Kisah Rizka Hasnatul, Founder BMJ yang Ubah Jelantah Jadi Berkah

Konten Media Partner
4 Agustus 2022 21:14
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Founder BMJ, Rizka Hasnatul. Foto: dok Rizka
zoom-in-whitePerbesar
Founder BMJ, Rizka Hasnatul. Foto: dok Rizka
ADVERTISEMENT
MALANG - Bagi kebanyakan orang, terutama yang telah menginjak usia kepala tiga, melepaskan pekerjaan dan jabatan bukanlah hal mudah.
ADVERTISEMENT
Namun hal itu tak berlaku bagi Rizka Hasnatul Azizah. Perempuan 32 tahun itu berani memulai usaha meski telah memiliki pekerjaan yang stabil.
Rizka merintis usaha penampungan minyak goreng sisa atau bekas dipakai untuk menggoreng yang biasa disebut jelantah. Usaha ini ia namakan Berkah Minyak Jelantah (BMJ) yang hadir di wilayah Malang Raya.
"Saya sudah jadi admin selama sembilan tahun dengan pekerjaan yang monoton. Saya resmi resign jadi karyawan Oktober 2019," papar Rizka, pada Tugu Malang ID, pada Kamis (4/8/2022).
Monoton, hal itulah yang membuat tekad Rizka bulat menjadi seorang wirausaha. Di samping itu, Rizka ingin menjadi seseorang yang melakukan aktivitas bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk lingkungan sekitarnya.
ADVERTISEMENT
Selama mencari peluang usaha, Rizka aktif di Bank Sampah Malang (BSM). Di sana, ia melihat ada peluang bisnis pada jelantah, limbah yang kerap dibuang oleh para ibu rumah tangga.
Di samping itu, Rizka mengetahui dampak berbahaya pemakaian minyak goreng yang berulang kali pada kesehatan. Jelantah mengandung asam lemak jenuh yang tinggi dan berbahaya bagi tubuh karena dapat memicu berbagai penyakit seperti jantung dan stroke.
Selain buruk untuk kesehatan, jelas dia, jelantah juga berdampak pada lingkungan seperti menyumbat saluran air atau drainase yang berpotensi menjadi tempat tumbuh kembang bakteri.
"Minyak jelantah yang dibuang sembarangan nantinya akan mengalir ke sungai dan berakhir di laut. Hal ini tentu saja menyebabkan pencemaran air," jelas perempuan kelahiran Pasuruan, 21 September 1989 itu.
ADVERTISEMENT
"Nah daripada menjadi penyakit (pada tubuh dan lingkungan), saya sampaikan untuk dikumpulkan dan menjadi tabungan," imbuhnya.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Lalu pada Oktober 2020, Rizka memasukkan BMJ ke dalam unit usaha di BSM. "Saya masukkan ke BSM unit di kampung sendiri dan mudah diterima karena memang dibutuhkan. Lalu berkembang ke unit BSM lainnya se-Kota Malang," ujar warga Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang itu.
Rizka (kanan) bersama tim BMJ. Foto: dok Rizka
zoom-in-whitePerbesar
Rizka (kanan) bersama tim BMJ. Foto: dok Rizka
Setelah mempelajari lebih lanjut soal jelantah, Rizka menemukan bahwa selain menjadi biosolar, jelantah juga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan lilin hias.
"Dan beberapa anggota BMJ pun ada yang pernah membuatnya. Lalu kami berkolaborasi untuk memberikan pelatihan pembuatan lilin hias dari limbah minyak jelantah secara gratis," kenang putri pertama dari Syamsul Arifin dan Dyah Soedarmawati Wahyuningsih itu.
ADVERTISEMENT
Seiring berjalannya waktu, usahanya berjalan lancar. Rata-rata dalam sebulan, dia bisa menerima 600 kilogram jelantah. Bahkan, ia pernah menampung hingga 1,7 ton jelantah. Soal omzet, dia bisa mendapatkan jutaan rupiah per bulannya, tergantung harga jelantah yang kerap naik turun.
Rizka saat mengumpulkan jelantah. Foto: dok Rizka
zoom-in-whitePerbesar
Rizka saat mengumpulkan jelantah. Foto: dok Rizka
Harga jelantah yang naik turun merupakan kendala utama Rizka dalam menekuni usaha ini. "Kadang waktu kulakan harga tinggi, tiba-tiba dijual harga rendah. Jadi mau gak mau harus nimbun dulu sampe harga normal. Uang diem, pengeluaran jalan dan tidak tahu kapan harga akan kembali normal," jelasnya.
Namun, BMJ bisa tetap eksis berkat inovasi-inovasi yang ia lahirkan, salah satunya Tabungan Minyak Jelantah. "BMJ tidak hanya menerima pembayaran secara cash tetapi juga bisa berbentuk tabungan, itu yang disukai ibu-ibu karena untuk mengumpulkan tidak harus menunggu banyak, tapi juga tanpa batas minimal liter karena menjadi tabungan sendiri," jelasnya.
Buku Tabungan BMJ yang dipegang oleh para koordinator jelantah. Foto: dok Rizka
zoom-in-whitePerbesar
Buku Tabungan BMJ yang dipegang oleh para koordinator jelantah. Foto: dok Rizka
Kini, Rizka telah memiliki 50 orang koordinator jelantah di wilayah Malang Raya. "Itu gak termasuk member. Member BMJ ada 40-an," ujarnya. Bahkan BMJ sudah berancang-ancang memperluas bisnisnya ke Yogyakarta.
ADVERTISEMENT
Secara tidak langsung, lewat BMJ, Rizka turut meningkatkan ekonomi dan taraf hidup puluhan koordinator dan membernya yang berasal dari berbagai kalangan dan gender.
Saat ini BMJ tak hanya menerima jelantah saja, namun juga tepung bekas. "Ternyata di lapangan banyak yang membuang limbah tepung itu ke sungai dan juga ada yang dipendam di lahan kosong. Setelah itu saya cari info untuk bisa membeli tepung-tepung itu daripada dibuang yang menyebabkan kerusakan lingkungan," ujarnya.
Rizka berharap, BMJ semakin dipercaya oleh banyak orang sebagai partner untuk menangani jelantah dan tepung sisa gorengan. "Karena orang akan tahu tingginya nilai limbah ini dan kebermanfaatannya. Daripada dibuang ke selokan, kali (sungai), atau dipendam dalam tanah," pungkasnya.