News
·
16 April 2021 14:46

Cetak Generasi Kritikus Film, Sastra Inggris UM Gelar Workshop Film Cricitism

Konten ini diproduksi oleh Tugu Malang
Cetak Generasi Kritikus Film, Sastra Inggris UM Gelar Workshop Film Cricitism (186637)
Workshop kritik film Indonesia diselenggarakan Fakultas Sastra UM. (dok)
MALANG - Kritik film dalam ekosistem perfilman di Indonesia memiliki peran vital. Tak hanya sekedar kritik gagah-gagahan, seorang kritikus film, perlu memiliki dasar pengetahuan, keterampilan dan wawasan yang luas sebelum menulis ulasan film. Hal itu tersaji dalam workshop Film Criticism yang diselenggarakan Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra (FS), Universitas Negeri Malang (UM), (Rabu (14/4/2021).
Cetak Generasi Kritikus Film, Sastra Inggris UM Gelar Workshop Film Cricitism (186638)
Para peserta Workshop kritik film. (dok)
Workshop virtual tersebut diikuti ratusan mahasiswa Jurusan Sastra Inggris. Mayoritas peserta adalah mahasiswa yang saat ini mengambil mata kuliah Film Studies. Workshop tersebut menghadirkan kritikus film dan dosen Binus University, Ekky Imanjaya Ph.D dan Heri Purwoko M.Hum. Kedua narasumber menjelaskan ihwal kritik film, hingga teknik dan ketrampilan menulis atau memberikan ulasan film yang baik.
ADVERTISEMENT
Ketua Panitia Penyelenggara Film Criticism Workshop, Evi Eliyanah Ph.D, berharap kegiatan yang baru pertama kali diselenggarakan ini bisa mencetak generasi baru kritikus film dari UM. Apalagi menurutnya, dunia perfilman saat ini berhadapan dengan perkembangan teknologi informasi.
Cetak Generasi Kritikus Film, Sastra Inggris UM Gelar Workshop Film Cricitism (186639)
“Dimana posting hasil ulasan film jauh lebih mudah, baik di media massa maupun di blog pribadi,” kata wanita yang juga menjabat sebagai Direktur Hubungan Internasional UM tersebut.
Jurusan Sastra Inggris berharap dari workshop semacam ini, akan lahir kritikus beserta karya ulasan film yang berkualitas. Untuk itu, mahasiswa perlu dibekali dengan wawasan dan keterampilan menulis kritik film yang baik – memiliki argumen dan struktur yang jelas, menggunakan bahasa yang baik dan santun, serta menguasai konsep dan teori yang baik. Budaya kritik film yang buruk berpotensi melemahkan industri perfilman. Kritik film memberikan evaluasi dan analisis terhadap film dan medium film itu sendiri. “Penonton film memerlukan insights itu untuk memahami film dengan baik, baik sebagai karya seni maupun produk budaya. Bagi pembuat film, insights yang didapat dari kritik film bisa digunakan sebagai pijakan produksi film berikutnya,” pungkasnya.(ads)
ADVERTISEMENT