kumparan
14 Mar 2019 18:06 WIB

Geger, Warga Lari ke Malang untuk Hindari Kiamat, Polisi Sidak Ponpes

Polisi saat melakukan sidak di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftakul Falakim Mubta'diin, Sukosari, Kasembon, Kabupaten Malang, kamis (14/3). (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugu Malang).
TUGUMALANG.ID-Kepolisian dari Polres Batu mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Miftakul Falakim Mubta'diin yang viral karena adanya kabar kiamat beberapa hari terakhir. Lokasi Ponpes yang dikunjung, kamis (14/3) itu berada di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Kamis (14/3).
ADVERTISEMENT
Kunjungan itu guna meninjau langsung kondisi Ponpes."Kita mencoba mendalami, melihat langsung lokasi ponpes ini dan menurut cerita yang berkembang agak miris. Tapi kan kalau kita lihat ya masih layak sebagai pesantren," kata Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto.
Budi mengungkapkan, Pengasuh Ponpes Muhammad Romli telah mengklarifikasi bila dirinya tidak menyampaikan fatwa kiamat sudah dekat, melainkan menyampaikan ciri-ciri datangnya hari kiamat. Yakni salah satunya tentang jatuhnya meteor.
Suasana Pondok Pesantren (Ponpes) Miftakul Falakim Mubta'diin, Kasembon, Malang.
Sementara itu, terkait penyebar isu fatwa kiamat sudah dekat, Budi mengaku masih melakukan pendalaman. "Nanti masih akan kita tindak lanjuti, termasuk ada informasi terkait penyebar ini masih kita dalami sendiri dari kepolisian polres Batu," kata dia.
"Sudah teridentifikasi tapi masih kita dalami. Apakah yang bersangkutan pernah sebagai jamaah santri ataupun hanya baru mendengar (tentang ponpes)," katanya.
ADVERTISEMENT
Diberitakan sebelumnya, warga desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur digegerkan dengan dengan doktrin kiamat. Akibatnya, sebanyak 16 Kepala Keluarga (KK) di desa tersebut melarikan diri ke Malang. Bahkan, tiga KK yang pindah, menjual rumah dan tanah mereka.
Reporter : Bayu Eka Novanta
Editor : Irham Thoriq
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan