News
·
17 September 2020 13:23

Pakar Konseling Nilai Pendidik Perlu Meningkatkan Keterampilan Mendengarkan

Konten ini diproduksi oleh Tugu Malang
Pakar Konseling Nilai Pendidik Perlu Meningkatkan Keterampilan Mendengarkan  (36637)
Materi dari Dr Henny Indreswari untuk konselor sekolah.
MALANG- Masa pandemi COVID-19 yang belum berakhir ini masih menumpuk sejumlah permasalahan. Termasuk dalam dunia pendidikan yang harus dipaksa dengan sistem belajar daring. Pakar bidang pengembangan kepribadian dan komunikasi konseling Dr Henny Indreswari mengingatkan tentang perlunya keterampilan mendengarkan dalam menghadapi pembelajaran daring.
ADVERTISEMENT
Henny menyadari jika sistem daring merupakan solusi untuk dunia pendidikan agar tidak menjadi klaster baru COVID-19. Namun, kondisi ini tentu juga akan menimbulkan masalah baru. Salah satunya ialah permasalahan komunikasi. Dikarenakan dalam berinteraksi harus menggunakan media tertentu dalam berkomunikasi.
“Ketika komunikasi menjadi masalah, biasanya hal itu karena perbedaan persepsi atau profil komunikasi yang berbeda,” ungkap Henny dalam Pelatihan Pemanfaatan Teknologi di Masa Pandemi bagi Konselor Sekolah.
Menurutnya, melihat kondisi ini maka keterampilan mendengarkan lawan bicara menjadi sangat penting perlu diperhatikan. Ia menyebut ada enam dasar efektivitas hubungan antarpribadi. Yakni, pikiran positif, kerelaan, kesabaran, merasa senang, kemampuan berbicara, dan kemampuan mendengarkan.
“Sekarang untuk bertemu dengan anak didik harus dengan virtual, banyak hal yang tidak diduga, tetapi harus tetap berkualitas komunikasinya dengan sentuhan psikologis,” imbuh Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM).
ADVERTISEMENT
Ia menerangkan ada perbedaan dalam memaknai kata sekedar mendengar dengan mendengarkan secara mendalam. “Kita mampu atau tidak menjadi sosok yang mampu mendengarkan, karena hearing dan listening mempunyai dimensi yang berbeda,” terang Henny.
Secara detail, Henny menjelaskan apabila hearing ialah sekadar mendengar saja. Akan tetapi, berbeda dengan listening. Ia menjelaskan listening atau kemampuan mendengar secara mendalam ialah kemampuan konselor masuk dalam dunia orang yang kita hadapi bisa oleh konseli, peserta didik, atau kolega lainnya. Hingga kemampuan ini mengantar kita memposisikan diri seperti apa yang dirasakan lawan bicara tersebut.
Hal ini, digunakan untuk membangun kesan positif kepada lawan bicara agar merasa nyaman, dengan cara ada jaminan rasa aman. “Untuk menyampaikan pesan tersebut, maka diperlukan keterampilan mendengarkan menjadi kekuatan utama,” pungkas Henny.
ADVERTISEMENT