Petani Apel di Poncokusumo Kabupaten Malang Menyusut Drastis, Tersisa 10 Persen

Konten Media Partner
17 September 2022 17:27
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi pohon apel. Foto/Aisyah Nawangsari
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pohon apel. Foto/Aisyah Nawangsari
ADVERTISEMENT
MALANG - Jumlah petani apel di Poncokusumo, Kabupaten Malang, mengalami penyusutan yang drastis.
ADVERTISEMENT
Dari semua petani yang ada, hanya 10 persen saja yang bertahan mengelola kebun apel. Padahal di tahun 1990an, ada petani apel mendominasi hingga 90 persen dari total petani yang ada di Poncokusumo.
Jumlahnya terus perlahan menurun hingga 70 persen pada masa sebelum pandemi COVID-19. Selama dua tahun pandemi COVID-19, jumlah tersebut langsung merosot tajam hingga 10 persen saja.
Data ini diungkapkan oleh Harianto, Wakil Ketua Unit Pertanian Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang,
"Pas pandemi kan nggak ada kegiatan apa-apa dan pariwisata banyak yang tutup. Apel mulai nggak laku. Kebanyakan yang beli apel kan wisatawan," kata Harianto yang juga petani apel tersebut.
Petani apel dan Wakil Ketua Unit Pertanian Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Harianto. Foto/Aisyah Nawangsari
zoom-in-whitePerbesar
Petani apel dan Wakil Ketua Unit Pertanian Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Harianto. Foto/Aisyah Nawangsari
Penurunan penjualan tersebut mengakibatkan para petani apel mengalami kerugian karena pendapatan mereka tidak bisa menutupi biaya operasional.
ADVERTISEMENT
"Perawatan apel itu susah dan barangnya nggak laku dijual karena tempat wisata tutup. Pendapatannya tidak cukup untuk menutupi operasionalnya," imbuh Harianto.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Oleh karena itu, Harianto menambahkan, para petani apel beralih ke sayur karena sayur merupakan kebutuhan sehari-hari sehingga produknya selalu laku.
Saat ini, meskipun pandemi COVID-19 telah mereda, Harianto melihat belum ada petani yang ingin beralih kembali ke apel. Petani-petani pemula pun tidak ada yang berminat untuk mengelola kebun apel.
"Sekarang belum ada gregetnya. Biasanya menjelang musim hujan seperti ini, para petani pemula atau yang baru mau menaman membutuhkan bibit apel. Tapi sampai saat ini belum ada orang yang mencari bibit apel," kata Harianto yang juga mengembangkan pembibitan apel ini.
ADVERTISEMENT
Ia berharap pemerintah turun tangan agar petani apel di Poncokusumo tidak terbebani modal yang tinggi.
"Pemerintah juga perlu untuk turun tangan dalam mengembangkan apel di Poncokusumo karena apel ini kan ikonnya Malang," kata Harianto.
Ia sendiri mengaku akan tetap menjadi petani apel karena ia merasa apel masih cukup menguntungkan. Selain dijual dalam bentuk apel segar, apel-apel yang bentuknya tidak bagus bisa diolah menjadi keripik apel.
"Kalau menurut saya, apel itu cukup menguntungkan. Tapi mungkin karena masalah permodalan, para petani apel lari ke sayur," tutupnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·