Pencarian populer

Refleksi Ingat Mati hingga Deklarasi Pemilu Damai oleh Kiai dan Santri

Suasana deklarasi Pemilu damai yang digelar oleh Aliansi Aswaja Nusantara dan Aliansi Malang Kondusif, Minggu malam (14/4). (foto: Irham Thoriq/Tugu Malang).

TUGUMALANG.ID - Memanasnya suasana perpolitikan Tanah Air jelang perhelatan Pemilu 2019 pada 17 April mendatang membuat para kiai dan santri di Kota Malang tergerak. Para kiai dan santri yang terhimpun dalam Aliansi Aswaja Nusantara dan Aliansi Malang Kondusif menggelar deklarasi damai di rumah makan Ocean Garden, Jalan Trunojoyo, Kota Malang, Minggu malam (14/4).

Puluhan kiai, gus, dan santri hadir dalam deklarasi yang didahului dengan istigasah dan doa bersama tersebut. Uniknya, sebelum deklarasi juga digelar refleksi mengingat kematian yang dilakukan oleh Gus Ali Mustofa Asady dari Pondok Pesantren Nurul Ulum, Kacuk, Sukun, Kota Malang.

”Bayangkan 15 detik lagi nyawa kita akan dicabut, kita sakaratul maut. Tidak ada yang bisa menolong kita,” kata Gus Ali yang juga Penasehat Laskar Aswaja Nusantara.

Sementara itu, deklarasi dibacakan oleh Ketua Laskar Aswaja Nusantara, Gus Isa Latansa. Setidaknya, ada enam poin yang menjadi penekanan. Pertama adalah menolak ujaran kebencian dan hoaks yang bisa memecah belah bangsa.

Kedua, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan hak pilihnya dan tidak menjadi bagian dari golput. Ketiga, Mendukung terselenggaranya Pemilu damai 2019 yang bermartabat dan berintegritas.

Gus Ali Mustofa Asady (kiri) dan Gus Isa Latansa (kanan) dalam acara deklarasi, Minggu malam (14/4). (foto: Irham Thoriq/Tugu Malang).

Keempat, mendukung TNI dan Polri dalam menyukseskan Pemilu 2019. Kelima, mendukung kedaulatan negara yang Bhinneka Tunggal Ika dan berkeadilan, demi mewujudkan kesejahteraan Bangsa Indonesia.

”Nomor enam, mari kita sukseskan Pemilu 2019 dan semoga pesta demokrasi ini berlangsung dengan aman, damai, dan sukses,” kata Gus Isa Latansa, diikuti puluhan santri yang datang.

Loading Instagram...

Isa Latansa menambahkan, acara deklarasi ini memang ingin mengajak masyarakat berpartisipasi aktif, baik dalam menjaga perdamaian maupun dalam partisipasi memilih.

”Jangan sampai (jadi) golput, eman-eman (sayang) lima tahun sekali,” jelas pengasuh Pesantren Mahasiswa Bengkel Aqidah yang berada di Jalan Mayjend Panjaitan, Kota Malang, itu.

Isa Lantasa menegaskan bahwa gerakan ini adalah gerakan yang bersifat murni demi berlangsungnya Pemilu yang damai. Ia mengaku, gerakan ini tidak ditunggangi kelompok mana pun.

"Dalam undangan saya tegaskan juga, tidak boleh membawa simbol partai, calon presiden dan apapun yang menyangkut dukung mendukung," pungkasnya.

Sementara itu, Gus Ali Mustofa dalam ceramahnya menekankan agar masyarakat tidak tercerai-berai karena pemilu. ”Karena pertolongan Allah tidak akan datang jika kita bercerai-berai,” pungkasnya.

Reporter: Irham Thoriq

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.36