalnya yang berjudul Fungsi Mitos dalam Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Pendukungnya meneliti bahwa manusia senantiasa berusaha memahami dan menata gejala atau fenomena yang ada di lingkungannya demi kelangsungan hidupnya. Dengan cara mengacu kebudayaan sebagai abstraksi pengalamannya di masa lampau, manusia mencoba untuk mengklasifikasikan fenomena yang ada dan menertibkan dalam alam pikirannya.
"Upaya klasifikasi tersebut tidak terlepas dari kebudayaan yang menguasai pola pikir dan sikap mental yang dimiliki, sehingga mitos merupakan cermin dari suatu kebudayaan pendukungnya," tulis Iswidayati.
Sebagian orang mungkin sudah tahu berbagai macam mitos-mitos yang ada di Yogyakarta. Seperti tidak memakai pakaian berwarna hijau saat mengunjungi Pantai Selatan, melewati dua pohon beringin di Alun-alun Kidul dengan mata tertutup, tidak boleh pergi ke Candi Prambanan saat pacaran, dan lain sebagainya. Ada juga salah satu mitos yang dipercaya oleh warga Yogyakarta lainnya adalah suara drum band yang bergema pada dini hari.
Konon suara drum band yang bergema pada subuh hari itu berasal dari suara genderang pasukan Nyi Roro Kidul yang sedang dalam perjalanan menuju Gunung Merapi dari Laut Kidul atau sebaliknya. Ada juga mitos yang mengatakan suara ini adalah suara genderang pasukan pengawal wilayah Yogyakarta yang kasat mata sedang berpatroli. Bahkan ada juga mitos bagi warga pendatang yang pernah mendengar suara drum band misterius ini tinggal lebih lama di Yogyakarta. Bahkan ada warga pendatang yang malah mendapatkan jodoh warga Yogyakarta.
Meskipun kisah mistis lebih dipercaya oleh sebagian orang, ternyata ada alasan rasional dari suara drum band misterius. Banyak yang meyakini kalau suara drum band tengah malam ini berasal dari para taruna Akademi Angkatan Udara (AAU) yang tengah latihan. Pihak AAU sendiri membenarkan kalau para Taruna ini rutin berlatih drum band saat suasana sepi. Suara drum band dari para taruna ini terbawa angin hingga sampai di berbagai wilayah Yogyakarta. Latihan rutin Taruna AAU ini dilakukan pada pagi hari dari pukul 05.00 hingga 06.00 WIB. Kadang ada juga latihan rutin yang dimulai lebih awal, yaitu sekitar pukul 04.00 atau 04.30 WIB.
Meskipun sebagian dari mereka yang tak percaya dengan cerita takhyul atau mistis meyakini kalau suara drum band itu berasal dari para taruna AAU yang tengah berlatih. Namun ada juga yang meyakini kalau itu suara dari alam lain. Namun ada yang berpendapat bahwa suara drum band pada subuh adalah untuk menyambut pagi.
(Ayu)
