News
·
8 Oktober 2020 9:22

Pertama Kali, UIN Malang Cetak Doktor Penyandang Tunanetra

Konten ini diproduksi oleh Tugu Malang
Pertama Kali, UIN Malang Cetak Doktor Penyandang Tunanetra (90600)
Moh Anas Kholis. Foto: dok
MALANG - Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) berhasil mengukir sejarah baru. Kampus yang terkenal dengan slogan Bilingual University ini, berhasil melahirkan lulusan doktor difabel untuk pertama kali. Dia adalah Anas Kholis, penyandang tunanetra dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
ADVERTISEMENT
"Anas ini Doktor dari UIN Malang yang ke-368. Sejak kampus ini berdiri sampai sekarang, baru kali ini ada doktor difabel," papar Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg.
Haris menambahkan, Anas berhasil meraih gelar Doktor sekaligus mendapat predikat Cum Laude. Dengan judul disertasi Model Pendidikan Fiqih Berwawasan Toleransi dalam Menyikapi Keragaman Mazhab (Studi Kasus di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo).
Pertama Kali, UIN Malang Cetak Doktor Penyandang Tunanetra (90601)
Moh Anas Kholis. Foto: dok
Dalam menyampaikan materi, lanjut Haris, Anas dinilai bagus dan mudah untuk dipahami. "Cara menyampaikan materi serta hasil penelitiannya luar biasa bagus. Hal ini menunjukkan fakultas punya kesempatan yang luar biasa untuk melahirkan atau mencetak para doktor," bebernya.
Sementara itu, Anas menyebutkan, penelitian tersebut muncul dari kegelisahan akademik lantaran fragmentasi ideologi yang terjadi di Indonesia begitu runcing. Kajian akademik tersebut seperti pluralisme atau multikulturalisme.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, kajian itu hanya merespons keragaman di level makro seperti keragaman agama, keragaman budaya, kebhinekaan agama, dan kebhinekaan budaya. Sedangkan keragaman di level mikro seperti kebhinekaan fiqih sebagai sebuah realitas eksis absen untuk dilihat.
"Dalam momentum inilah Pondok Modern Darussalam Gontor mencoba memberikan sebuah alternatif modern tentang bagaimana pendidikan fiqih yang berwawasan toleransi," imbuhnya.
Dia memandang, Gontor relevan untuk memberikan jawaban tantangan friksi keragaman hari ini.(ads)