News
·
8 September 2020 11:57

Peneliti Ungkap Hasil Kandungan Mikroplastik di Sungai Brantas

Konten ini diproduksi oleh Tugu Malang
Peneliti Ungkap Hasil Kandungan Mikroplastik di Sungai Brantas (390939)
searchPerbesar
Tes kandungan air. Foto: Ben
MALANG - Hasil penelitian kandungan cemaran mikroplastik di dua titik sungai di wilayah Kota Malang telah keluar. Hasil ini datang dari peneliti muda yang terhimpun dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), UIN Surabaya, bersama aktivis lingkungan hidup Ecoton dan Environmental Green Society.
ADVERTISEMENT
Pengambilan sampel dilakukan di dua titik. Yakni di Kali Metro Merjosari dan di Kali Brantas di bawah jembatan Muharto Kedungkandang.
Hasil penilaian cepat (rapid assesment) menunjukkan, kedua sungai positif tercemar mikroplastik.
Untuk kandungan mikroplastik di Sungai Brantas Muharto mengandung 37 partikel mikroplastik per 100 liter air sampel.
Sementara untuk Kali Metro, ditemukan 21 partikel cemaran mikroplastik.
''Di kedua titik sungai semua tercemar mikroplastik berjenis fiber, filamen, dan film. Ini membuktikan bahwa sampah plastik yang menggunung di bantaran sungai telah terdegradasi menjadi mikroplastik,” ungkap Peneliti Mikroplastik UIN Malang, Alaik Rahmatullah, pada Selasa (8/9/2020).
Alaik mengatakan, jenis mikroplastik paling banyak dijumpai berupa fiber. Jenis ini terutama berasal dari serpihan tekstil dari buangan limbah hasil cucian baju yang dibuang disungai.
ADVERTISEMENT
Jenis kedua paling banyak dijumpai berupa filamen yang berasal dari sampah plastik sekali pakai berupa kemasan sachet atau plastik yang memiliki rantai polimer kuat. Seiring waktu kemudian sampah plastik ini terdegradasi menjadi serpihan mikro.
Kendati demikian, kandungan mikroplastik dalam air sungai sesuai Perda Jatim No 2/2008 memang tidak dapat dijadikan sebagai parameter kualitas air.
Namun dari penelitian yang dilakukan di Sungai Brantas, termasuk dari Bumiaji, Sengkaling, Klojen, Kediri, Mojokerto, Jombang, Tulungagung, semua positif tercemar.
Atas dasar inilah, sebenarnya mereka ingin mencari solusi standar toleran baku mutu mikroplastik di perairan.
''Bagaimanapun tetap berbahaya jika masuk ke tubuh manusia. Apalagi, sampai saat ini Sumber Brantas masih digunakan sebagai sumber air minum,'' jelasnya.
ADVERTISEMENT
Dia menjelaskan, mikroplastik dapat berefek negatif bagi kesehatan manusia antara lain dapat menyebabkan gangguan hormon, menurunkan kekebalan tubuh, gangguan sistem saraf, hingga dapat meningkatkan risiko kanker.
Kedepan, pihaknya sangat terbuka untuk berdiskusi lebih lanjut dengan lintas instansi terkait.
Pihaknya juga mendorong Pemkot Malang untuk melakukan pemulihan ekosistem kali dengan menyediakan TPA dan TPS, khususnya di Muharto.
Selain itu, dia juga mendorong kepada produsen mewujudkan Extended Producer Responsibility untuk bertanggung jawab terhadap material produk yang mereka hasilkan saat menjadi sampah.
''Tanggung jawab itu bisa dalam wujud mengedukasi konsumen dalam berbagai cara. Entah menciptakan kemasan non-plastik atau pencantuman bahaya sampah plastik,'' paparnya.
Sebagai informasi, dalam penelitian ini juga didapat hasil pengukuran kualitas air sungai Brantas di wilayah Kedungkandang semakin memburuk. Tingkat pH air sungai terakhir dilakukan pada 2017. Hasilnya 7,8. Artinya masih lebih baik.
ADVERTISEMENT
Namun, dari pengukuran tingkat pH terbaru, didapati tingkat pH-nya semakin memburuk yakni 8,4 dan TDS 300 mg/l. Sangat buruk dari pH normal air sungai sebagai syarat kehidupan yakni 7.
Hasil serupa juga didapat di Kali Metro yakni tingkat pH 8,18 dan TDS 256 mg/l.
Terpisah, Direktur Utama Perum Jasa Tirta (PJT) I, Raymond Valiant Ruritan, menyikapi hasil temuan ini dengan hati-hati.
Menurut dia, perkara mikroplastik tidak dapat disimpulkan hanya dengan contoh air dari beberapa titik saja, lalu kemudian dipakai untuk menggambarkan keseluruhan kondisi yang ada.
Terlebih, mikroplastik masih belum termasuk dalam parameter pemantauan kualitas air untuk baku mutu air sungai sesuai Peraturan Daerah Jatim Nomor 2 Tahun 2008. ''Baru sekitar 2 tahun terakhir ini, mikroplastik ini mengemuka,'' ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Untuk memperoleh pemahaman mengenai kondisi dan dampak dari mikroplastik di Sungai Brantas ini, PJT I akan melakukan penelitian dengan melibatkan metode ilmiah yang teruji.
''Penelitian secara komprehensif guna memperoleh gambaran utuh dan tidak sporadis. Sehingga dapat dijadikan pedoman, untuk mengusulkan indikator baru yang representatif,'' jelasnya.
Dia menjelaskan, mikroplastik adalah semua butiran plastik dengan ukuran lebih dari 5 mm, yang sebagian bisa diamati secara visual. Namun semakin kecil ukurannya maka memerlukan metode yang lebih khusus untuk mengetahui jumlah dan kerapatannya.
''Untuk penelitian secara visual, perlu mikroskop dengan pembesaran setidaknya 100x dan terhadap mikroplastik dengan ukuran <200 mikron memerlukan instrumentasi dengan fourier transform infrared (FITR). Dengan begitu, hasilnya lebih valid,'' terangnya.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, pihaknya akan mengundang para peneliti muda ini untuk memberikan edukasi untuk sama-sama menempatkan persoalan ini secara proporsional dan bersama berikhtiar mengurangi pemakaian plastik.
Raymond menerangkan, pada prinsipnya pencemaran selalu ada jika beban limbah yang memasuki sungai tetap seperti sekarang.
Jadi, menurut dia, solusi pengendalian pencemaran ini harus dimulai dari pengendalian limbah, masyarakat khususnya.