News
·
9 Juni 2021 13:06
·
waktu baca 3 menit

Program Sanimas, Upaya Mengubah Sanitasi di Bantaran Sungai

Konten ini diproduksi oleh Tugu Malang
Program Sanimas, Upaya Mengubah Sanitasi di Bantaran Sungai (456239)
searchPerbesar
Program Sanimas Kota Malang.
MALANG- Komitmen Pemerintah Kota Malang diakui masyarakat makin meningkat seiring ditetapkannya Perda 2 Tahun 2017 tentang Air Limbah Domestik. Wali Kota Malang, Sutiaji, sejak awal getol mengkampanyekan agar kita semakin peduli pada tinja yang dihasilkan. Di antaranya dengan meneken Peraturan Walikota Malang Nomor 32 Tahun 2019 yang menekankan arahan optimalisasi dana kelurahan untuk sanitasi. Terkini, Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT) telah diluncurkan untuk menjawab kebutuhan pengelolaan sanitasi secara aman dalam sistem non perpipaan. Berdasarkan data Dinas PUPR PKP Kota Malang capaian akses sanitasi layak terus meningkat dan telah menyentuh angka 84,12% pada tahun 2020. Artinya Kota Malang makin sejalan dengan mimpi Bebas BABS atau kini sering dikenal dengan 100% Open Defecation Free (ODF)
ADVERTISEMENT
Dalam skala mikro, transformasi wajah sanitasi di Tanjungrejo adalah catatan manis yang diharapkan dapat memotivasi ditengah berbagai tantangan yang masih dihadapi.
Lima tahun berselang sejak awal dirintis, Program Sanimas hasil kolaborasi Kementerian PUPR dengan Kota Malang telah menghadirkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memberikan akses sanitasi layak bagi 158 Kepala Keluarga (KK). Tak berhenti disana, sebanyak 30 titik Tangki Septic Komunal mulai dibangun sejak 2019 telah melayani 10 KK per titik atau total hampir 300 KK.
Program Sanimas, Upaya Mengubah Sanitasi di Bantaran Sungai (456240)
searchPerbesar
Program Sanimas Kota Malang.
Agung Widayanto, fasilitator program Sanimas Kota Malang menuturkan bahwa Tangki Septic Komunal adalah pendekatan baru yang sangat cocok bagi kawasan perkotaan padat penduduk. Dikarenakan praktis tidak memerlukan lahan luas dan mampu mengolah limbah domesik hingga layak buang dan tidak lagi mencemari lingkungan melalui proses biologis yang aman.
ADVERTISEMENT
Pun demikian, beragam fasilitas yang dibangun tak akan berhasil tanpa perubahan mindset dan kesadaran masyarakat. “Pelaksanaannya melibatkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Jadi kegiatan ini namanya Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) yang didampingi oleh fasilitator / pendamping mulai dari merencanakan, melaksanakan, dan mengoperasionalkan dana yang ada,” lanjut Agung.
Program Sanimas, Upaya Mengubah Sanitasi di Bantaran Sungai (456241)
searchPerbesar
“Dulu banyak warga yang langsung membuang ke sungai, termasuk saya,” kata Wowok, Ketua Kelompok Pemanfaat dan Pengelola (KPP) Tanjungrejo Barokah. Ia menuturkan kebiasaan warga RW 02 Tanjungrejo memperlakukan limbah rumah tangga mereka sebelum hadirnya sentuhan program sanitasi berbasis masyarakat (Sanimas).
Sumaji, Ketua RW 02, mengungkapkan beberapa warganya sempat kurang menghendaki pembangunan fasilitas sanitasi dengan alasan tidak ada lahan di sekitar rumah. Alasan lainnya, masyarakat tidak tahu bahwa sanitasi ini kedap dan akan dikuras paling tidak setiap tiga tahun sekali sehingga kuatir terjadi bau tidak sedap di sekitar tempat tinggal mereka. Ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya mengelola limbah secara baik agar tidak mencemari lingkungan turut terungkap sebagai faktor yang mempengaruhi kebiasaan buruk Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Tidak banyak yang menyadari bahwa sanitasi buruk pun memperbesar ancaman kesehatan generasional seperti stunting.
ADVERTISEMENT
Fenomena yang dijumpai di tepian Kali Kasin, Kelurahan Tanjungrejo adalah sebuah potret umum wajah sanitasi kawasan permukiman bantaran sungai di Indonesia yang seyogyanya menggugah kesadaran bersama.
Patut disyukuri bahwa dalam dekade terakhir, kesepahaman untuk memberi perhatian lebih pada aspek limbah domestik dan sanitasi secara umum meningkat di level nasional maupun daerah.
“Masyarakat sudah mulai sadar lingkungan, kebersihan, kesehatan, maupun perilaku hidup sehat sudah berubah”, sambung Wowok.
Transformasi mindset menjadi pembelajaran penting dari praktik kolaboratif pusat, daerah, masyarakat dan lembaga non pemerintah seperti IUWASH dalam mengubah wajah bantaran kali di Tanjungrejo dari wilayah rawan pencemaran limbah domestik menjadi salah satu percontohan sanitasi nasional. Asa pun diapungkan dalam momen hari lingkungan hidup sedunia, agar kita semakin sadar pentingnya kontribusi sanitasi dalam merestorasi ekosistem. (ads)
ADVERTISEMENT