kumparan
KONTEN PUBLISHER
8 Januari 2020 9:39

Malang Bakal Bangun Patung Monumen Pahlawan Hananjoeddin

monumen hannanjoeddin.jpg
Bupati Malang, H Sanusi (tengah) foto bersama usai pembicaraan mengenai pembangunan patung monumen nasional. (Foto: Rizal Adhi/Tugumalang.id)
TUGUMALANG.ID - Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Malang berkolaborasi dengan Pemkab Belitung untuk membangun monumen patung pahlawan nasional H. AS Hananjoeddin di salah satu wilayah Kabupaten Malang.
ADVERTISEMENT
Tujuannya untuk mengenang sekaligus menjadi syarat dari Kementerian Sosial agar sosok yang berjuang melindungi kemerdekaan Indonesia di Malang pada tahun 1945-1949 ini bisa diangkat menjadi salah satu Pahlawan Nasional.
“Dulu sebelum menikah, beliau berjuang dan tinggal di sini. Jadi kita mau buatkan patung monumennya sebagai tanda jasa belau untum Indonesia,” ujar Bambang Sutrisno, salah seorang Panitia Pengusul Pahlawan Nasional pada Selasa (07/01/2020) di Pendopo Kabupaten Malang.
Pemkab Malang sendiri mengusulkan 2 lokasi yang akan jadi pertimbangan pembangunan patung monumen ini. Antara lain Kecamatan Tumpang karena dianggap strategis sebagai jalur wisata gunung Bromo.
“Kedua di Lanud (Lapangan Udara) Abdurahman Saleh. Ini karena beliau kan berjuang di pangkalan Bugis yang sekarang jadi Lanud Abdurahman Saleh. Tapi lihat nanti saja dimana lokasi yang lebih tepat,” jelas Bupati Malang, H. Sanusi.
ADVERTISEMENT
Sosok H. AS Hananjoeddin sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh militer di Indonesia. Ia lahir di Tanjung Tikar, Samak, Badau, Belitung, Kepulauan Belitung pada 5 Agustus 1910.
H. AS Hananjoeddin sempat pindah ke Malang untuk menghindari kejaran Belanda. Hal ini Karena keberadaannya dianggap berbahaya bagi Pemerintah Militer Belanda di tahun 1931.
Di Malang ia bekerja pada Ozawa Butai (Satuan Permukaan Darat Jepang) setelah Belanda menyerah pada Jepang. Ia diangkat sebagai Hancho (Pimpinan Kelompok Pekerjaan).
Setelah Jepang jatuh, H. AS Hananjoeddin bergabung dengan BKR (Badan Keamanan Rakyat) Malang yang didirikan oleh Ir. Soekarno. Kemudian BKR diganti menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia).
Selama di militer H. AS Hananjoeddin bertugas di Pangkalan Bugis (saat ini Lanud Abd. Saleh) sebagai Komandan Order Distrik Militer AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).
ADVERTISEMENT
Selama tahun 1945-1949 H. AS Hananjoeddin berjuang mempertahankan kedaulatan NKRI dari agresi militer Belanda di Malang.
H. AS Hananjoeddin meninggal di Tanjung Pandan, Kepulauan Bangka Belitung pada 5 Februari 1995 saat menginjak usia yang ke-84 tahun.
Reporter : Rizal Adhi Pratama
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan